Skip navigation

PERJALANAN KERETA

 

Di lorong kereta ekonomi yang sepi

keramaian adalah kemelaratan

pedagang asongan dan pengemis yang hilir mudik

 

Kesepian kian pekat

kala masa lalu

bertamu membawa lanskap lawas

dulu yang mengendap

di dasar secangkir kopi

seharga 2000 perak

 

Kopi adalah penjaga kenangan

dari kejadian yang sangat mudah dilupakan

: rasa pahitnya

yang mengundang ketagihan

 

di sepanjang rel perjalanan ini wajahmu tertatah

duduk manis di samping pengemis yang terjangkit kusta

para pedagang dan tiupan peluit

memanggil-manggil aku untuk kembali

mengulang setiap detik awan yang memerah

membaca dirimu

mengulang perjalanan dalam kereta

seperti menghirup kopi pahit

 

 

                                    img_5057.jpgimg_5057.jpgJogja-Jakarta, 28 Januari 2008

3 Comments

    • ghufronyoyok
    • Posted Februari 21, 2008 at 9:21 am
    • Permalink

    selamat ya,
    ngene yo lagi disebut penyair tenan
    wes nulis2 cerpen dam puisi bocahe………..
    lagi sepi job yo, kok dadi penyair
    heeeee heeeeee
    ya, daripada memuja tidur

    teruske,
    nyuwun sewu nggih

  1. wah…
    jelek-jelek sajaknya bagus, ya…
    (ups…astaghfirullah)
    teruskan perjuanganmu menjadi pejuang cinta (cinta Allah, maksudnya) lewat ungkapan sajak nan indahmu, bang.
    Biar bisa seperti Sayyidina Ali yang mempunyai berjuta pesan teraputik, hehe…

    • uma
    • Posted Februari 29, 2008 at 8:35 am
    • Permalink

    bang ibad jelleeeekkk….
    huaaaaaa…..
    becok kallo cempet, uma dibikinin cajak atow puici yang yomantiz, ya bang…
    ciayyoo… bang ibad…
    cemangaaaat….

    ps: bang, sebenernya uma seneng bacanya, tapi tetep aja gak dhuong, huehehe…
    so, bikin yang gampang-gampang aja, ya…


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: