Arsip Bulanan: Juli 2009

Hari ini kang Jan tidak ke pasar. Libur. Meski bukan pegawai negeri, Kang Jan juga punya waktu-waktu libur berdinas di angkringan sederhananya. Biasanya pada jam yang sama Kang Jan sibuk ke pasar. Berbelanja segala kebutuhan ankringan memang selalu dilakukannya sendiri. Para tetangga sering terheran-heran melihat Kang Jan yang sering pulang membawa belanjaan sendiri. Maklum, di kampung Kang Jan ini perempuanlah yang identik dengan berbelanja ke pasar. Baca Lebih Lanjut »

Ada yang lain dari Kang Jan hari ini. Tidak seperti kebiasaannya tidur selepas subuh, pagi ini ia langsung mandi lalu berpakaian rapi. Wewangian pun ia pakai. Sungguh tak biasa. wewangian itu seperti barang kramat bagi Kang Jan, ia hanya menggunakannya pada hari-hari tertentu saja, seperti saat shalat Jum’at atau shalat idul fitri. Istrinya yang tikdak mendapat pemberitahuan soal rencana Kang Jan hari ini pun dibuat keherananan. Bagaimana tidak, tadi Malam Kang Jan tetap memabuka angkringan sampai Jam 2 dan pagi ini dia tidak tidur lagi. Biasanya selepas subuh Kang Jan langsung molor menikmati kasur. Ia tidur sampai jam 8 pagi lalu berangkat ke pasar membeli kebutuhan angkringan.

Tapi pagi ini sungguh berbeda. Tak hanya menggunakan minyak wangi, Kang Jan juga menggunakan batik pamungkasnya. Setelan batik buatan Istri ini bukan batik sembarangan. Dalam setahun belumlah pasti satu kali ia gunakan. Pemberian istri merupakan salah satu barang keramat. Bukan soal bagusnya atau buruknya batik itu, tapi soal penghargaan kepada istrinya. Biasanya Kang Jan hanya menggunakan batik itu saat bepergian bersama istri tercinta. Maklum, meskipun Kang Jan sedikit galak ia terkenal sangat sayang pada istrinya. Di kampung itu nyaris tak ada laki-laki yang mau bekerja di dapur membantu istri selain Kang Jan. Bahkan Pak Kaji soleh yang terkenal paling soleh di kampung karena kedermawanannya saja tidak pernah mau masuk dapur. “itu tugas perempuan, ” tegas Pak Soleh ketika suatu waktu ditanyai tetangga.

“Mau kemana tho, Kang? Kok ndak kayak biasanya pagi-pagi sudah rapi, pakai wewangian dan batik lagi?”, karena sangat bingung Istri Kang Jan akhirnya memberanikan bertanya pada suaminya.

“Ini lho, Bune, aku janjian sama Siwa dan Guntur untuk lihat grebeg syuro. Ini kan satu syura,” Kang Jan menjelaskan.
“Boleh tho, Bune aku pakai batik ini?” lanjutnya.

“Yo ndak opo to Kang. La wong batik itu saya jahitkan yo buat sampean pakai. Bukan pajangan. Kulo langkung remen yen diagem kaleh Panjenengan,” balas si istri dengan senyum yang dalam. Kang Jan tersenyum simpul penuh kebahagiaan menyaksikan ekspresi instrinya. “Bune, aku tolong dibuatkan kopi yo!” pinta Kang Jan.

******

“Bune, aku berangkat,” suara Kang Jan menyeloroh ke dalam rumah setelah menghabiskan secangkir kopi pahit kesukaannya.
Berkendara sepeda unta tahun 70-an yang dibeli di pasar loak Kang Jan menuju rumah Siwa. Mereka bertiga telah membuat janji pertemuan di rumah Siwa sebelum berangkat ke Grebeg Syuro. Rumah Siwa memang letaknya paling strategis tinimbang milik Kang Jan atau Guntur. Rumah Siwa berada di pinggir jalan beraspal, jadi mudah bagi mereka untuk mencari angkutan menuju lokasi perhelatan.

Sesampai di sana Guntur ternyata sudah terlebih dahulu sampai. Ia sudah duduk-duduk dengan Siwa menghadap sepasang cangkir kopi yang sudah habis lebih dari setengah.

“Hayo, langsung berangkat!” pinta Kang Jan sambil memarkir sepeda di pekarangan Siwa.
“Lho, langsungan tho, Kang?” timpal Guntur.

“Lebih baik kepagian dari pada kelewatan acaranya” balasa Kang Jan.
“Sampean ndak pengen ngopi dulu, Kang? Tambah Siwa.

“Ora, Aku Wis ngopi Mau”, timpal Kang Jansambil berlalu. Siwa dan Guntur beranjak dari kursi bambu menghampiri Kang Jan yang sudah berjalan menuju jalan raya.

******

Pagi ini suasana terasa berbeda. Angkutan Jalur X yang biasanya sepi ternyata berulang kali lewat dalam keadaan penuh.
“walah, ini baru Jam setengah 7 kok sudah penuh semua” Siwa mengeluh.

“Sudahlah, sebentar lagi ada yang kosong. kalau nanti tak ada yang kosong kita naik jurusan lain terus oper bus kota sampai alun-alun” balas Kang Jan. Siwa dan Guntur hanya diam seperti setuju.

Tidak terlalu lama, sebuah angkot jalur X muncul dan masih belum terisi semuanya.Mereka bertiga saling melempar senyum lega. Di dalam angkot ternyata ada beberapa orang yang juga berpakaian rapi. Ada yang memakai batik dan kopiah, ada juga yang berkemeja biasa, tapi semuanya rapi. Kang Jan melempar senyum ke beberapa orang yang telah terlebih dahulu berada di angkot.

Tak lupa kang Jan membaca basmalah saat mau duduk di jok angkot. Bacaan itu menarik perhatian seorang laki-laki yang kira-kira berusia 25 tahun. lelaki itu berjenggot agak panjang. Pakaiannya rapi. Kopiah putih bersih menutup kepalanya yang berambut pendek.

“Mau ke mana, Pak?” tanya pemuda berpakaian rapi itu kepada Kang Jan.

“ini, mau ke grebeg syuro, la adik sendiri mau ke mana?” Kang Jan membalas pertanyaan snag apemuda sambil berbasa-basi.
“Mau ke kampus Pak”, balas pemuda itu. “Memang di grebeg itu ada apa saja, Pak? Kok banyak orang yang berbondong-bondong datang ke acara itu?” tambah si pemuda.

“Ya ada macam-macam, dik. Ada doa bersama. Ada pembagian gunungan. heem, masih banyak lagi. Adik ke sana saja biar tahu kegiatan itu,” kang jan menjawab sedikit diplomatis.

“Saya merasa aneh, Pak. Acara itu diisi dengan doa ala agama Islam, sedangkan dalam agama Islam acara itukan tidak ada sama sekali. Rasul tidak pernah memberikan ajaran tentang itu. Bukankah itu bid’ah, Pak?” tanya si pemuda. Tampaknya pemuda itu berani berbicara soal agama setelah mendengar bacaan bismillah dari lisan Kang Jan saat hendak duduk di angkot.
“Lalu apa yang salah, dik?” Pancing Kang Jan.

“Ya itu, Pak. Sesuatu yang dikerjakan tanpa ada rujukan dari agama itu sendiri, itu yang salah. Setahu saya itu bertentangan dengan syari’at agama. Tapi kenapa orang-orang yang beragama Islam justeru menjadi penyelenggaranya”. Eskpresi pemuda itu sangat serius. Ia seperti sedang berhadapan dengan mangsa yang memang harus ditobatkan.

“Itu gejala menurunnya keislaman kita. Sebuah gejala bahwa banyak muslim tidak mengimani Islam secara Kaffah,” tandas pemuda itu penuh tenaga.

Siwa dan Guntur tak banyak berkutik kalau berhadapan dengan situasi seperti ini. bukan karena mereka bodoh, bukan sama sekali. Siwa dan Guntur keduanya lebih sering mengalah dalam situasi seperti ini. Berbeda dengan Kang Jan yang pasti akan berupaya menyelesaikan obrolan sampai tuntas.

“Islam yang benar itu bagaimana, dik?” tanya kang Jan.

“Ya sederhana, Pak. Islam yang asli dikerjakan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Itu saja kuncinya”. Pemuda itu menjawab dengan sangat mantap.

“Dik,” suara Kang Jan meninggi meski tetap dengan eskpresi wajah yang datar. “Saya ini orang Kafir, jadi jangan terlalu menceramahi saya tentang Islam,” jawab Kang Jan.

Sekonyong-konyong raut wajah pemuda itu berubah. Ia tidak menyangka berbicara terlalu banyak dengan orang yang berlainan keyakinan. Muncul dugaan dalam diri pemuda itu bahwa orang yang diajak bicara bukanlah seseorang yang beragama Islam. Tapi Jawaban Kang Jan belum tuntas ternyata.

“Tapi saya ini bukan musyrik, tambah Kang Jan.

Pemuda itu tampak kebingungan. Ia merasa dihadapkan pada pernyataan yang kontradiktif.

“Bagaimana mungkin Anda merasa sebagi kafir tetapi juga merasa bukan musyrik?” tanya pemuda itu dengan nada bingung.
Siwa dan Guntur keduanya hanya tersenyum menahan tawa. Mereka tahu persis watak Kang Jan dan caranya masuk ke dalam sebuah obrolan serius.

“Saya merasa sebagai kafir karena kerendahan hati saya selalu aja mengajarkan saya menyadari bahwa iman saya belum sempurna, dik. Karena itu saya berusaha selalu menyempurnakannya. Saya punya iman yang tidak sesempurna iman adik yang sudah sempurna. Karena itu saya belum bisa mengaku sebagai Muslim yang baik. Saya takut jika ternyata saya secara tidak disadari adalah orang yang tidak beriman.” balas Kang Jan agak Panjang.

“Bukankah kafir itu berarti ingkar Tuhan?” balas pemuda agak gugup. Ia mulai menyadari bobot ilmu orang yang diajak bicara.

“Tidak semudah itu menjadi kafir dan tidak mudah pula menjadi mukmin kaffah, dik. Kata kafara, asal kata kafir itu diulang-ulang dalam bentuk yang beragam dalam al-Qur’an. Jadi maknanya juga beragam. Kafir itu artinya orang yang ingkar. Ada yang menolak yakin adanya Tuhan dan keesaannya, itu hanya salah satu arti. Tapi arti yang lain bisa saja ada. Sebut saja surah Ibrahim yang menggunakan kata kafara bagi orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Artinya belum tentu ia tidak percaya Tuhan, melainkan hanya tidak memiliki sensitivitas untuk berterima kasih kepada Tuhan soal pemberian yang berlimpah.”

Ekspresi pemuda itu serta-merta berubah. Ia baru sadar berhadapan dengan orang yang cukup memahami agama.
“Terus Pak? tanya si pemuda dengan gugup.

“Kekafiran yang paling saya takuti itu ada satu, dik. balas Kang Jan.

“Apa itu, Pak?”

“Kekafiran karena saya mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran soal siapa yang salah dan benar. Apalagi hal tersebut hanya seputar soal furu’iyyah atau sesuatu yang spesifik. Mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran sama halnya menyamakan diri dengan Tuhan yang berkuasa atas kebenaran. Saya takut jika itu terjadi pada saya, maka saya tidak hanya menjadi kafir tapi juga sekaliguis menjadi seorang musyrik yang menjadikan diri sendiri sebagai berhalanya.”

Kang Jan sangat serius menjawab hal tersebut, tampak matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis. Memang ini hal berat untuk diungkapkan kepada khalayak, tapi kali ini Kang Jan merasa perlu.

“Soal grebeg itu furu’iyyah, dik. Itu tak perlu dipermasalahkan dengan kekentalan akidah yang sampai pada menyalahkan. ini cara orang jawa mensyukuri nikmat Tuhan. Gunungan itu hanya simbol keberlimpahan pangan yang harus disebarluaskan dan diratakan. Bukan hura-hura. Karena itu ada do’a supaya orang-orang menyadari bahwa semua itu datangny dari Tuhan. Apakah salah jika orang memilih sebuah cara bersyukur yang paling sesuai dengan kebudayaannya?”

Pemuda itu tercengang seperti sulit untuk menjawab. Tiba-tiba suara Siwa memecah suasana.

“Kang, Ayo. Sudah sampai ini,” Siwa memberitahukan Kang Jan yang tampak masih asyiok memperhatikan raut muka sanga pemuda. Ditepuknya lengan pemuda itu dengan senyum, sambil berpamitan untuk turun duluan. Tak lupa, Kang Jan melafalkan Bismillah saat beranjak dari jok angkutan kumuh itu.

Sang pemuda tetap terdiam.

Yogyakarta, 2 Januari 2008.

Salah satu tradisi yang dapat menghilangkan kosakata bahasa Indonesia adalah penyesuaian (adaptasi) atau penggunaan langsung istilah-istilah ilmiah berbahasa asing di lingkungan pendidikan, terutama perguruan tinggi. Banyak kata yang dapat ditulis atau diujarkan berbahasa Indonesia asli, diterjemahkan atau disesuaikan dengan istilah-istilah asing. Padahal tidak selalu penyesuaian atau penerjemahan tersebut dibutuhkan karena masih ada padanan kata dalam Bahasa Indoensia. Saya tidak bermaksud menuduh lembaga pendidikan bersalah untuk soal ini, tapi hal tersebut adalah bukti tidak terbantahkan.

Dalam proses perkuliahan, saya secara pribadi kerap menemukan istilah-istilah yang digunakan oleh dosen, misalnya, untuk menjelaskan teori tertentu. Padahal beberapa di antaranya masih memiliki padanan dalam Bahasa Indoensia. Misalnya adalah istilah “diskusi kelompok terarah.” Dalam proses belajar saya di kampus dan forum-forum ilmiah, saya lebih sering mendengar istilah ini dalam pengucapan berbahasa Ingrris: “Focus Group Discussion” atau FGD. Fakta lebih buruk yang temukan, terkadang istilah yang digunakan oleh pengajar tidak memperhatikan logika bahasa. Struktur diterangkan-menerangkan yang digunakan dalam Bahasa Indonesia, digantikan secara sembrono menjadi menerangkan-diterangkan.

Dosen dan guru sering kali malas untuk mempelajari soal ini, jadi wajar kalau makalah atau hasil penelitian yang ditulis oleh kaum akademik sering berisi tumpukan bahasa asing. Mari kita mencoba menguji anggitan ini. Coba kita mencari tiga atau empat jurnal penelitian yang diterbitkan oleh universitas atau perguruan tinggi. Lalu, mari kita selidiki apakah anggitan ini tepat. Sejauh pengalaman saya selama ini membaca jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh kalangan pendidikan, anggitan ini saya rasa benar.

Berikut ini beberapa contoh kata-kata yang secara sembrono diterjemahkan atau digunakan dalam dunia pendidikan, yang akhirnya menghilangkan kosakata asli berbahasa indonesia:
1. Alasan  menjadi argumen
2. Suratkabar menjadi newsletter
3. Kegiatan menjadi aktivitas
4. Ilmu hayat menjadi biologi
5. Ilmu jiwa menjadi psikologi
6. Ilmu sosial menjadi humaniora
7. arus utama menjadi mainstream
8. Tanggung gugat menjadi akuntabilitas
9. Bukti menjadi fakta
10. kenyataan menjadi realitas
11. Pemasaran menjadi marketing
12. Anggapan menjadi asumsi,
13. Laporan menjadi raport
14. Menggolongkan menjadi mengklasifikasi
15. Memilah menjadi menyortir
16. Penilaian menjadi evaluasi
17. Perseorangan menjadi individu
18. Hubungan menjadi relasi
19. Akibat menjadi efek
20. Penelitian menjadi riset
21. Tindakan menjadi aksi
selain kata-kata ini, tentu sudah banyak kata yang menghilang dari kosakata Bahasa Indonesia.

Kenapa saya harus mempermasalahkan cara berbahasa di lingkungan pendidikan? jawabannya sederhana: lembaga pendidikan adalah lembaga yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Coba bayangkan, Jika di sebuah fakultas terdapat 50 orang mahasiswa, maka ada 50 orang yang berkemungkinan memiliki kebiasaan (tradisi) berbahasa yang sama. Jika masing-masing mahasiswa tesebut bergaul dengan 3 orang saja, maka sudah 150 orang berkemungkinan tertular kebiasaan berbahasa tersebut. Bayangkan jika 150 orang tersebut bergaul dengan sejumlah orang lain, dan alur pertukaran pengetahuan ini terus berjalan! Seberapa luaskah pengaruh kebiasaan berbahasa yang bruk di perguruan tinggi akan menular di tengah masyarakat?

Mari berpikir dan mengingat, apakah kata asli dalam Bahasa Indonesia untuk kata-kata berikut:
1. Faktor
2. Proses
3. Bulu tangkis
4. Respon
5. Kompleks
6. Aksi
7. Institusi
8. Universitas
9. Strategis
10. Efisien, dll
mungkin banyak di antara orang Indonesia sudah melupakan kosakata asli berbahasa Indonesia untuk istilah-istilah ini.

Berapa banyak kosakata Bahasa Indonesia yang telah hilang dari perbendaharaan kata sehari-hari? Jawabannya, sangat banyak kosakata Bahasa Indonesia yang hilang, terutama dari ujaran dan penulisan keseharian. Hilangnya kosakata itu diduga terkait dengan cara orang Indonesia untuk menggunakan bahasa dan kata itu sendiri.

Kata “tradisi” pada judul tulisan bersambung ini disebabkan karena saya hampir tidak menemukan kata yang tepat untuk menggantikan kata tersebut. Kata tradisi ingin ingin saya gunakan untuk menunjuk sebuah kebiasaan yang terulang-ulang dalam penggunaan bahasa Bahasa Indonesia.

Pertama, orang Indonesia sudah lebih merasa nyaman dan modern jika menyelipkan sisipan kata berbahasa asing, Inggris contohnya. Ini adalah fakta. Kecenderungan ini tak hanya terjadi di obrolan masyarakat sehari-hari, tapi juga di dunia akademik. Dugaan saya, kosakata keinggris-inggrisan atau kebarat-baratan ini lebih banyak diproduksi oleh dunia akademik, baru selebihnya oleh media massa, baik dalam bentuk tulis maupun tutur.

Dalam obrolan dan cara menulis sehari-hari, secara latah orang Indonesia kerap memasukkan kata berbahasa asing secara sangat sembrono. Perhatikan kalimat berikut: “Dalam kajian cultural studies iklan dinilai sebagai salah satu perangkat pembentuk kebudayaan.” Kalimat ini sebenarnya sudah menyalahi nalar kebahasaan itu sendiri. Soalnya, terdapat dua bahasa yang ditulis secara bersamaan dalam satu susunan. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki nalar dan basis logaika yang berbeda (menerangkan-diterangkan;diterangkan menerangkan).

Contoh lainnya adalah: “Pembaharuan masyarakat desa harus dimulai dengan merubah mindset (cara berpikir) masyarakat itu sendiri.” Kalibat barusan sebenarnya sangat menyudutkan bahasa Indonesia. Kata merubah jelas salah sebab yang benar adalah mengubah. Lalu, istilah berbahasa Indonesia diletakkan di dalam tanda kurung dan didahului dengan istilah asing, padahal  kalimat itu bersusunan bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia sudah memiliki aturan khusus terkait dengan pembentukan kosakata. Setiap kosakata harus berasal dan bersumber dari Bahasa Indonesia itu sendiri,jika tidak diketemukan maka harus dilakukan pencarian dari bahasa daerah, dan jika tidak pula didapatkan maka diperbolehkan penggunaan bahasa asing. Penggunaan bahasa asing itu pun harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia.

Penyerapan bahasa asing dengan sangat sembrono terbukti telah memusnahkan kosakata dalam Bahasa Indonesia. Setiap hari mungkin selalu ada kosakata Bahasa Indonesia yang hilang akibat kelatahan-kelatahan yang dipelihara oleh masyarakat dan sistem yang dikelola oleh media massa dan lembaga pendidikan.

Alasan untuk mempertahankan kosakata bahasa Indonesia adalah soal identitas itu sendiri. Kehilangan bahasa berarti sebuah perencanaan untuk menghilangkan kebudayaan itu sendiri. Bagaimanapun bahasa adalah sistem kesadaran dan penandaan (selain waktu) yang paling penting bagi manusia untuk bertahan hidup dan memiliki identitas. Keterlibatan kita dalam penghilangan bahasa Indoensia berarti keterlibatan untuk menghilangkan kebudayaan Indoensia itu sendiri.

Tradisi kedua yang kerap menghilangkan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia adalah penggunaan singkatan secara tidak tepat. Penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan orang tidak mengetahui asal kata atau kata-kata yang menyusun pelbagai singkatan. Apalagi jika kebiasaan untuk menggunakan singkatan tidak diikuti dengan kebiasaan untuk memberikan penjelasan atas singkatan.

Saat makan siang bersama dua orang kawan, kami menemukan sebuah singkatan yang ditulis secara sembrono di sebuah koran lokal di Yogyakarta. Minyak tanah dengan sangat sembrono ditulis dengan singkatan “minah.” Yang lebih merisaukan kami, singkatan tersebut diletakkan sebagai judul yang dicetak dalam ukuran huruf yang besar. semestinya penggunaan singakatan pada tulisan, harus dibarengi dengan penulisan asal kalimat pembentuknya.Sebut saja kata pemilihan umum (pemilu).

Saat berkeinginan untuk menulis sebuah artikel, tulisan atau berita yang banyak menggunakan kata pemilu (berupa singkatan), penulis perlu untuk menuliskan kata-kata asal saat pertama kali kata pemilu digunakan dalam tulisan tersebut. Ketika menggunakan kata pemilu selanjutnya barulah si penulis diperbolehkan menggunakan kata pemilu secara langsung tanpa menuliskan kepanjangan kata tersebut.

Persoalan terbesar dari tradisi menyingkat kata tanpa penjelasan adalah distorsi pengetahuan. Kata Sinetron contohnya. Sinetron adalah singkatan dari sinema elektronik. Karena tersusun dari dua buah kata, maka pengertian sinetron sebagai sebuah perpaduan kata tentu mewakili makna kedua kata penyusunnya. Sinema memilki arti tersendiri, begitu pula elektronik. Perpaduan keduanya menjadi kata sinetron tentu menimbulkan makna berbeda yang tidak secara langsung menghilangkan arti kedua kata asalnya. Penggunaan kata sinetron secara langsung tanpa mengetahui kata asalnya tentu telah mereduksi arti kata sinetron.

Ketika seorang penulis memutuskan untuk menggunakan singkatan dengan terlebih dahulu menjelaskan kata-kata asalnya, sang penulis tersebut telah ikut serta dalam upaya menjaga detil-detil pengetahuan. Semakin detil seseorang memahami suatu pengetahuan, semakin besar kemungkinan pengetahuan tersebut dikembangkan. Sebaliknya, apakah kesalahan dalam perumusan sumber pengetahuan dapat menghasilkan pengetahuan yang tepat?

Dengan lebar geografis yang tidak terlalu luas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit, desa di beberapa propinsi sangat mungkin menjadi titik mula proses demokratisasi. Sebagai bagian terkecil dari adminitrasi pemerintahan formal desa sangat mungkin menjadi pendorong proses demokratisasi akar rumput. Ide ini bermula dari yang sederhana yaitu partisipasi penduduk desa dalam rencana pembangunan desa.

Setiap desa, seperti layaknya perangkat pemerintahan lainnya, tentu memiliki kebijakan yang terkait dengan publik atau masyarakat desa sebagai penerima layanan. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat secara luas mendapat kesempatan mengetahuai pola pelaksanaan kebijakan? Sejauh manakah kebijakan desa yang terkait hajat hidup orang banyak dapat diakses secara terbuka oleh publik?

Desa saat ini tentu berbeda dengan desa pada era orde baru. Di zaman Soeharto desa merupakan salah satu perangkat pengawasan negara atas masyarakat. Jadi wajar kalau ada orang yang mengisi pengajian juga harus diketahuai oleh aparat desa. Di era yang konon reformasi ini seharusnya pengelolaan desa sudah berganti corak dan cara berpikir (paradigma). Desa bukan lagi dikerjakan oleh negara untuk masyarakat, tetapi bermula dari masyarakat untuk masyarakat dan negara. Dengan cara berpikir ini, desa akan dikembalikan sebagai kekuasaan masyarakat yang dikontrol secar kuat oleh masyarakkat.

Beberapa waktu ini sering terdengar di beberap daerah peristiwa kecurangan penentuan peneriama BIaya Langsung Tunai (BLT) yang dibuat oleh perangkat desa, mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya singkat, hal  ini hanya akan terjadi disebuah desa yang masyarakat memiliki kontrol yang lemah atas kinerja aparat desa. Sebaliknya, aparat desa pun adalah orang yang ikut bersalah membiarkan masyarakat kehilangan kntrol atas kinerja mereka.

Dengan konsep demokratisasi desa, penduduk pedesaan akan lebih berpeluang untuk berperan mengawasi atau ikut secara aktif terlibat kegiatan-kegiatan desa yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sudah saatnya masyarakat desa yang sering diidentikkan sebagai orang tidak terdidik memberikan diri memperjuangkan hajat hidup dan kepentingan mereka. Hal ini dapat dilakukan pada beberapa aspek, seperi: (1), aturan pengelolaan pelayanan publik di desa, (2) aturan dan model pengelolaan kas dan keuangan desa, dan (3) sistem pembangunan dan rencana pembangunan desa.

Dengan keterlibatan aktif penduduk desa soal ketiga elemen tadi, maka pembangunan desa akan senantiasa memiliki orientasi lokal. lebih tepatnya pembangunan akan lebih didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang dirasa benar-benar diutuhkan oleh masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif dalam ketiga hal tersebut, desa akan hanya menjadi sebuah model pemerintahan yaang tidak jauh berbeda dengan berbagai struktur pemerintahan lainnya. Desa harus memberanikan diri untuk tampil beda, bahkan di hadapan organisasi pemerintahan lainnya yang kerap mempraktekkan demorasi semu.

Selamat berjuang dari pedesaan.