Skip navigation

(1)

Sesat Dan Tak Sesat


Wajah Kang Jan begitu suram sore itu. Matanya menunjukkan kalau di kepala pria berusia 40 tahunan itu sedang ada masalah yang berat. Pelayanan angkringan pun menjadi kurang dari apa adanya, tanpa senyum dan sapaan manis yang ramah ke setiap pembeli seperti biasanya. Teh jahe, es teh, jeruk panas, es tape semua ikut menjadi korban. Kesemua diaduk dengan tanpa perasaan. Ceker, sayap dan kepala ayam, tempe goreng dan bakwan pun tak luput, dibakar dengan setengah hati. Penuh arang dan gosong yang tak wajar. Angkringan kang Jan sangat janggal malam itu. Sepinya, seperti kuburan. Penyebabnya cuma satu, sang pemilik tak kunjung angkat bicara selain saat menghitung jumlah belanjaan pelanggan.

Galagat tak beres kang Jan ditangkap jeli oleh Mamat. Maklum ia pelanggan bertahun-tahun empunya angkringan itu. Tak ada makan malam Mamat tanpa ceker bakaran Kang Jan. Tapi malam itu Mamat tak mendapat ceker bakar, tapi arang ceker. Teh jahe pun kemanisan, padahal kang Jan pasti tahu selera pelanggan satu ini; tidak suka pada rasa yang berlebihan entah itu terlalu manis, pahit, pedas, asin. Sedikit saja minuman kemanisan segera pasti Mamat melempar protes. Malam itu teh bukan lagi kemanisan, tapi terlalu manis. Tapi Mamat menahan diri, ia takut kalau protesnya atas sajian Kang Jan malam itu memperkeruh suasanan angkringan yang sudah tidak nikmat. Ia mengalah.

Diamnya Kang Jan adalah teka teki bagi Mamat. Sungguh tak biasa, ia merasa. Kejanggalan yang paling janggal. Ada manusia yang biasanya berceloteh tak henti, malam ini dikelilingi lengang yang sangat.

“Ada apa kang?” Mamat membuka percakapan

“Dari tadi mukanya ditekuk saja, ndak biasanya”

“Tuhan apa sudah punya wakil setelah kanjeng nabi ya?” timpal kang Jan ketus.

Penuh kebingungan Mamat bertanya, “ada apa sih?”

Kang Jan masih tersenyum pahit, sepahit arang ceker yang masuk ke liang mulut Mamat.

“sik, sik, ada apa ini kang? Pertama, saya dari tadi disuguhi wajah berkerut, ayam gosong, dan teh yang keterlaluan manisnya, ada apa? Terus tiba-tiba pake tanya apa Tuhan sudah punya wakil selain kanjeng para nabi? bingung aku” timpal Mamat.

“Kau tahu, beberapa waktu ini, banyak orang yang mudah menuduh orang sesat? Entah itu personal, kelompok atau kumpulan gerombolan. Kata-kata kafir menjadi lagam yang semakin sering diperdengarkan untuk menunjuk hidung orang yang berbeda pendapat. Apa mereka tahu, bahwa mereka benar-benar lurus dan yang dituduh adalah sungguh sesat? Banyak orang yang berani mengambil hak Tuhan untuk memutuskan persoalan kebenaran” tukas kang Jan

“Terus Tuhan seperti dimiliki sendiri, dengan cara pandang yang tunggal. Kita tahu ada prinsip-prinsip ketuhanan yang kita peroleh secara sam’iyyat, paling itu sumber acuan pembicaraan ketuhanan kita? Selebihnya adalah tafsir atas perkara-perkara sam’iyyat itu. Tapi mengapa perbedaan yang ecek-ecek selalu memicu pengkafiran? Orang bertasawwuf dituduh zindiq, bertahlil dituduh kurafat, tidak qunut dianggap musuh, tidak ziarah dianggap bebal batin? Bukankah hal-hal khusus itu, kesemuanya muncul dari keumuman hukum Tuhan?”

Mamat masih diam. Sesekali meludah membuang pahit ceker ayam gosong yang lenempel di lidahnya.

“Ada orang berbeda cara pandang hadistnya, berbeda fiqihnya, berbeda ilmu kalamnya, berbeda aliran keagamaannya tapi saya yakin mereka tetap percaya Tuhan yang sama. Tuhan juga saya yakin tidak peduli apakah hambanya NU, Persis, Perti atau Muhammadiyah. Apalagi partainya. Saya yakin Tuhan masih menyimpan rahasia-rahasianya, nah yang namanya NU, Muhammadiyah, Perti, Persis itu hanya salah satu gang sempit menuju kesana. Menuju rahasia-rahasia itu. Tuhan hanya akan menghitung kebaikan yang dilakukan seseorang. Bukan organisasi, kelompok, mazhab, aliran, dan apalah nama-nama untuk menyebut semua perbedaan itu” Menggebu-gebu Kang Jan berseloroh.

“terus kenapa kang ?” tanya Mamat

“Toh mereka tidak saling berantem to selama ini?” tambahnya

“La itu masalahnya, kini semakin banyak orang yang merasa punya hak meluruskan cara beragama orang lain dengan kekerasan, dengan pedang, dengan menggrebek, dengan…ah, aku bingung terlalu banyak cara tidak manusiawi itu”

“Masalahnya?” Mamat terus memancing

“Masalahnya adalah sikap yang tidak toleran itu. Sikap yang menyatakan diri paling benar dan yang liyan adalah salah. Sebagai yang benar berhak memberangus yang tidak benar. Yang tidak benar harus tidak boleh ada. Itu. La wong kanjeng Nabi Muhammad saja tidak bersikap seperti itu untuk berbagai perbedaan. Waktu ada sahabat yang seorang pedagang bertanya apakah pekerjaan paling utama, rasul menjawab ya berdagang. La waktu petani datang dibilang bertani. Ini bukan sikap plin-plan nabi, tapi sikap yang mengajarkan isi lebih penting dari pada kulit. Inti bekerja adalah cari nafkah halal yang bisa saja lewat dagang, tani atau jadi buruh.” Tukas kang Jan

“lo, kok merembet kemana-mana? Sampai soal itu lagi” Mamat terus memancing.

“waduh, la wong perasaan saya itu yang mondok di pesantren, kuliah dan mengahapal Qur’an itu sampean, la malah kok ndak tahu. Coba berapa banyak ayat Qur’an yang bercerita secara spesifik tentang kejadian tertentu? Sedikit to? Yang banyak itu yang masih umum. Untuk hal-hal yang umum itu kita butuh menafsirkan. La penafsiran setiap wong itu berbeda-beda. Untuk kehati-hatian makanya kita dianjurkan untuk belajar Qur’an sama yang lebih pandai. Persolannya, orang-orang yang sama-sama membaca Qur’an yang sama itu sekarang mulai saling tuduh siapa yang salah dan mengaku paling benar dalam penafsiran masing-masing. Padahal yang diperdebatkan adalah hal-hal yang berasal dari penafisiran yang beragam tadi. Mbok yo jangan tuduh orang salah apalagi ngafirke meski beda pendapat. Nabi saja banyak menimpali perbedaan para sahabat dengan senyuman” Timpal kang Jan geram.

“begini kang,” timpal Mamat

Sik aku urung mari” potong kang Jan

“Penyakit terparah orang pandai itu adalah kesombongan, ingat itu. Makanya hati-hati mencari guru. Carilah orang pintar yang tidak sombong. Kenapa ada ulama yang tidak bisa bertasamuh, memelihara toleransi? Aku curiga itu berasal dari kesombongan. Dia merasa derajat keilmuannya lebih tinggi, kualitas penafsirannya lebih baik, kedekatannya dengan Tuhan lebih dari yang lain, dan perasan lebih, lebih, lebih di atas yang lain. Ilmu itu bisa saja jadi penghalang bertemu Tuhan kalau sudah terkontaminasi kesombongan.” Kang Jan meneruskan ceramah panjang lebarnya.

“terus kita harus bagaimana, Kang?” Timpal Mamat.

“Sederhana, menjaga akhlaq. Kita harus sadar, apapun perbedaannya akhlaq harus dikedepankan, bukan ilmunya dulu. Dulu Imam Syafi’I ketika bertamu kerumah Imam Maliki, dia rela tidak berqunut untuk menghormati gurunya itu. Persoalannya sudah bukan qunut, tapi cara menyampaikan Qunut. Apapun perbedaan fiqih, kalam, mantiq dan keyakinan yang terjadi, ahklaq yang harus dikemukakan. Ilmu saat itu boleh dinomorduakan. Toh Kanjeng Nabi itu diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Itu yang utama. Berarti syariah pun harus berjalan di bawah naungan akhlaq. Ulama harus mau meneriakkan akhlaq selain berteriak fiqih, tauhid dan apa saja hal-hal lain tentang agama. Penghakiman itu hak prerogratif Tuhan, karena Dia yang Maha Adil. Sementara keadilan manusia itu relatif, tak sempurna dan condong pada suka atau tidak suka. Tuhan sudah ingatkan kita agar jangan menjadikan kebencian sebagai penyebab ketidakadilan sikap kita terhadap siapapun”

“Semudah itukah kata Akhlaq, Kang?” potong Mamat.

“Ya ndak mudah. Bagaimana dapat dikatakan mudah? Dulu kanjeng nabi pernah diludahi setiap hendak ke masjid. Tapi saat orang yang meludahi sakit, kanjeng Nabi adalah orang menjenguk lebih dahulu sebelum kerabat dan sahabat pelaku peludahan datang. Yang kayak gitu untuk orang seperti kita ya ndak mudah. Memaafkan, mau mengerti, merendahkan diri, menjaga sikap, ya apa saja yang bersangkutan dengan akhlaq hasanah ya ndak mudah. Tapi harus kita pelajari. Kita punya contoh Agung, Kanjeng Nabi langsung. Ambil prinsip-prinsip akhlaq dari beliau!” tambah Kang Jan.

Mamat menahan senyum. Matanya lirak-lirik ke sekitar kursinya. Kang Jan mulai merasa ada yang tak beres.

“Jadi kita sepakat nih kang untuk memulai dari diri sendiri mempergunakan prinsip-prinsip akhlaq tadi?” tanya Mamat memancing.

“Ya, kapan lagi?” jawab kang Jan tegas.

“Kalau gitu, saya pinjam buku catatan hutang, makan malam hari ini digabungkan dengan hutang kemarin. Saya lagi belum kiriman, belum punya duit sampai lusa.” Mamat meminta dengan wajah cengar-cengir.

Kang Jan Teringat semua celotehannya tadi. Tersenyum simpul ia mengambil buku hutang dar dalam laci gerobak lalu mengulurkannya sambil menahan tawa. Sirna sudah raut tak sedap dari muka kang Jan. Ia mengerti sedang mendapat pelajaran dari pelanggan setianya satu itu.

Jalanan mulai lengang.


Krapyak, 22 Januari 2008.


One Comment

  1. makin sulit kumenempatkanmu: agamawan ? cendekiawan ? politikwan ?(bukan politisi/politikus lho) aktivis LSM ? budayawan ? sekarang tambah cerpenis sekaligus penyair…
    ah… dunia makin mengecil saja ditanganmu.
    aku…. makin renta saja makin senja saja….. ah Dian Sastro’arob
    datanglah…datanglah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: