Skip navigation

Ekstase Rindu

kau seperti menjelma udara, menghilang dari peta, menelisip dalam keghaiban yang mengelilingi

ingatanku pada sebuah pagi; bergelayut di sulur waktu; menanggalkan gerimis;

membiarkan doa-doa basi sebelum sampai di pintu langit yang tertutup

bisakah kau berhenti sejenak memberiku misteri, mencipta tekateki:

pada malamku yang selalu kau datangi, membawa mimpi dan api; serupa yang kini menjadi puisi

hanya kau dalam terkaan yang kujaga dalam sepi berantakan

tersapu angin cahaya matamu, matahari kepalaku.

karena kau tak pernah lepas dari kepalaku

biarkan kukenang dirimu dengan cara yang selalu baru: menyulap batu

menatah tiruanmu, untuk menjaga rindu;

agar dalam sendiri

aku dapat kembali mengira-ngira warna matamu

di manakah muara tiupan angin yang membawa wangimu?

serupa Yunus dalam perut nuun:

aku menebak daratan

mengandai bibir-bibir pantai

meminta segala sesuatu untuk mendengar: menjawab doa doa

dari kegelapan

amis kesunyian

 

One Comment

    • ghufronyoyok
    • Posted April 10, 2008 at 11:15 am
    • Permalink

    ah, bocahe,
    perempuan terus diperkosa menjadi kata2
    mbok yaho aku inspirasimu,
    pasti nek! nah itu awalnya, lamat2 juga terbiasa
    ha ha ha


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: