Skip navigation

img_5057.jpg

Coba kalau ada seorang peneliti yang mau menilik, berapa kali kata surga disebutkan oleh rata-rata seorang mubaligh selama bulan ramadhan dalam ceramahnya, mungkin hasilnya akan sangat mengagumkan. Surga adalah salah satu kata yang paling banyak disebut selain neraka, pahala, ganjaran, lailatul Qadar, fakir miskin. Tapi berapa banyak ulama-mubaligh yang mau bicara krisis sosial-budaya dari perspektif yang manusiawi tidak perlu melibatkan istilah-istilah langit yang memang melangit? Entahlah, ramadhan memang arena kenduren akbar yang menyediakan segala fasilitas. Tapi seperti kenduren lain, selepasnya para peserta hanya akan kembali meringkuk dalam lelap tidur. Hanya sekedar arena bagi-bagi kotak berkat. Ramadhan itu semakin seperti balon yang menghadang laju kereta, ketika tabrakan suaranya banter, setelah itu sepi dan meninggalkan sampah.

Tak habis pikir Kang Jan dengan fenomena ramadhan yang semakin binal. Dulu ramadhan adalah arena akbar berlomba mengerti hidup tanpa peduli pada siapa yang menjadi pemenang. Kemenangan adalah milik masing-masing, bukan sesuatu yang perlu digembar-gemborkan dalam iklan, slogan, siaran TV atau kalimat-kalimat yang bertebaran mulai dari istana negara sampai istana kemiskinan yang dipelihara negara supaya tetap ada. Kemenangan dirayakan dengan berani meminta maaf dengan benar-benar kepada sesama manusia tanpa selipan niat-niat kapitalistik. Sekarang ramadhan menjadi arena mengenal berapa banyak artis yang tiba-tiba berjilbab, bersongkok sambil berceloteh kesalihan dengan niat akan kembali menampilkan paha mulus setelahnya. Ramadhan juga telah menjadi pasar raya orang-orang lupa. Arena para pemusik berkarya sesuai dengan pemintaan pasar. Tak perlu heran kalau pengajian kini telah kalah dengan acara lawak menjelang sahur dan berbuka televisi versi ramadhan, suara tadarus mati kutu ketika berhadapan dengan suara konser musik religi, ya keutuhan ramadhan telah kalah dengan segala yang klise. Astaghfirullah.

Sejak awal ramadhan kang Jan diselimuti kegelisahan. Ia bertanya-tanya di hati, ramadhan itu urusan langit atau urusan bumi? Bolak-balik ia membuka kitab-kitab fiqih, mencari dalam selipan-selipan petuah sufi, membaca kitab-kitab tua yang berisi istilah-istilah ilmu kalam yang njelimet. Semakin ia mencari, semakin banter kegelisahannya.

Apa yang menggoda para artis, kang Jan berpikir, untuk menutup pantatnya pada ramadhan? Apapula yang menggoda musisi untuk menulis syair-syair cengeng seakan agama telah selesai urusannya dengan kecengengan yang sebenarnya manusiawi itu? Kang Jan seakan masih ingat, seorang artis yang tahun lalu berjilbab saat ramadhan, berperan sebagai seorang yang shalihah dalam sebuah sinetron, berbicara terus menerus tentang agama, akhirnya setelah ramadhan kembali merayakan ketelanjangan. Seorang artis lain yang berkopiah, mampang di TV, mendampingi pengajian dengan wajah gantengnya setelah ramdhan kembali “cium-ciuman” dan “peluk-pelukan” dalam sinetron lain setelah ramadhan. Benarkah ramadhan telah kehilangan kemampuan mengajarkan yang benar-benar dan bukan klise? Bukankah semangat ramdhan adalah semangat memerangi klise?

Kang Jan seperti dihinggapi kegelisahan yang memang baru kali ini ia resapi dengan lebih dalam. Mungkin karena itu dia gelisah. Andai dia tidak berpikir maka dia tidak perlu pusing dan gelisah. Tapi bagi kang Jan berpikir adalah cara untuk hidup. Sebuah perangkat yang menjamin manusia tetap menjadi manusia. Ia tidak peduli dianggap gila, edan, jadul (jaman dulu) atau istilah-istilah yang dipersiapkan orang-orang untuk dirinya yang susah menerima kagalauan dan ketidak teraturan kebudayaan ini.

Ramadhan tak ada bedanya dengan pesta pengumbar nafsu model baru yang di gelar di dunia gemerlapan (dugem). Penuh kecabulan. Perayaan slogan kemenangan bukan ramadhan sebenarnya. Yang sebenarnya ada di langit, di hati dan dalam diri yang mau peduli pada keramadhanan yang sejati.

Tapi kalau ramadhan untuk Tuhan saja, untuk apa? Meskipun Tuhan menyatakan puasa adalah untukNya dan Dia yang akan memberi ganjaran atasnya, bukankah Tuhan tidak butuh dipuasai, disembah, dipuji? Berarti, kang Jan mulai menyimpulkan, ramadhan itu memang sejatinya untuk bumi, manusia dan segala yang ada di dalam jangkauan kemanusiaan dan kealaman. Puasa untuk manusia. Tapi mengapa manusia tak banyak berubah setelah berpuasa?

Kang Jan teringat masa-masa di pesantren dulu. Suatu ketika, sebulan setelah idul fitri tahun yang entah, saat sowan ke hadapan kiayinya di pesantren kang Jan ditanyai oleh sanga kiayi. “Jan, saat puasa berapa kali khataman al-Qur’an?” “Empat kali Kiayi,” jawab kang Jan. “Sekarang, sebulan setelah puasa sudah berapa juz sudah kau baca?” Kang Jan ingat, saat itu dia tak berani menjawab. Ia baru sadar bahwa tadarus, puasa, shalat tarawih hanya sebuah cara menciptakan jalan menuju Tuhan. Jalan sebenarnya bukan pada puasa, tapi hati bersih yang tercipta melalui proses berpuasa dan beribadah selama puasa.

Kang Jan merasa kepuasaannya yang dululah kepuasaan kini. Puasa yang terikat pada ramadhan yang hanya sebulan. Puasa yang sempit. Puasa transaksional dengan Tuhan karena memang saat ramadhan dijanjkan pahala yang berlipat ganda. Kepuasaan karena ego kemanusiaan yang ingin semata selamat sendiri-sendiri.

Puasa kini bukan puasa yang membuka mata batin untuk belajar tentang arti lapar yang sesungguhnya, arti bersedekah yang langgeng dan bukan transaksi kepada Tuhan, arti cinta, arti, arti, arti…….

Manusia modern memang manusia bebal batin, pikir kang Jan. manusia artifisial yang bangga akan sesuatu yang tampak, bukan isi. Jadi wajar kalo agama mudah berselingkuh dengan kapital, pengusaha, politik, kekuasaan dan kesemena-menaan. Agama manusia modern bukan agama yang dulu, tapi agama ritual. Agama yang dengan segala tenaga mencoba menuhankan ritual. Bukan menuhankan Tuhan yang sebenarnya.

“Walah, manusia modern memang manusia jahil rasa. Buta kepekaan. Tuli kehalusan. Penuh ketundukan pada hasrat-hasrat yang berseliweran. Mereka beragama televisi, berkeyakinan produk ekonomi, berpakaian klise-klise, penyembah kesenangan, hamba para mall dan……………”

Kang Jan tak kuat lagi, diambilnya sajadah. Mengambil wudhu, lalu tidur di atas sajadahnya. Ia sungguh telah merasa gagal berpuasa.

Ramadhan 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: