Skip navigation

Kutahu namanya sebelum gempa merusak hampir setengah kotaku. Tapi setelah kejadian itu ia menjadi semakin terkenal. Seperti goncangan gempa yang sekejap menghapus rumah-rumah dari peta satelit, seperti itu ia menjadi sangat terkenal. Para penduduk kampung tempat ia tinggal dan kampung sekitarnya sangat mengidolakan lelaki berusia 40 tahunan itu.


Pertama kali aku bertemu dengannya ketika ia menjadi penceramah di malam penutupan pelatihan organisasiku di kampus. Saat itu ratusan mata perserta pelatihan dan penduduk tempat kegiatan tertuju padanya. Tak terkecuali aku. Ia tampil sangat atraktif sambil membawakan pesan-pesan agama. Bagiku, mungkin juga bagi sebagian penduduk ini adalah gaya baru pengajian. Penceramah tidak hanya duduk menghadap buku “contekan” materi pengajian, lebih dari itu, ia mampu berakting cukup baik. Sesekali berdiri dari kursi mendekati para pendengar dan membawakan cerita-cerita yang menggelitik. Aku yang jenuh dengan kebanyakan gaya pengajian ikut terhipnotis dan enggan melewtkan pengajian satu itu. Bahkan ketika perutku terasa sakit karena menahan kencing tetap kupaksakan tak beranjak sedikitpun dari kursi. Pikirku, kencing bisa nanti kulakukan, tapi pengajian ini belum tentu nanti dapat kusaksikan.

Pengajian itu memberi kesan dalam kepadaku. Sampai ketika aku bertemu seorang kawan yang memintanya menjadi penceramah acara itu, tak kulewatkan kesempatan bertanya kepadanya. Aku sangat ingin tahu tentang orang itu. Kekagumanku tak terbendung sampai kulewatkan malam mendengar kisahnya dari kawanku yang penuh gairah bercerita.

Dari kawan itu kutahu ia biasa dipanggil abah. Wah, gelar yang tak asing di telingaku. Panggilan yang ditujukan kepada orang yang dituakan dan dianggap alim beragama. Bukan main. Kekagumanku bertambah. Apalagi setelah kawanku bercerita tentang kemampuannya membaca pikiran orang lain. “Hati-hati jika kau ke sana sementara hatimu tidak bersih, aku khawatir segala keburukanmu pasti akan terkuak” tegasnya begitu bersemangat. “Jangan pula kau mencoba berniat buruk apapun, jika itu kau lakukan biasanya ia akan memintamu pergi”

Kawanku itu juga bercerita tentang kesalihan Abah. Katanya, Abah adalah orang yang rajin bersembahyang tahajjud serta ibadah sunnah lainnya. Ibadah wajibnya pun sangatlah tertib. Ia tidak pernah mau menerima barang-abarang syubhat. Ia rajin berpuasa dan rajin memberi ceramah di masyarakat bahkan sampai ke pelosok kampung. Ia adalah panutan yang baik. Menurut kawanku satu ini pula, bahwa Abah adalah tokoh yang pantas untuk menjadi contoh di saat banyak pimpinan agama tergiur oleh gemerlap dunia. Abah sangat sabar, pandai berbicara dan jujur. Bahkan istrinya pun sering bercerita kepada kawanku tentang kejujuran Abah sejak masa mudanya.

Berbagai cerita itu kupercaya begitu saja. Bagaimanapun aku belum pernah berbicara langsung kepadanya. Mendengar ceramahnya saat acara penutupan kegiatan pelatihan organisasi itu adalah pertama kali aku mendengar suaranya, setelah itu entah kapan lagi. Aku tak tahu. Tapi aku benar-benar merasa harus mempercayai kawanku. Ia selama ini dikenal dekat dengan Abah, bahkan dapat disebut sebagai orang terdekatnya. Selain itu, performa Abah dan gaya bahasa saat membawakan ceramah benar-benar menyulapku. Jika mengingat cara ia membaca ayat-ayat kitab suci dengan begitu fasih dan merdu membuatku tak memiliki pilihan lain selain mempercayai kawanku itu.

Kekagumanku semakin tak terkendali mulai saat itu. Tapi setiap kali bepikir untuk menemuinya, selalu saja aku merasa tidak percaya diri. Aku merasa seperti orang kotor yang bergelimang dosa. Aku takut jika nanti keburukan-keburukan masa laluku terkuak sementara aku belum siap untuk menyadarinya diketahui orang lain. Akhirnya kuputuskan untuk mengidolakannya dari kejauhan. Dari cerita teman-temanku yang semakin banyak menjadi oranng dekatnya.

***

Enam bulan setelah pengajian abah yang kukagumi itu. Suatu malam, setelah jenuh mengerjakan tumpukan tugas kuliah, kukunjungi warung angkringan1 langganan yang tak jauh dari tepat tinggalku. Aku memang biasa ke tempat ini, apalagi jika sedang menghadapi masalah pelik yang tak bisa kuputuskan dengan tergesa-gesa. Memang pedagang nasi kucing2 ini tidak bisa secara langsung memberi solusi untuk masalah-masalahku. Aku hanya suka pada keramahan dan kata-kata bijak yang sering terlontar darinya.

Seperti biasa, obrolan kami sangat hangat. Ditemani tembang-tembang Jawa dari radio butut, kureguk teh jahe dari cangkir kaleng yang tampak sudah saatnya diganti. Malam itu, Mang Karim –begitu biasanya aku memanggil tukang angkringan ini- bercerita kepadaku tentang arti kesederhanaan. Baginya, hidup seadanya seperti yang ia jalani jauh lebih baik tinimbang hidup berlimpah harta dari hasil kejahatan apapun. “Mas, Barang titik iku lek halal luwih apik timbangane barang karom sing akeh” ia menceramahiku. “sejatine, mangan ayam karom iku pada karo mangan belatung. ora berkah mas. Lan wong sing mangan barang karom iku, biasane sirahe dadi endas kirik

Aku hanya tertawa mendengar kalimat terakhir Mang Karim. Kukira ia pasti bercanda. Bagaimana mungkin seseorang di dunia nyata bisa berkepala anjing. Mustahil. Itu hanya akan terjadi di film-film misteri yang bercerita siluman atau mutan. Tapi cerita lelaki sebaya kakekku ini tidak berhenti di sana. Inilah yang paling kusuka dari Mang Karim, ia selalu punya sesuatu yang belum pernah kudengar. Kali ini Mang Karim meyakinkanku tentang hakikat perbuatan manusia. Segala kebajikan akan kembali kepada setiap pelakunya, begitupun kejahatan. Mungkin tiap orang bisa menyembunyikan keburukan perangainya tapi Tuhan mboten sare, Ia akan membalas sesuai ukuran perbuatan manusia. Katanya, manusia itu hanya bisa menilai kelakuan segala yang tampak, jadi setiap orang berkemungkinan bersandiwara agar dinilai baik oleh orang lain. Di balik segala kelakuan, ada kesejatian tersembunyi. Nah, kesejatian itulah, menurut Mang Karim, yang harus dijaga agar tidak terjerumus pada kesejatian yang tidak dikehendaki Tuhan.

Sebetulnya aku bingung mendengar cerita Mang Karim malam ini. Cerita kesejatian hidup ini pertama kali kudengar darinya. bagiku selama ini, mengerjakan ibadah adalah melepas segala kewajiban agama dan aku tak pernah peduli atas kesejatian apapun. Jika aku sudah beribadah, logisnya, aku akan menerima ganjaran pahala dan memiliki kemungkinan besar menempati firdaus hadiah dari Tuhan. Tapi Mang Karim membentakku saat kuutarakan hal ini semua. Katanya, belumlah tentu yang tampak baik adalah kebaikan. bisa jadi sesuatu yang kita anggap baik sebenarnya adalah keburukan, kejahatan atau jenis-jenis yang sebenarnya tidak dikehendaki Tuhan.

Berbagai pertanyaan masih mengganjal di kepalaku. Jangan-jangan, aku mulai mencurigai, segala pekerjaan beragamaku selama ini adalah sia-sia. Sudahlah, Kuputuskan beranjak dari angkringan itu sebelum kepalaku bertambah pusing karena jejalan cerita Mang Karim. Ya, aku meraa tidak siap mendengar perkataan Mang Karim yang satu ini.

***

Sehari setelah gempa meluluhkan kotaku, aku mendaftarkan diri menjadi relawan kemanusiaan di sebuah posko yang tak jauh dari kontrakanku. Menangani korban bencana alam adalah pengalaman pertama. Mungkin itulah yang membuatku sangat bersemangat mengerjakan hampir segala pekerjaan yang ditugaskan pimpinan posko kepadaku. Tak tanggung-tangung, mulai menjadi supir, pengangkat barang, pemandu tamu bahkan tugas-tugas kesekretariatan kulakukan dengan bersemangat. Kupikir inilah saat yang tepat mengabdikan diriku untuk orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kalau tidak sekarang kapan lagi kudapat kesempatan seperti ini.

Seminggu pertama setelah gempa adalah yang tersulit, bagiku juga bagi rekan-rekan kerjaku di posko. Kami harus mengirimkan barang-barang bantuan para donatur kepada para korban yang terletak di daerah pelosok dan tempat-tempat terisolir. Dalam kondisi yang tidak menentu kami harus memasuki kampung-kampung yang luluh lantah. Bahan makanan, obat-obatan dan tenda harus segera sampai di tangan penduduk yang kehilangan rumah mereka. Sementara di tengah jalan, sebelum sampai di kampung tujuan terkadang kami harus menghadapi hadangan masyarakat di jalan utama menuju tujuan yang juga meminta bantuan. Kami harus maklum, kondisi seperti ini membuat setiap orang harus berpikir tentang dirinya atau orang-orang terdekatnya. Kondisi yang sangat manusiawi tentunya.

Di pelosok-pelosok kampung, kulihat mata-mata yang penuh ketegangan. Mata yang mengalami luka dalam yang mungkin sulit terobati. Ibu-ibu yang kehilangan anak mereka, para penduduk yang kehilangan rumah dan anak-anak yang kebingungan mencari naungan dan perlindungan. Tapi kulihat cahaya ketegaran di mata mereka. Mereka yang terbiasa menghadapi kehidupan sederhana tidak akan terlalu terpuruk akibat kejadian ini. Mata mereka memancarkan sinar harapan yang jauh menembus waktu dan berani bersitatap dengan kejadian tak terduga yang mereka hadapi. Berbeda dengan mata-mata yang sering kulihat di televisi. Mata limbung yang penuh sandiwara menjanjikan berbagai hal. Mata yang bersembunyi di balik cara berbicara.

***

Dalam sebuah kesempatan aku bertemu dengan kawan lamaku di sebuah forum lembaga-lembaga donor. Ia mengingatkan pada sosok Abah yang dulu diceritakannya. Kabarnya saat ini ia bergabung dengan posko Abah untuk membantu korban bencana alam. Ceritanya tentang Abah masih seperti dulu, menyentuh langit-langit kamar dan keluar ventilasi mencari ruang tertinggi di udara. Aku seperti mendengar cerita superhero yang datang ketika orang-orang membutuhkan.

Kekagumanku yang belum hilang entang sosok Abah membuatku setia mendengarkan setiap cerita tentangnya. Segala kebaikan Abah yang dulu kudengar dari mulut yang sama, bertambah dengan cerita Abah mencukupi segala kebutuhan pengungsi korban bencana. Abah, menurut temanku, saat ini benar-benar menghabiskan waktunya menemani korban bencana alam. Ia membuat tenda belajar anak-anak, menyalurkan bahan makanan dan obat-obatan dan setia mendampingi masyarakat menagih janji-janji pemerintah untuk para korban. “Abah memang orang yang hidup untuk orang lain” tukas kawanku tegas.

Saat ini Abah di mataku benar-benar menjadi sosok ideal yang kucari. Segala ketidakpercayaan diri untuk bertemu yang dulu sering muncul saat kuberpikir menemuinya, berganti dengan gebu keinginan berguru padanya. Inilah sosok yang kubutuhkan, pikirku. Aku mereka-reka waktu yang tepat untuk dapat menemuinya dan menyatakan keinginanku berguru. Segala sangsi dan ketidakpercayaan diri kubuang jauh-jauh. Aku hanya punya satu kepentingan kepada Abah saat ini. Berguru.

***

Tiga minggu berlalu. Sosok ideal Abah masih menggantung di kepalaku. Aku seperi dikejar-kejar hutang untuk menmui idolaku ini. Sampai ketika aku mendapat kepercayaan pimpinan posko untuk menangani program pendampingan anak-anak, aku berniat tak membuang peluang ini untuk menjalin kerjasama dengan komunitas Abah. Pimpinan posko yang memberiku kesempatan malaksanakan program bekerjasama dengan lembaga lokal atau organisasi di kampung tertentu, membuka peluangku untuk dekat dengan Abah. Pikirku aku bisa lebih mengenal Abah jika berada di dekatnya.

Kuhubungi ponsel kawanku dan menyampaikan keinginan bekerjasama dengan komunitas yang dipimpin oleh Abah. Tak salah memang, ternyata ia orang yang dipercaya Abah untuk menangani operasional lapangan. Jalan semakin mudah, aku menduga. Setdaknya aku memiliki jalan langsung untuk lebih intim dengan Abah. kawanku menyarankan untuk langsung mendatangi posko utama Abah.

Seperti laki-laki yang menunggu jawaban perempuan yang dicintai, hatiku berdebar membayangkan pertemuanku dengan Abah. Aku salang tingkah. Takut dan cemas bercampur menyadari sebentar lagi aku akan menemui seorang laki-laki suci. Beberapa kali kucoba menenangkan pikiranku. Kutarik nafasku dalam-dalam. Kuhabiskan sebotol air mineral sebelum menyalakan mesin motorku. Aku berharap bisa tenang setelah itu.

Kupacu sepeda motorku pelan karena ketegangan masih menyelimuti pikiranku. Uh, ternyata menemui orang suci memang lebih berat dari menyatakan cinta kepada seorang wanita. Dan peluh membungkus tubuhku yang sebenarnya gigil.

Seratus meter sebelum belokan masuk ke gang sempit sudah kulihat spanduk bertuliskan nama komunitas itu. Jantungku memacu darah lebih kencang. Mataku berkunang-kunang. Ketegangan semakin merata di tubuhku. Ketakutan hebat yang belum pernah kurasa. Ada keinginan berbalik arah dan mengurungkan niat menemui Abah. Tapi segera kutepis niat itu, kapan lagi aku berkesempatan menemuinya. Dan ini menyangkut program posko yang menjadi tanggung jawabku.

Lima belas meter sebelum halaman rumah putih mungil itu kulihat suasana cukup ramai. Anak-anak muda seusiaku duduk di teras rumah dan tampak asyik membicarakan sesuatu. Ada yang sambil bermain gitar, memegang buku, adapula yang sibuk memelototi mesin kalkulator. Di sana-sini kulihat tumpukan kardus dan karung. Dapat kupastikan bahwa itu semua adalah bantuan yang akan disalurkan oleh posko ini. Kawanku melambaikan tangan, menyambutku saat melihat aku muncul dari ujung gang. Tapi manakah di antara orang-orang yang duduk di teras itu yang dipanggil Abah?

Sang kawan mempersilahkanku duduk dan memperkenalkan kepada teman-temannya. Sambutan hangat kuterima dengan senyum balasan yang tak kalah hangat. Aku harus menyembunyikan ketegangan yang mengendap dalam pikiran. Setengah berbisik, kutanyakan kepada kawan itu di manakah gerangan Abah yang kukagumi itu. Ia tersenyum, berdiri kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

Jantungku semakin berdebar. Keringat tak terbendung mengucur dari pori-pori kulitku yang hitam. Kudengar suara terompah menuju teras dari dalam rumah. Aku semakin salah tingkah saat kulihat kawanku muncul dari pintu bersama seorang laki-laki.

“Bang, ini Abah” ujar kawanku

Tubuhku gigil tak terkendali. Ketakutan lebih besar lebih besar dari sebelumnya kurasakan. Perutku mulas dan tiba-tiba migran menyentak di kepala bagian belakang. Aku tak kuat. Berdiri lalu berlari ke arah sepeda motorku. Mata-mata di teras memandangku heran. Aku tak peduli. Kunyalakan mesin motorku dan memacunya secepat mungkin. Aku sudah tak peduli pada semua yang duduk di teras rumah Abah. Sempat kudengar suara kawanku memanggil. Aku sudah tak peduli.

Sepeti kesetanan kupacu motor sangat cepat. Ketakutan itu tak bisa kendapkan bigitu saja. Tiba-tiba seorang yang menggendong bayi menyeberang jalan. Tubuhku lemas. Tak berkutik menghadapi sesuatu yang sungguh tak kunyana ini, kubanting stang motorku ke sisi jalan. Tersadar, pohon asam jawa ada lurus di depanku. Sudah tak waktu untuk menghindar. Brakk. Suara keras terdengar. Aku tak lagi sadarkan diri.

***

Saat mataku terbuka kusadari aku berada di kasur empuk rumah sakit. Kakiku patah dan kepalaku berbalut perban. Teman-temanku berdiri mengitari ranjang. Sekonyong-konyong apa yang baru saja terjadi kembali dalam ingatanku. Tubuhku kembali gemetar.

“Aku Tak kuat lagi,” teriakku.

Suasana hening sejenak. Tubuhku yangterus meronta memaksa temanku memeganginya. Gerakku mereda.

“Ada apa mas?” pacarku mendekatkan telinga ke bibirku berharap akan mendapat penjelasan.

“Laki-laki suci itu, laki-laki suci itu berkepala anjing” bisikku gemetar.

Semua terdiam. Tubuhku masih gemetar meski tak meronta lagi. Dari jendela kaca, kulihat Mang Karim tersenyum kepadaku.



Yogyakarta, 10 Agustus 2006


Catatan:

  1. Syubhat, sesuatu yang diragukan status kehalalan atau keharamannya

  2. Angkringan: Warung Nasi bergerobak khas Yogyakarta yang biasanya hanya ada di malam hari

  3. Nasi kucing: sebutan untuk nasi dalam bungkusan kecil yang berlauk sambal atau samabl goreng yang merupakan ciri khas angkringan

  4. Barang titik iku lek halal luwih apik timbangane barang karom sing akeh: harta sedikit yang halal itu dari pada harta tumpukan harta yang haram

  5. sejatine, mangan ayam karom iku pada karo mangan belatung. ora berkah mas. Lan wong sing mangan barang karom iku, biasane sirahe dadi endas kirik: seungguhnya, makan daiging ayam yang haram itu sama dengan makan belatung, dan orang yang memakan barang haram biasanya berkepala anjing.

  6. Gusti Mboten sare: Tuhan tidak tertidur.


1 Angkringan, warung nasi bergerobak khas Yogya yang bisasanya hanya ada di malam hari.

2 Nasi Kucing, nasi dalam bungkusan kecil dengan harga murah berlauk sambal atau sambal goreng kering yang menjadi sajian khas angkringan.

%d blogger menyukai ini: