<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Suara dari kegelapan</title>
	<atom:link href="http://kabartersiar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kabartersiar.wordpress.com</link>
	<description>datanglah.. masuklah ke ruangan ini.. ruangan yang kau sebut kegelapan.. agar segala terang.. baru bermakna</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 12:44:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kabartersiar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Suara dari kegelapan</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kabartersiar.wordpress.com/osd.xml" title="Suara dari kegelapan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kabartersiar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Majlis Muslim Papua: Menebar Benih Perdamaian dan Kerjasama di Tanah Papua</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2010/03/10/majlis-muslim-papua-menebar-benih-perdamaian-dan-kerjasama-di-tanah-papua/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2010/03/10/majlis-muslim-papua-menebar-benih-perdamaian-dan-kerjasama-di-tanah-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 07:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Papua, yang sebelumnya dikenal dengan nama Irian Jaya, adalah propinsi paling timur di Indonesia. Tanah Cendrawasih itulah gelar yang lekat dengan propinsi tertimur ini. Papua tidak hanya kaya akan sumberdaya alam, tetapi juga kaya akan keragaman budaya, agama dan sumberdaya manusia. Tak kurang dari 250 suku asli Papua mendiami pulau yang kaya akan emas ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=259&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Papua, yang sebelumnya dikenal dengan nama Irian Jaya, adalah propinsi paling timur di Indonesia. Tanah Cendrawasih itulah gelar yang lekat dengan propinsi tertimur ini. Papua tidak hanya kaya akan sumberdaya alam, tetapi juga kaya akan keragaman budaya, agama dan sumberdaya manusia. Tak kurang dari 250 suku asli Papua mendiami pulau yang kaya akan emas ini. Pemeluk agama di Propinsi tertimur ini cuku beragamam. Katolik, Kristen, Islam ketiganya adalah agama mayoritas di pulau ini. Selain itu beberapa suku juga masih memeluk agama asli, seperti Suku Marind yang masih juga melaksanakan ritual agama adat Marind.<span id="more-259"></span></p>
<div>Populasi masyarakat Muslim di Papua cukup besar. Kabupaten Merauke, contohnya, masyarakat muslim adalah mayoritas. Tak kurang dari 82.803 pemeluk agama Islam dari keseluruhan 176.578 penduduk Merauke (Data Diambil dari Merauke dalam Angka 2006). Di Kabupaten ini Muslim adalah mayoritas. Di beberapa kabupaten lain, seperti  Raja Empat, Fak-fak, Kaimana jumlah pemeluk agama Islam pun cukup besar. </div>
<div>Masyarakat muslim Papua, sejak tahun 2007, telah memiliki wadah keorganisasian yang menampung dan mengorganisir kegiatan di tengah masyarakat. Organisasi ini bernama  Majlis Muslim Papua (MMP).</div>
<div id="_mcePaste">Menurut Abdul Awwal Gebze, ketua pengurus Wilayah MMP Merauke,  Keberadaan MMP bertujuan untuk membangun kerjasama dengan elemen masyarakat Papua lainnya guna mewujudkan masyarakat Papua yang cerdas, produktif, berakhlak mulia dan mandiri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, MMP berupaya membumikan konsep kasih sayang bagi semesta (rahmatan lil’alamin)  dengan menjadikan beberapa prinsip sebagai acuan prinsipil, yaitu: moderat (tawassuth), tegak (I’tidal), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun) dan asas kebersamaan (tawasyur).</div>
<div>Sejak berdiri MMP mencoba membangun kerjasama yang cukup erat dengan pelbagai lembaga adat dan organisasi keagamaan lainnya di Papua. Melalui kerjasama tersebut, ummat Islam diarahkan untuk dapat bahu-membahu dengan pemeluk agama lain dan masyarakat adat untuk membangun Papua baru yang damai dan demokratis secara bersama-sama. Perbedaan dinilai sebagai sebuah potensi yang saling melengkapi dan bukan ancaman.</div>
<div>Masih menurut  Gebze, masyarakat Muslim, baik pendatang maupun asli, dapat menyatu dan bekerjasama dengan baik bersama masyarakat adat dan pemeluk agama lainnya. Di Merauke, untuk beberapa kegiatan masyarakat, pemeluk agama lain dan masyarakat adat selalu meminta pemuka Agama Islam untuk menjadi pemotong hewan yang digunakan sebagai sajian dalam perayaan adat atau kegiatan masyarakat lainnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat Muslim tetap dapat mengikuti dan menikmati sajian dalam kegiatan masyarakat tersebut. Sebagai contoh lainnya, pada pembangunan rumah ibadah, ummat Islam dan Kristen saling membantu. Begitupun mereka saling menghadiri dalam perayaan agama. Sangat indah tentunya.</div>
<div>MMP kerap pula mengadakan dialog dan kerjasama dengan pemeluk agama lainnya untuk memecahkan pelbagai persoalan di Papua. Dialog juga dilakukan untuk mengurangi kecurigaan antar kelompok yang dapat terjadi. </div>
<div id="_mcePaste">Ditemui di sela AMAN School of Peace Studies and Conflict Transformation di Thailand, Gebze menuturkan bahwa jalan dialog merupakan pilihan utama MMP untuk membangun kerjasama dengan elemen masyarakat di Papua. Pilihan dialog telah diputuskan dalam kegiatan penguatan kapsitas pengurus MMP (upgrading) pada tanggal 21-23 Januari 2010. Meski demikian, dialog telah lama dilakukan sebelum kegiatan tersebut.</div>
<div>“MMP didirikan untuk membangun Papua atas kerjasama antar semua lemen di Papua. Untuk itu kami kerap mengadakan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kapasitas masyarakat Papua baik muslim maupun non-Muslim. Kami tidak mengadakan pengajian, karena organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah melaksanakan kegiatan tersebut. Kami lebih terfokus pada pengembangan kemampuan (skill) masyarakat, ” tegas Gebze. </div>
<div>Dalam bidang pendidikan, MMP mencoba memfasilitasi anak-anak asli Papua untuk mengenyam pendidikan di luar Papua, seperti di beberapa pesantren di Jawa. Generasi ini yang nantinya diharapkan mampu meneruskan pembangunan di Papua.</div>
<div>“MMP menyadari bahwa mempersiapkan generasi yang akan membangun Papua bukanlah tugas yang sesaat dan semata dimiliki oleh ummat Islam. Karena itu MMP tidak akan berhenti bekerjasama dengan elemen lainnya untuk membangun Papua,”  tutup Gebze. (Irsyadul Ibad).</div>
<br />Filed under: <a href='http://kabartersiar.wordpress.com/category/catatan-perjalanan/'>Catatan perjalanan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=259&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2010/03/10/majlis-muslim-papua-menebar-benih-perdamaian-dan-kerjasama-di-tanah-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendukung Demokratisasi Informasi, Infest Luncurkan Program Portal Komunitas</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/09/04/mendukung-demokratisasi-informasi-infest-luncurkan-program-portal-komunitas/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/09/04/mendukung-demokratisasi-informasi-infest-luncurkan-program-portal-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 18:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan internet sebagai salah satu teknologi terkemuka memperluas kemungkinan keteraksesan informasi di tengah masyarakat. Meningkatnya akses internet di tengah masyarakat Indonesia merupakan salah satu peluang bagi organisasi masyarakat sipil untuk mendukung upaya demokratisasi dan pembangunan. Perkembangan sistem pengelolaan isi (content management system/CMS) kini memungkinkan interaksi melalui portal (web) menjadi lebih beragam. Dunia internet yang dulunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=256&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberadaan internet sebagai salah satu teknologi terkemuka memperluas kemungkinan keteraksesan informasi di tengah masyarakat. Meningkatnya akses internet di tengah masyarakat Indonesia merupakan salah satu peluang bagi organisasi masyarakat sipil untuk mendukung upaya demokratisasi dan pembangunan. Perkembangan sistem pengelolaan isi (content management system/CMS) kini memungkinkan interaksi melalui portal (web) menjadi lebih beragam. Dunia internet yang dulunya sebatas teks, kini mampu menampilkan vidio dan audio. Sangat disayangkan jika perkembangan teknologi tersebut tidak digunakan secara maksimal.    <span id="more-256"></span></p>
<p>Bagi organisasi dan komunitas masyarakat sipil, keberadaan internet dapat menjadi alat pendukung untuk memperkuat penginformasian, akuntabilitas dan keterbukaan organisasi. Sayangnya, banyak organisasi masyarakat sipil yang belum memiliki sumberdaya yang mencukupi untuk membangun dan mengelola <a href="http://portalkomunitas.infest.or.id">portal</a>.</p>
<p>Semangat memberikan dukungan pengelolaan informasi melaui portal bagi organisasi dan komunitas masyarakat sipil mendorong Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan, Sosial, Agama dan Kebudayaan (infest) Yogyakarta untuk meluncurkan program portal komunitas. Program portal komunitas diluncurkan untuk memberikan dukungan bagi organisasi dan komunitas masyarakat sipil untuk memiliki portal sekaligus melakukan pengelolaan informasi berbiaya rendah. Program ini juga merupakan salah satu bentuk uapaya penggalangan dana mandiri yang dilakukan oleh infest.</p>
<p>Menurut Fathulloh, penyelia program portal komunitas, program portal komunitas bertujuan untuk membantu organisasi dan komunitas masyarakat sipil untuk memiliki dan mengelola web dengan biaya yang rendah. Selain itu, program ini adalah salah satu bentuk penggalangan dana yang dilakukan infest untuk membiaya pelbnagai program pendampingan masyarakat, seperrti <a href="http://forumwarga.net">Saluran informasi warga (SIWA)</a> dan<a href="http://suaraislam.net"> Saluran Informasi Pesantren (SIP)</a>.</p>
<p>&#8220;Kami ingin memberikan dukungan yang luas kepada rekan-rekan organisasi masyarakat sipil sekaligus membangun kapasitas keuangan organisasi secara mandiri,&#8221; ungkap fathulloh.</p>
<p>Pelbagai informasi tentang program ini dapat diperoleh melalui alamat http://portalkomunitas.infest.or.id</p>
<br />Posted in 1  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=256&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/09/04/mendukung-demokratisasi-informasi-infest-luncurkan-program-portal-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persiapkan Program Sistem Informasi Pesantren, Infest Luncurkan Suaraislam.net</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/09/04/persiapkan-program-sistem-informasi-pesantren-infest-luncurkan-suaraislam-net/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/09/04/persiapkan-program-sistem-informasi-pesantren-infest-luncurkan-suaraislam-net/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 17:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[http://suaraislam.ent]]></category>
		<category><![CDATA[http://suaraislam.net]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[http://suaraislam.net<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=253&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yogyakarta&#8211; Dalam rangka penyiapan program Sistem Informasi Pesantren (SIP), infest Yogyakarta meluncurkan protal <a href="http://suaraislam.net" target="_blank">suaraislam.net</a>. Portal ini disiapkan sebagai saluran informasi yang mendukung penyebarluasan <a href="http://suaraislam.net">kazanah islam</a> nusantara, moderat dan tradisional. <a href="http://suaraislam.net">Suaraislam.net</a> juga diarahkan menjadi sebuah perpustakaan di dunia internet yang mempermudah  para pengguna internet untuk menemukan literatur seputar <a href="http://suaraislam.net">dunia Islam</a>.</p>
<p>Menurut Hilya Auliya, penyelia program ini, suara islam akan didukung oleh pelatihan dan dukungan pengembangan kapasitas pengelolaan informasi bagi <a href="http://suaraislam.net">Pesantren</a>. Dukungan ini diharapkan dapat membantu pesantren untuk mengelola, menciptakan dan menyebarluaskan pengetahuan serta informasi seputar <a href="http://suaraislam.net">Islam dan pesantren</a>.</p>
<p>&#8220;Pemberdayaan pesantren diharapkan mampu mendukung pengembangan pesantren untuk dapat berpartsipasi langsung dalam pengayaan <a href="http://suaraislam.net">khazanah Islam Nusantara</a>,&#8221; Tukas Hilya.  Pendampingan dan penguatan <a href="http://suaraislam.net">kapasitas peantren</a> direncanakan akan mulai dilaksanakan pada bulan Oktober 2009. Pendampingan akan dimulai dengan inisiasi penguatan kapasitas pesantren di wilayah Yogyakarta. (Irsyad)</p>
<br />Posted in serba-serbi Tagged: http://suaraislam.ent, http://suaraislam.net <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/253/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=253&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/09/04/persiapkan-program-sistem-informasi-pesantren-infest-luncurkan-suaraislam-net/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memoar Kang Jan: Ibadah Itu Soal Menikmati</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/31/memoar-kang-jan-ibadah-itu-soal-menikmati/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/31/memoar-kang-jan-ibadah-itu-soal-menikmati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 19:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memoar Kang Jan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini kang Jan tidak ke pasar. Libur. Meski bukan pegawai negeri, Kang Jan juga punya waktu-waktu libur berdinas di angkringan sederhananya. Biasanya pada jam yang sama Kang Jan sibuk ke pasar. Berbelanja segala kebutuhan ankringan memang selalu dilakukannya sendiri. Para tetangga sering terheran-heran melihat Kang Jan yang sering pulang membawa belanjaan sendiri. Maklum, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=250&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini kang Jan tidak ke pasar. Libur. Meski bukan pegawai negeri, Kang Jan juga punya waktu-waktu libur berdinas di angkringan sederhananya. Biasanya pada jam yang sama Kang Jan sibuk ke pasar. Berbelanja segala kebutuhan ankringan memang selalu dilakukannya sendiri. Para tetangga sering terheran-heran melihat Kang Jan yang sering pulang membawa belanjaan sendiri. Maklum, di kampung Kang Jan ini perempuanlah yang identik dengan berbelanja ke pasar.<span id="more-250"></span></p>
<p>Berbelanja ke pasar bukan hal berat bagi pria usia 40 tahuanan ini. Terbukti ritual pergi ke pasar telah dilakoninya sejak pertama membuka usaha angkringan. Para tetangga akhirnya hafal. Jika kang Jan tidak lewat pada jam belanjanya berarti malamnya besar kemungkinan angkringan akan tutup. Jika istri Kang Jan yang berbelanja pasti ada sesuatu dengan Kang Jan, entah sakit, bepergian atau mendapat tamu.</p>
<p>Dulu seorang anak muda pernah bertanya kepada soal kebiasaannya pergi ke pasar. Anak muda itu heran, kenapa laki-laki yang pergi ke pasar dan bukan perempuan. Kang Jan menjawabnya dengan sangat santai: “aku menikahi perempuan yang kini menjadi istriku untuk berbagi peran dan bukan menjadikanku raja.” Titik. Jawabannya tegas yang memutus keberananian si anak muda untuk bertanya lagi.</p>
<p>*****<br />
Libur Kang Jan tidak ditentukan oleh kalender masehi. Bukan soal almanak yang berwarna merah, hijau atau hitam. Hanya kegiatan sosial di lingkungannya yang bisa membuat  Kang Jan libur. Kadang, Kang Jan libur hanya karena selamatan tetangga yang baru punya pedet. Kadang pula karena tetangga ada yang melahirkan, aqiqah, atau meninggal dunia. Pikir Kang Jan, rezeki ada di paseduluran. Kang Jan juga terbiasa meliburkan diri saat hari-hari besar keagamaan diperingati. Katanya, bentuk hormatnya pada kanjeng nabi tercinta.</p>
<p>*****<br />
Kegiatan utama Kang Jan hari ini adalah kerja bakti. Di Masjid depan rumah pak RW nanti malam akan diadakan peringatan isra’ mi’raj. Setiap warga yang beragama Islam hari ini diminta berpartisipasi untuk mempersiapkan peringatan hari besar tersebut. Acara ini memang sudah rutin digelar di kampung ini. Acaranya sederhana. Hanya pengajian sehabis sembahyang isya’ dan makan bersama. Itu saja. Tapi entah mengapa setiap hajatan keagamaan ini</p>
<p>Karena ini adalah hari minggu, tentu tidak berat bagi para tetangga kang Jan yang bekerja sebagai pegawai untuk turut membantu kerjabakti. Ini yang berbeda dengan kang Jan, semestinya malam nanti adalah malam yang cukup menjanjikan untuk berjualan. Biasanya, selepas berekreasi atau bermalas-malas di hari minggu para tetangga mengandalkan hidangan Kang Jan  sebagai sajian pokok makan malam. Omset setiap hari minggu tentu akan berlipat dari biasanya. Tapi Kang Jan tetap saja meliburkan diri. Ia yakin rezekinya tidak akan terganggu hanya karena libur berjualan saat lingkungan membutuhkan atau peringatan hari besar keagamaan dilangsungkan.</p>
<p>Bersama punggawa kampung lainnya Kang Jan bahu membahu mempersiapkan ragam kebutuhan peringatan Isra’ Mi’raj. Mulai dari membersihkan parit, menyiangi rumput, mengecat masjid sampai membersihakan kerak-kerak kotor di kamar mandi dilakukan bersama oleh para bapak. Di rumah Kepala RW, para ibu tak galah gesit. Mereka mempersiapkan ragama suguhan sederhana yang akan dihidangkan di masjid nanti malam. Elok nian pembagian tugas ini.</p>
<p>Tawa dan canda  terdengar riuh dari masjid dan kediaman Pak RW. Suara tertawa keras bapak-bapak seperti tak henti. Apalagi suara Pak Jiman yang terkenal tidak bisa tertawa dengan suara pelan. Suaranya mengungguli suara  bapak-bapak lainnya. Sebaliknya suara cekikan pelan para ibu juga tak kalah riuh. Sesekali terdengar guyonan dan banyolan yang terkadang tidak terlalu lucu tapi dapat dinimati dengan baik oleh kedua rombongan pekerja bakti ini.</p>
<p>*****</p>
<p>Seperti biasa Kang Jan mengambil pekerjaan yang jarang diminati orang lain. Kali ini di kamar mandi. Berbekal sikat kawat dan sabun colek ia menyikati kerak kotoran manusia di lubang WC dan dinding kamar mandi. Di beberapa sisi dinding yang tertutupi lumut kini kembali ke warna asalnya yang putih gamping. WC dan kamar mandi masjid yang biasanya berbau pesing kini beraroma sabun colek. Lumayan, pikir Kang Jan, paling tidak dalam seminggu ini kamar mandi masjid nyaman digunakan untuk berwudlu.</p>
<p>Kang Jan tidak membersihkan kamar mandi masjid sendirian. Siwa, sang pelanggan setia angkringan, ternyata juga setia menemani Kang Jan di kamar mandi. Mahasiswa semester tua ini memang rajin menemani Kang Jan pada setiap kerja bakti. Maklum, sebagai anak kos-kosan ia paling dekat dengan Kang Jan tinimbang dengan warga lainnya.</p>
<p>****<br />
“Kang, “ sapa siwa memulai obrolan.</p>
<p>“Ada apa?” timpal Kang Jan.</p>
<p>“Andai kita dulu diwajibkan sembahyang lima puluh kali sehari, apa jadinya kita? Saya tidak bisa membayangkan betapa repotnya. Untung Kanjeng Nabi Mukamad itu pinter. Beliau mau menerima usulan para nabi yang lain. Jadilah shalat kita cukup lima kali sehari,” siwa mulai berkelakar.</p>
<p>“Yo belum tentu juga kita kerepotan kalau diwajibkan sembahyang lima puluh kali sehari. Toh kita belum tahu bentuk sholat jika akhirnya diwajibkan lima puluh kali sehari,”  balas Kang Jan.<br />
“Masa iya, Kang?” siwa penasaran.</p>
<p>“Iya, kok ngeyel. Lima kali sehari saja banyak yang kerepotan, atau setidaknya merasa direpotkan. Kalau  Cuma sekali sehari juga tidak ada jaminan akan mudah untuk dilakukan,” balas Kang Jan.</p>
<p>“terus?”</p>
<p>“Teras-terus, bobot sembahyang itu bukan soal jumlah, Siwa. Bobot sembahyang itu soal khusyuk. Mahasiswa Universitas agama kok ndak paham,” lanjut Jan.</p>
<p>“Lha, khusyuk itu apa, Kang?” Siwa mulai mencecar dengan pertanyaan.</p>
<p>“Walah, iki maneh. Sederhananya khusyuk itu artinya menikmati. Coba bayangkan, kamu makan di restoran dengan menu yang enak tapi terganggu dengan bising suara music rock yang tidak kamu suka, kira-kira kamu mau kembali ke restoran itu lagi ndak?” Kang Jan Balik bertanya.</p>
<p>“Yo Males, Kang. Kecuali saat terpaksa,” jawab Siwa.</p>
<p>“Nah itu, kamu ndak mau kembali bukan karena makanannya ndak enak to? Tapi karena kamu ndak bisa nikmat melahap panganan enak itu. Kecuali terpaksa. Lah shalat ya seperti  itu. Kalau tidak bisa menikmatinya orang juga akan males, kecuali merasa terpaksa. Karena shalat itu wajib lalu takut sama neraka, orang terus sembahyang,” Kang Jan menjelaskan.</p>
<p>“Terus apa salah jika orang sembahyang karena menggugurkan kewajibannya?” tanya Siwa.</p>
<p>“Siapa yang bilang itu salah, le? Saya ndak bilang. Ini bukan soal salah dan benar. Orang mau sembahyang saja sudah baik. Tapi lebih baik jika sembahyang itu bisa dinikmati,” jelas Kang Jan.</p>
<p>“Sholat itu mudah, Siwa. Tapi menikmatinya yang sulit. Orang butuh belajar banyak untuk menikmatinya,” lanjutnya.</p>
<p>“Tapi bukankah jika sudah cukup syarat dan rukunnya cukuplah sudah yang namanya sembahyang?” Siwa makin menjadi.</p>
<p>“Ya cukup dengan ukuran tertentu. Jika ukurannya fikih maka itu cukup. Jika ukurannya batin belum tentu. Ukuran yang berbeda hasil pengukurannya juga berbeda. Jadi kita tidak bisa samakan sembahyang lima puluh kali dengan lima kali sehari. Ukurannya tentu akan berbeda. Tapi hati-hati, menganut satu ukuran saja itu ndak ilok. Fikih saja bisa menjadi hijab orang ketemu Tuhan,” Kang Jan semakin bergairah mengeluarkan pendapat.</p>
<p>“Waduh, apa-apaan lagi ini, Kang? Kenapa Fikih yang mengatur ibadah justeru menjadi penghalang orang bertemu Tuhaannya?” Siwa bingung dengan ungkapan ini.</p>
<p>“Ya itu, kalau kita hanya memakai satu ukuran ndak ilok. Coba kamu bayangkan. Saat sembahyang kamu sibuk mengatur kaki, memfasihkan bacaan, mengatur tubuhmu sebaik mungkin lalu kamu lupa menikmati sembahyangmu. Nah, ini yang saya maksud bahwa fikih dapat menjadi penghalang. Kesibukanmu menata zhahirmu saat sembahyang bisa-bisa menutupimu dari suasana batin yang semestinya ada pada sembahyang itu,” jelas Kang Jan.</p>
<p>“Terus kita cukup mengedepankan batin saat sembahyang?” sahut Siwa.</p>
<p>“Ya tidak. Coba pahami akar pikiran dari obrolan ini bahwa tidak baik hanya melihat perkara dari satu sisi saja, begitu pun soal sembahyang. Fikih tetap tidak boleh ditinggalkan. Kita tentu tidak boleh sembahyang telanjang. Fikih sudah mengaturnya. Yang kita butuhkan adalah keseimbangan. Itu saja.” Kang Jan menjelaskan lebih lanjut.</p>
<p>“Contoh lainnya, fikih itukan banyak mazhabnya. Setidaknya empat yang kita tahu di sini. Lah, kalau berpikir kaku dan dengan satu ukuran jangan-jangan kita akan beranggapan bahwa orang yang berbeda itu salah, padahal perbedaan fikih hanyalah soal kecil dalam agama.”</p>
<p>“terus?” Siwa semakin penasaran meski mulai mengerti inti obrolan Kang Jan.</p>
<p>“ Contoh lainnya adalah soal bacaan sembahyang. Jika kamu dating ke masjid dan mendapati imam sembahyang tidak fasih, kira-kira kamu mau tetap menjadi makmum atau tidak?’ Kang Jan memancing.</p>
<p>“Menurut fikih tidak, Kang,” balas siwa.</p>
<p>“Itu bukn soal fikihnya, tapi soal dirimu yang menganggap diri lebih fasih. Lagi pula siapa yang menjamin orang-orang fasih lebih khusyuk tinimbang orang tua yang membac al-Qur’an dengan dialek Jawa? Jangan-jangan kesombongan yang mendahului ibadah kita. Bagaimana mungkin kita bisa menikmati ibadah yang didahului kesmobongan?” Kang Jan menjelaskan.</p>
<p>“Ya, Kang. Aku wis paham, Saya harus belajar menikmati ibadah saya” ujar Siwa sembari cengar-cengir.</p>
<p>“Apik kalau begitu. Ya sudah, itu ada satu kamar mandi lagi yang belum dibersihkan. Tolong dibersihkan, ya. Boyokku pegel. Anak muda sepertimu lebih kuat. Saya mau istirahat sebentar.” Lanjut Kang Jan.<br />
“Tapi, Kang?” sahut Siwa.</p>
<p>“Lho katanya mau belajar menikmati? balas Kang Jan sambil berkelakar dan disambut tawa siwa yang tiba-tiba.</p>
<p>*****<br />
Pukul 7 malam. Masyarakat sudah berkumpul di masjid. Jamaah shalat Isya’ dimulai. Imam Isya’ kali ini adalah mbah Kardi. Kakek lima cucu ini hanya bisa membaca al_Qur’an dengan dialek Jawa. Dulu Siwa tak pernah mau menjadi makmumnya. Malam itu ia berada di urutan jamaah terdepan. Di telinganya terngiang kalimat-kalimat Kang Jan. Malam itu malam kelahiran shalat. Siwa ingin punya cara baru menikmati shalatnya.</p>
<br />Posted in Memoar Kang Jan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=250&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/31/memoar-kang-jan-ibadah-itu-soal-menikmati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam Kaffah dan Kekafiran</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/islam-kaffah-dan-kekafiran/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/islam-kaffah-dan-kekafiran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 17:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memoar Kang Jan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang lain dari Kang Jan hari ini. Tidak seperti kebiasaannya tidur selepas subuh, pagi ini ia langsung mandi lalu berpakaian rapi. Wewangian pun ia pakai. Sungguh tak biasa. wewangian itu seperti barang kramat bagi Kang Jan, ia hanya menggunakannya pada hari-hari tertentu saja, seperti saat shalat Jum&#8217;at atau shalat idul fitri. Istrinya yang tikdak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=246&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang lain dari Kang Jan hari ini. Tidak seperti kebiasaannya tidur selepas subuh, pagi ini ia langsung mandi lalu berpakaian rapi. Wewangian pun ia pakai. Sungguh tak biasa. wewangian itu seperti barang kramat bagi Kang Jan, ia hanya menggunakannya pada hari-hari tertentu saja, seperti saat shalat Jum&#8217;at atau shalat idul fitri. Istrinya yang tikdak mendapat pemberitahuan soal rencana Kang Jan hari ini pun dibuat keherananan. Bagaimana tidak, tadi Malam Kang Jan tetap memabuka angkringan sampai Jam 2 dan pagi ini dia tidak tidur lagi. Biasanya selepas subuh Kang Jan langsung molor menikmati kasur. Ia tidur sampai jam 8 pagi lalu berangkat ke pasar membeli kebutuhan angkringan. </p>
<p>Tapi pagi ini sungguh berbeda. Tak hanya menggunakan minyak wangi, Kang Jan juga menggunakan batik pamungkasnya. Setelan batik buatan Istri ini bukan batik sembarangan. Dalam setahun belumlah pasti satu kali ia gunakan. Pemberian istri merupakan salah satu barang keramat. Bukan soal bagusnya atau buruknya batik itu, tapi soal penghargaan kepada istrinya. Biasanya Kang Jan hanya menggunakan batik itu saat bepergian bersama istri tercinta. Maklum, meskipun Kang Jan sedikit galak ia terkenal sangat sayang pada istrinya. Di kampung itu nyaris tak ada laki-laki yang mau bekerja di dapur membantu istri selain Kang Jan. Bahkan Pak Kaji soleh yang terkenal paling soleh di kampung karena kedermawanannya saja tidak pernah mau masuk dapur. &#8220;itu tugas perempuan, &#8221; tegas Pak Soleh ketika suatu waktu ditanyai tetangga.</p>
<p>&#8220;Mau kemana tho, Kang? Kok ndak kayak biasanya pagi-pagi sudah rapi, pakai wewangian dan batik lagi?&#8221;, karena sangat bingung Istri Kang Jan akhirnya memberanikan bertanya pada suaminya. </p>
<p>&#8220;Ini lho, Bune, aku janjian sama Siwa dan Guntur untuk lihat grebeg syuro. Ini kan satu syura,&#8221; Kang Jan menjelaskan. <br />&#8220;Boleh tho, Bune aku pakai batik ini?&#8221; lanjutnya. </p>
<p>&#8220;Yo ndak opo to Kang. La wong batik itu saya jahitkan yo buat sampean pakai. Bukan pajangan. Kulo langkung remen yen diagem kaleh Panjenengan,&#8221; balas si istri dengan senyum yang dalam. Kang Jan tersenyum simpul penuh kebahagiaan menyaksikan ekspresi instrinya. &#8220;Bune, aku tolong dibuatkan kopi yo!&#8221; pinta Kang Jan.</p>
<p>******</p>
<p>&#8220;Bune, aku berangkat,&#8221; suara Kang Jan menyeloroh ke dalam rumah setelah menghabiskan secangkir kopi pahit kesukaannya.<br />Berkendara sepeda unta tahun 70-an yang dibeli di pasar loak Kang Jan menuju rumah Siwa. Mereka bertiga telah membuat janji pertemuan di rumah Siwa sebelum berangkat ke Grebeg Syuro. Rumah Siwa memang letaknya paling strategis tinimbang milik Kang Jan atau Guntur. Rumah Siwa berada di pinggir jalan beraspal, jadi mudah bagi mereka untuk mencari angkutan menuju lokasi perhelatan.</p>
<p>Sesampai di sana Guntur ternyata sudah terlebih dahulu sampai. Ia sudah duduk-duduk dengan Siwa menghadap sepasang cangkir kopi yang sudah habis lebih dari setengah. </p>
<p>&#8220;Hayo, langsung berangkat!&#8221; pinta Kang Jan sambil memarkir sepeda di pekarangan Siwa.<br />&#8220;Lho, langsungan tho, Kang?&#8221; timpal Guntur. </p>
<p>&#8220;Lebih baik kepagian dari pada kelewatan acaranya&#8221; balasa Kang Jan.<br />&#8220;Sampean ndak pengen ngopi dulu, Kang? Tambah Siwa. </p>
<p>&#8220;Ora, Aku Wis ngopi Mau&#8221;, timpal Kang Jansambil berlalu. Siwa dan Guntur beranjak dari kursi bambu menghampiri Kang Jan yang sudah berjalan menuju jalan raya. </p>
<p>******</p>
<p>Pagi ini suasana terasa berbeda. Angkutan Jalur X yang biasanya sepi ternyata berulang kali lewat dalam keadaan penuh. <br />&#8220;walah, ini baru Jam setengah 7 kok sudah penuh semua&#8221; Siwa mengeluh. </p>
<p>&#8220;Sudahlah, sebentar lagi ada yang kosong. kalau nanti tak ada yang kosong kita naik jurusan lain terus oper bus kota sampai alun-alun&#8221; balas Kang Jan. Siwa dan Guntur hanya diam seperti setuju.</p>
<p>Tidak terlalu lama, sebuah angkot jalur X muncul dan masih belum terisi semuanya.Mereka bertiga saling melempar senyum lega. Di dalam angkot ternyata ada beberapa orang yang juga berpakaian rapi. Ada yang memakai batik dan kopiah, ada juga yang berkemeja biasa, tapi semuanya rapi. Kang Jan melempar senyum ke beberapa orang yang telah terlebih dahulu berada di angkot. </p>
<p>Tak lupa kang Jan membaca basmalah saat mau duduk di jok angkot. Bacaan itu menarik perhatian seorang laki-laki yang kira-kira berusia 25 tahun. lelaki itu berjenggot agak panjang. Pakaiannya rapi. Kopiah putih bersih menutup kepalanya yang berambut pendek. </p>
<p>&#8220;Mau ke mana, Pak?&#8221; tanya pemuda berpakaian rapi itu kepada Kang Jan.</p>
<p>&#8220;ini, mau ke grebeg syuro, la adik sendiri mau ke mana?&#8221; Kang Jan membalas pertanyaan snag apemuda sambil berbasa-basi. <br />&#8220;Mau ke kampus Pak&#8221;, balas pemuda itu. &#8220;Memang di grebeg itu ada apa saja, Pak? Kok banyak orang yang berbondong-bondong datang ke acara itu?&#8221; tambah si pemuda. </p>
<p>&#8220;Ya ada macam-macam, dik. Ada doa bersama. Ada pembagian gunungan. heem, masih banyak lagi. Adik ke sana saja biar tahu kegiatan itu,&#8221; kang jan menjawab sedikit diplomatis. </p>
<p>&#8220;Saya merasa aneh, Pak. Acara itu diisi dengan doa ala agama Islam, sedangkan dalam agama Islam acara itukan tidak ada sama sekali. Rasul tidak pernah memberikan ajaran tentang itu. Bukankah itu bid&#8217;ah, Pak?&#8221; tanya si pemuda. Tampaknya pemuda itu berani berbicara soal agama setelah mendengar bacaan bismillah dari lisan Kang Jan saat hendak duduk di angkot.<br />&#8220;Lalu apa yang salah, dik?&#8221; Pancing Kang Jan.</p>
<p>&#8220;Ya itu, Pak. Sesuatu yang dikerjakan tanpa ada rujukan dari agama itu sendiri, itu yang salah. Setahu saya itu bertentangan dengan syari&#8217;at agama. Tapi kenapa orang-orang yang beragama Islam justeru menjadi penyelenggaranya&#8221;. Eskpresi pemuda itu sangat serius. Ia seperti sedang berhadapan dengan mangsa yang memang harus ditobatkan.</p>
<p>&#8220;Itu gejala menurunnya keislaman kita. Sebuah gejala bahwa banyak muslim tidak mengimani Islam secara Kaffah,&#8221; tandas pemuda itu penuh tenaga.</p>
<p>Siwa dan Guntur tak banyak berkutik kalau berhadapan dengan situasi seperti ini. bukan karena mereka bodoh, bukan sama sekali. Siwa dan Guntur keduanya lebih sering mengalah dalam situasi seperti ini. Berbeda dengan Kang Jan yang pasti akan berupaya menyelesaikan obrolan sampai tuntas.</p>
<p>&#8220;Islam yang benar itu bagaimana, dik?&#8221; tanya kang Jan.</p>
<p>&#8220;Ya sederhana, Pak. Islam yang asli dikerjakan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Itu saja kuncinya&#8221;. Pemuda itu menjawab dengan sangat mantap.</p>
<p>&#8220;Dik,&#8221; suara Kang Jan meninggi meski tetap dengan eskpresi wajah yang datar. &#8220;Saya ini orang Kafir, jadi jangan terlalu menceramahi saya tentang Islam,&#8221; jawab Kang Jan. </p>
<p>Sekonyong-konyong raut wajah pemuda itu berubah. Ia tidak menyangka berbicara terlalu banyak dengan orang yang berlainan keyakinan. Muncul dugaan dalam diri pemuda itu bahwa orang yang diajak bicara bukanlah seseorang yang beragama Islam. Tapi Jawaban Kang Jan belum tuntas ternyata.</p>
<p>&#8220;Tapi saya ini bukan musyrik, tambah Kang Jan.</p>
<p>Pemuda itu tampak kebingungan. Ia merasa dihadapkan pada pernyataan yang kontradiktif.</p>
<p>&#8220;Bagaimana mungkin Anda merasa sebagi kafir tetapi juga merasa bukan musyrik?&#8221; tanya pemuda itu dengan nada bingung.<br />Siwa dan Guntur keduanya hanya tersenyum menahan tawa. Mereka tahu persis watak Kang Jan dan caranya masuk ke dalam sebuah obrolan serius.</p>
<p>&#8220;Saya merasa sebagai kafir karena kerendahan hati saya selalu aja mengajarkan saya menyadari bahwa iman saya belum sempurna, dik. Karena itu saya berusaha selalu menyempurnakannya. Saya punya iman yang tidak sesempurna iman adik yang sudah sempurna. Karena itu saya belum bisa mengaku sebagai Muslim yang baik. Saya takut jika ternyata saya secara tidak disadari adalah orang yang tidak beriman.&#8221; balas Kang Jan agak Panjang.</p>
<p>&#8220;Bukankah kafir itu berarti ingkar Tuhan?&#8221; balas pemuda agak gugup. Ia mulai menyadari bobot ilmu orang yang diajak bicara.</p>
<p>&#8220;Tidak semudah itu menjadi kafir dan tidak mudah pula menjadi mukmin kaffah, dik. Kata kafara, asal kata kafir itu diulang-ulang dalam bentuk yang beragam dalam al-Qur&#8217;an. Jadi maknanya juga beragam. Kafir itu artinya orang yang ingkar. Ada yang menolak yakin adanya Tuhan dan keesaannya, itu hanya salah satu arti. Tapi arti yang lain bisa saja ada. Sebut saja surah Ibrahim yang menggunakan kata kafara bagi orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Artinya belum tentu ia tidak percaya Tuhan, melainkan hanya tidak memiliki sensitivitas untuk berterima kasih kepada Tuhan soal pemberian yang berlimpah.&#8221;</p>
<p>Ekspresi pemuda itu serta-merta berubah. Ia baru sadar berhadapan dengan orang yang cukup memahami agama.<br />&#8220;Terus Pak? tanya si pemuda dengan gugup. </p>
<p>&#8220;Kekafiran yang paling saya takuti itu ada satu, dik. balas Kang Jan.</p>
<p>&#8220;Apa itu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kekafiran karena saya mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran soal siapa yang salah dan benar. Apalagi hal tersebut hanya seputar soal furu&#8217;iyyah atau sesuatu yang spesifik. Mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran sama halnya menyamakan diri dengan Tuhan yang berkuasa atas kebenaran. Saya takut jika itu terjadi pada saya, maka saya tidak hanya menjadi kafir tapi juga sekaliguis menjadi seorang musyrik yang menjadikan diri sendiri sebagai berhalanya.&#8221;</p>
<p>Kang Jan sangat serius menjawab hal tersebut, tampak matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis. Memang ini hal berat untuk diungkapkan kepada khalayak, tapi kali ini Kang Jan merasa perlu.</p>
<p>&#8220;Soal grebeg itu furu&#8217;iyyah, dik. Itu tak perlu dipermasalahkan dengan kekentalan akidah yang sampai pada menyalahkan. ini cara orang jawa mensyukuri nikmat Tuhan. Gunungan itu hanya simbol keberlimpahan pangan yang harus disebarluaskan dan diratakan. Bukan hura-hura. Karena itu ada do&#8217;a supaya orang-orang menyadari bahwa semua itu datangny dari Tuhan. Apakah salah jika orang memilih sebuah cara bersyukur yang paling sesuai dengan kebudayaannya?&#8221;</p>
<p>Pemuda itu tercengang seperti sulit untuk menjawab. Tiba-tiba suara Siwa memecah suasana.</p>
<p>&#8220;Kang, Ayo. Sudah sampai ini,&#8221; Siwa memberitahukan Kang Jan yang tampak masih asyiok memperhatikan raut muka sanga pemuda. Ditepuknya lengan pemuda itu dengan senyum, sambil berpamitan untuk turun duluan. Tak lupa, Kang Jan melafalkan Bismillah saat beranjak dari jok angkutan kumuh itu.</p>
<p>Sang pemuda tetap terdiam.</p>
<p>Yogyakarta, 2 Januari 2008.</p>
<br />Posted in Memoar Kang Jan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=246&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/islam-kaffah-dan-kekafiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Akademik Miskinkan Bahasa Indonesia</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/dunia-akademik-miskinkan-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/dunia-akademik-miskinkan-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tradisi yang dapat menghilangkan kosakata bahasa Indonesia adalah penyesuaian (adaptasi) atau penggunaan langsung istilah-istilah ilmiah berbahasa asing di lingkungan pendidikan, terutama perguruan tinggi. Banyak kata yang dapat ditulis atau diujarkan berbahasa Indonesia asli, diterjemahkan atau disesuaikan dengan istilah-istilah asing. Padahal tidak selalu penyesuaian atau penerjemahan tersebut dibutuhkan karena masih ada padanan kata dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=243&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tradisi yang dapat menghilangkan kosakata bahasa Indonesia adalah penyesuaian (adaptasi) atau penggunaan langsung istilah-istilah ilmiah berbahasa asing di lingkungan pendidikan, terutama perguruan tinggi. Banyak kata yang dapat ditulis atau diujarkan berbahasa Indonesia asli, diterjemahkan atau disesuaikan dengan istilah-istilah asing. Padahal tidak selalu penyesuaian atau penerjemahan tersebut dibutuhkan karena masih ada padanan kata dalam Bahasa Indoensia. Saya tidak bermaksud menuduh lembaga pendidikan bersalah untuk soal ini, tapi hal tersebut adalah bukti tidak terbantahkan.</p>
<p>Dalam proses perkuliahan, saya secara pribadi kerap menemukan istilah-istilah yang digunakan oleh dosen, misalnya, untuk menjelaskan teori tertentu. Padahal beberapa di antaranya masih memiliki padanan dalam Bahasa Indoensia. Misalnya adalah istilah &#8220;diskusi kelompok terarah.&#8221; Dalam proses belajar saya di kampus dan forum-forum ilmiah, saya lebih sering mendengar istilah ini dalam pengucapan berbahasa Ingrris: &#8220;Focus Group Discussion&#8221; atau FGD. Fakta lebih buruk yang temukan, terkadang istilah yang digunakan oleh pengajar tidak memperhatikan logika bahasa. Struktur diterangkan-menerangkan yang digunakan dalam Bahasa Indonesia, digantikan secara sembrono menjadi menerangkan-diterangkan.</p>
<p>Dosen dan guru sering kali malas untuk mempelajari soal ini, jadi wajar kalau makalah atau hasil penelitian yang ditulis oleh kaum akademik sering berisi tumpukan bahasa asing. Mari kita mencoba menguji anggitan ini. Coba kita mencari tiga atau empat jurnal penelitian yang diterbitkan oleh universitas atau perguruan tinggi. Lalu, mari kita selidiki apakah anggitan ini tepat. Sejauh pengalaman saya selama ini membaca jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh kalangan pendidikan, anggitan ini saya rasa benar.</p>
<p>Berikut ini beberapa contoh kata-kata yang secara sembrono diterjemahkan atau digunakan dalam dunia pendidikan, yang akhirnya menghilangkan kosakata asli berbahasa indonesia:<br />
1. Alasan  menjadi <span style="text-decoration:line-through;">argumen</span><br />
2. Suratkabar menjadi <span style="text-decoration:line-through;">newsletter</span><br />
3. Kegiatan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">aktivitas</span><br />
4. Ilmu hayat menjadi <span style="text-decoration:line-through;">biologi</span><br />
5. Ilmu jiwa menjadi <span style="text-decoration:line-through;">psikologi</span><br />
6. Ilmu sosial menjadi <span style="text-decoration:line-through;">humaniora</span><br />
7. arus utama menjadi <span style="text-decoration:line-through;">mainstream</span><br />
8. Tanggung gugat menjadi <span style="text-decoration:line-through;">akuntabilitas</span><br />
9. Bukti menjadi <span style="text-decoration:line-through;">fakta</span><br />
10. kenyataan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">realitas</span><br />
11. Pemasaran menjadi <span style="text-decoration:line-through;">marketing</span><br />
12. Anggapan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">asumsi</span>,<br />
13. Laporan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">raport </span><br />
14. Menggolongkan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">mengklasifikasi</span><br />
15. Memilah menjadi <span style="text-decoration:line-through;">menyortir</span><br />
16. Penilaian menjadi <span style="text-decoration:line-through;">evaluasi </span><br />
17. Perseorangan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">individu</span><br />
18. Hubungan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">relasi</span><br />
19. Akibat menjadi <span style="text-decoration:line-through;">efek</span><br />
20. Penelitian menjadi <span style="text-decoration:line-through;">riset</span><br />
21. Tindakan menjadi <span style="text-decoration:line-through;">aksi</span><br />
selain kata-kata ini, tentu sudah banyak kata yang menghilang dari kosakata Bahasa Indonesia.</p>
<p>Kenapa saya harus mempermasalahkan cara berbahasa di lingkungan pendidikan? jawabannya sederhana: lembaga pendidikan adalah lembaga yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Coba bayangkan, Jika di sebuah fakultas terdapat 50 orang mahasiswa, maka ada 50 orang yang berkemungkinan memiliki kebiasaan (tradisi) berbahasa yang sama. Jika masing-masing mahasiswa tesebut bergaul dengan 3 orang saja, maka sudah 150 orang berkemungkinan tertular kebiasaan berbahasa tersebut. Bayangkan jika 150 orang tersebut bergaul dengan sejumlah orang lain, dan alur pertukaran pengetahuan ini terus berjalan! Seberapa luaskah pengaruh kebiasaan berbahasa yang bruk di perguruan tinggi akan menular di tengah masyarakat?</p>
<p>Mari berpikir dan mengingat, apakah kata asli dalam Bahasa Indonesia untuk kata-kata berikut:<br />
1. Faktor<br />
2. Proses<br />
3. Bulu tangkis<br />
4. Respon<br />
5. Kompleks<br />
6. Aksi<br />
7. Institusi<br />
8. Universitas<br />
9. Strategis<br />
10. Efisien, dll<br />
mungkin banyak di antara orang Indonesia sudah melupakan kosakata asli berbahasa Indonesia untuk istilah-istilah ini.</p>
<br />Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=243&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/dunia-akademik-miskinkan-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tradisi yang Menghilangkan Kosakata Bahasa Indonesia (1)</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/tradisi-yang-menghilangkan-kosakata-bahasa-indonesia-1/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/tradisi-yang-menghilangkan-kosakata-bahasa-indonesia-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:19:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Berapa banyak kosakata Bahasa Indonesia yang telah hilang dari perbendaharaan kata sehari-hari? Jawabannya, sangat banyak kosakata Bahasa Indonesia yang hilang, terutama dari ujaran dan penulisan keseharian. Hilangnya kosakata itu diduga terkait dengan cara orang Indonesia untuk menggunakan bahasa dan kata itu sendiri. Kata &#8220;tradisi&#8221; pada judul tulisan bersambung ini disebabkan karena saya hampir tidak menemukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=241&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berapa banyak kosakata Bahasa Indonesia yang telah hilang dari perbendaharaan kata sehari-hari? Jawabannya, sangat banyak kosakata Bahasa Indonesia yang hilang, terutama dari ujaran dan penulisan keseharian. Hilangnya kosakata itu diduga terkait dengan cara orang Indonesia untuk menggunakan bahasa dan kata itu sendiri.</p>
<p>Kata &#8220;tradisi&#8221; pada judul tulisan bersambung ini disebabkan karena saya hampir tidak menemukan kata yang tepat untuk menggantikan kata tersebut. Kata tradisi ingin ingin saya gunakan untuk menunjuk sebuah kebiasaan yang terulang-ulang dalam penggunaan bahasa Bahasa Indonesia.</p>
<p>Pertama, orang Indonesia sudah lebih merasa nyaman dan modern jika menyelipkan sisipan kata berbahasa asing, Inggris contohnya. Ini adalah fakta. Kecenderungan ini tak hanya terjadi di obrolan masyarakat sehari-hari, tapi juga di dunia akademik. Dugaan saya, kosakata keinggris-inggrisan atau kebarat-baratan ini lebih banyak diproduksi oleh dunia akademik, baru selebihnya oleh media massa, baik dalam bentuk tulis maupun tutur.</p>
<p>Dalam obrolan dan cara menulis sehari-hari, secara latah orang Indonesia kerap memasukkan kata berbahasa asing secara sangat sembrono. Perhatikan kalimat berikut: &#8220;Dalam kajian cultural studies iklan dinilai sebagai salah satu perangkat pembentuk kebudayaan.&#8221; Kalimat ini sebenarnya sudah menyalahi nalar kebahasaan itu sendiri. Soalnya, terdapat dua bahasa yang ditulis secara bersamaan dalam satu susunan. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki nalar dan basis logaika yang berbeda (menerangkan-diterangkan;diterangkan menerangkan).</p>
<p>Contoh lainnya adalah: &#8220;Pembaharuan masyarakat desa harus dimulai dengan merubah mindset (cara berpikir) masyarakat itu sendiri.&#8221; Kalibat barusan sebenarnya sangat menyudutkan bahasa Indonesia. Kata merubah jelas salah sebab yang benar adalah mengubah. Lalu, istilah berbahasa Indonesia diletakkan di dalam tanda kurung dan didahului dengan istilah asing, padahal  kalimat itu bersusunan bahasa Indonesia.</p>
<p>Bahasa Indonesia sudah memiliki aturan khusus terkait dengan pembentukan kosakata. Setiap kosakata harus berasal dan bersumber dari Bahasa Indonesia itu sendiri,jika tidak diketemukan maka harus dilakukan pencarian dari bahasa daerah, dan jika tidak pula didapatkan maka diperbolehkan penggunaan bahasa asing. Penggunaan bahasa asing itu pun harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Penyerapan bahasa asing dengan sangat sembrono terbukti telah memusnahkan kosakata dalam Bahasa Indonesia. Setiap hari mungkin selalu ada kosakata Bahasa Indonesia yang hilang akibat kelatahan-kelatahan yang dipelihara oleh masyarakat dan sistem yang dikelola oleh media massa dan lembaga pendidikan.</p>
<p>Alasan untuk mempertahankan kosakata bahasa Indonesia adalah soal identitas itu sendiri. Kehilangan bahasa berarti sebuah perencanaan untuk menghilangkan kebudayaan itu sendiri. Bagaimanapun bahasa adalah sistem kesadaran dan penandaan (selain waktu) yang paling penting bagi manusia untuk bertahan hidup dan memiliki identitas. Keterlibatan kita dalam penghilangan bahasa Indoensia berarti keterlibatan untuk menghilangkan kebudayaan Indoensia itu sendiri.</p>
<br />Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=241&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/tradisi-yang-menghilangkan-kosakata-bahasa-indonesia-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tradisi yang Menghilangkan Kosakata Bahasa Indonesia (2)</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/tradisi-yang-menghilangkan-kosakata-bahasa-indonesia-2/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/tradisi-yang-menghilangkan-kosakata-bahasa-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Tradisi kedua yang kerap menghilangkan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia adalah penggunaan singkatan secara tidak tepat. Penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan orang tidak mengetahui asal kata atau kata-kata yang menyusun pelbagai singkatan. Apalagi jika kebiasaan untuk menggunakan singkatan tidak diikuti dengan kebiasaan untuk memberikan penjelasan atas singkatan. Saat makan siang bersama dua orang kawan, kami menemukan sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=239&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tradisi kedua yang kerap menghilangkan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia adalah penggunaan singkatan secara tidak tepat. Penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan orang tidak mengetahui asal kata atau kata-kata yang menyusun pelbagai singkatan. Apalagi jika kebiasaan untuk menggunakan singkatan tidak diikuti dengan kebiasaan untuk memberikan penjelasan atas singkatan.</p>
<p>Saat makan siang bersama dua orang kawan, kami menemukan sebuah singkatan yang ditulis secara sembrono di sebuah koran lokal di Yogyakarta. Minyak tanah dengan sangat sembrono ditulis dengan singkatan &#8220;minah.&#8221; Yang lebih merisaukan kami, singkatan tersebut diletakkan sebagai judul yang dicetak dalam ukuran huruf yang besar. semestinya penggunaan singakatan pada tulisan, harus dibarengi dengan penulisan asal kalimat pembentuknya.Sebut saja kata pemilihan umum (pemilu).</p>
<p>Saat berkeinginan untuk menulis sebuah artikel, tulisan atau berita yang banyak menggunakan kata pemilu (berupa singkatan), penulis perlu untuk menuliskan kata-kata asal saat pertama kali kata pemilu digunakan dalam tulisan tersebut. Ketika menggunakan kata pemilu selanjutnya barulah si penulis diperbolehkan menggunakan kata pemilu secara langsung tanpa menuliskan kepanjangan kata tersebut.</p>
<p>Persoalan terbesar dari tradisi menyingkat kata tanpa penjelasan adalah distorsi pengetahuan. Kata Sinetron contohnya. Sinetron adalah singkatan dari sinema elektronik. Karena tersusun dari dua buah kata, maka pengertian sinetron sebagai sebuah perpaduan kata tentu mewakili makna kedua kata penyusunnya. Sinema memilki arti tersendiri, begitu pula elektronik. Perpaduan keduanya menjadi kata sinetron tentu menimbulkan makna berbeda yang tidak secara langsung menghilangkan arti kedua kata asalnya. Penggunaan kata sinetron secara langsung tanpa mengetahui kata asalnya tentu telah mereduksi arti kata sinetron.</p>
<p>Ketika seorang penulis memutuskan untuk menggunakan singkatan dengan terlebih dahulu menjelaskan kata-kata asalnya, sang penulis tersebut telah ikut serta dalam upaya menjaga detil-detil pengetahuan. Semakin detil seseorang memahami suatu pengetahuan, semakin besar kemungkinan pengetahuan tersebut dikembangkan. Sebaliknya, apakah kesalahan dalam perumusan sumber pengetahuan dapat menghasilkan pengetahuan yang tepat?</p>
<br />Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=239&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/tradisi-yang-menghilangkan-kosakata-bahasa-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun demokrasi dari desa</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/membangun-demokrasi-dari-desa/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/membangun-demokrasi-dari-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Dengan lebar geografis yang tidak terlalu luas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit, desa di beberapa propinsi sangat mungkin menjadi titik mula proses demokratisasi. Sebagai bagian terkecil dari adminitrasi pemerintahan formal desa sangat mungkin menjadi pendorong proses demokratisasi akar rumput. Ide ini bermula dari yang sederhana yaitu partisipasi penduduk desa dalam rencana pembangunan desa. Setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=237&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan lebar geografis yang tidak terlalu luas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit, desa di beberapa propinsi sangat mungkin menjadi titik mula proses demokratisasi. Sebagai bagian terkecil dari adminitrasi pemerintahan formal desa sangat mungkin menjadi pendorong proses demokratisasi akar rumput. Ide ini bermula dari yang sederhana yaitu partisipasi penduduk desa dalam rencana pembangunan desa.</p>
<p>Setiap desa, seperti layaknya perangkat pemerintahan lainnya, tentu memiliki kebijakan yang terkait dengan publik atau masyarakat desa sebagai penerima layanan. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat secara luas mendapat kesempatan mengetahuai pola pelaksanaan kebijakan? Sejauh manakah kebijakan desa yang terkait hajat hidup orang banyak dapat diakses secara terbuka oleh publik?</p>
<p>Desa saat ini tentu berbeda dengan desa pada era orde baru. Di zaman Soeharto desa merupakan salah satu perangkat pengawasan negara atas masyarakat. Jadi wajar kalau ada orang yang mengisi pengajian juga harus diketahuai oleh aparat desa. Di era yang konon reformasi ini seharusnya pengelolaan desa sudah berganti corak dan cara berpikir (paradigma). Desa bukan lagi dikerjakan oleh negara untuk masyarakat, tetapi bermula dari masyarakat untuk masyarakat dan negara. Dengan cara berpikir ini, desa akan dikembalikan sebagai kekuasaan masyarakat yang dikontrol secar kuat oleh masyarakkat.</p>
<p>Beberapa waktu ini sering terdengar di beberap daerah peristiwa kecurangan penentuan peneriama BIaya Langsung Tunai (BLT) yang dibuat oleh perangkat desa, mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya singkat, hal  ini hanya akan terjadi disebuah desa yang masyarakat memiliki kontrol yang lemah atas kinerja aparat desa. Sebaliknya, aparat desa pun adalah orang yang ikut bersalah membiarkan masyarakat kehilangan kntrol atas kinerja mereka.</p>
<p>Dengan konsep demokratisasi desa, penduduk pedesaan akan lebih berpeluang untuk berperan mengawasi atau ikut secara aktif terlibat kegiatan-kegiatan desa yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sudah saatnya masyarakat desa yang sering diidentikkan sebagai orang tidak terdidik memberikan diri memperjuangkan hajat hidup dan kepentingan mereka. Hal ini dapat dilakukan pada beberapa aspek, seperi: (1), aturan pengelolaan pelayanan publik di desa, (2) aturan dan model pengelolaan kas dan keuangan desa, dan (3) sistem pembangunan dan rencana pembangunan desa.</p>
<p>Dengan keterlibatan aktif penduduk desa soal ketiga elemen tadi, maka pembangunan desa akan senantiasa memiliki orientasi lokal. lebih tepatnya pembangunan akan lebih didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang dirasa benar-benar diutuhkan oleh masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif dalam ketiga hal tersebut, desa akan hanya menjadi sebuah model pemerintahan yaang tidak jauh berbeda dengan berbagai struktur pemerintahan lainnya. Desa harus memberanikan diri untuk tampil beda, bahkan di hadapan organisasi pemerintahan lainnya yang kerap mempraktekkan demorasi semu.</p>
<p>Selamat berjuang dari pedesaan.</p>
<br />Posted in Catatan perjalanan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=237&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/07/22/membangun-demokrasi-dari-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Proyek Percuma Situs Nakertrans Yogyakarta</title>
		<link>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/03/13/proyek-percuma-situs-nakertrans-yogyakarta/</link>
		<comments>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/03/13/proyek-percuma-situs-nakertrans-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 05:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kabartersiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabartersiar.wordpress.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda adalah orang yang berniat mencari informasi seputar ketenagakerjaan dan transmigrasi melalui alamat situs http://nakertrans.jogja.go.id, bersiaplah untuk kecewa. Situs yang dikelola oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmgrasi (Diskertrans) Yogyakarta ini tidak banyak dapat memberikan Anda informasi yang dibutuhkan. Selain berpenampilan minimalis, web dinkertrans Yogyakarta juga miskin informasi. Terbukti dengan masih kosongnya beberapa menu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=234&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Anda adalah orang yang berniat mencari informasi seputar ketenagakerjaan dan transmigrasi melalui alamat situs <a href="http://nakertrans.jogja.go.id/home.php">http://nakertrans.jogja.go.id</a>, bersiaplah untuk kecewa. Situs yang dikelola oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmgrasi (Diskertrans) Yogyakarta ini tidak banyak dapat memberikan Anda informasi yang dibutuhkan.</p>
<p>Selain berpenampilan minimalis, web dinkertrans Yogyakarta juga miskin informasi. Terbukti dengan masih kosongnya beberapa menu yang disediakan dalam web tersebut. Pada menu pelatihan, hanya terdapat 2 file yang sudah kadaluarsa. Menu Ide Warga hanya terisi 6 tulisan. Beberapa menu lainnya hanya berisi pengumuman bahwa menu tersebut belum terisi tulisan apapun. Bakan kedua link yang disajikan belum berfungsi dengan sempurna. Link tersebut akan merujuk ke halaman terakhir yang dibuka jika diklik. Tercatat perubahan terakhir yang terjadi pada web ini hanya terjadi pada bulan Juni tahun 2008. Sungguh disayangkan.</p>
<p>Sebagai situs yang dikelola oleh institusi pemerintah, <a href="http://nakertrans.jogja.go.id/home.php">http://nakertrans.jogja.go.id</a> seharusnya dapat dikelola lebih professional. Bagi instansi pemerintah, situs seyogyanya tidak difungsikan sebagai alat untuk memamerkan teknologi semata. Situs adalah bagian tidak terpisahkan dari pelayanan kepada masyarakat. Keberadaan situs instansi pemerintah tidak boleh dipandang sebelah mata, karena itu pengelolanya harus lebih serius dalam pengelolaan.</p>
<p>Situs pemerintah sangat terkait dengan akses informasi masyarakat terhadap layanan. Semenara informasi layanan adalah hak masyarakat yang harus disediakan oleh instansi pemerintah. Ketidakseriusan memberikan informasi kepada publik mengarah pada ketidakseriusan memberikan pelayanan.</p>
<p>Dinkertrans yang banyak berhubungan dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri seharusnya dapat memaksimalkan fungsi situs. Situs adalah salah satu media paling efektif untuk memberikan informasi kepada TKI. Setidaknya, situs ini memberikan informasi dasar yang dibutuhkan oleh TKI, seperti kontak dalam kondisi darurat, informasi tentang kebudayaan negara tujuan, dll.</p>
<p>Selain itu, situs semestinya dikelola secara dinamis agar berbagai isi yang ditampilkan selalu sesuai dengan kebutuhan masyarakat penerima layanan. Setidaknya ada dua 3 informasi penting yang harus selalu diperbaharui oleh pengelola situs dinkertrans, yakni berita, informasi bantuan bagi penerima layanan dan data-data peraturan pemerintah seputar ketenagakerjaan dan transmigrasi.</p>
<p>Pembiaran situs <a href="http://nakertrans.jogja.go.id/home.php">http://nakertrans.jogja.go.id </a>tanpa perawatan yang jelas sama halnya dengan pemborosan keuangan negara (daerah). Jika dihitung, meurut kalkulasi penulis, setidaknya dibutuhkan Rp. 100.000 untuk peletakkan data-data situs (web hosting) setiap tahunnya dan pembelian domain yang berkisar Rp. 150.000. Belum lagi jika menghitung pembiayaan desain situs jika diserahkan kepada pihak ketiga (berbentuk proyek pembuatan situs).</p>
<p>Kenapa negara (daerah) harus membayar ongkos pekerjaan yang sia-sia?</p>
<p>irsyadul ibad</p>
<br />Posted in opini  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kabartersiar.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kabartersiar.wordpress.com/234/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kabartersiar.wordpress.com&amp;blog=2626279&amp;post=234&amp;subd=kabartersiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabartersiar.wordpress.com/2009/03/13/proyek-percuma-situs-nakertrans-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/52e5990f28281e98afdad92e9d38495d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Irsyad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
