Skip navigation

Genap satu tahun Kang Zaenal Afin Thoha menemui sang Khalik. Genap satu tahun pula sekian banyak orang dari berbagai latar belakang berbeda kehilangan satu tokoh penting yang cukup menjadi panutan. Kalangan pesantren, santri, penulis dan penyair mungkin adalah beberapa kelompok yang paling merasakan kehilangan atas keberangkatan Kang Zaenal menemui sang Khalik. Tapi saya yakin masih masih lebih banyak yang merasakan kehilangan beliau tinimbang jumlah yang diperkirakan dengan kategori sederhana tersebut.

Saya secara pribadi mungkin hanya beberapa kali saja bertemu dengan Kang Zaenal. Namun saya lebih banyak tahu tentang beliau dari beberapa santrinya. Saya juga mendengar cerita tantang Tokoh satu ini dari beberapa teman yang secara intens maupun kadang-kadang bertemu dengan Kang Zaenal. Selebihnya, tulisan Kang Zaenal adalah cara lain untuk memahaminya. Tapi sekali lagi potrait dalam tulisan dan cerita —saya yakin— tidak cukup untuk menggambarkan seorang Zaenal Arifin Thoha.

Pertemuan pertama dengan sosok satu ini saya rasakan sangat berkesan. Setidaknya ada beberapa alasan. Pertama, saya adalah orang yang pernah menjadi notulen untuk sebuah diskusi yang dibimbing oleh Kang Zaenal. Diskusi itu singkatnya berbicara tentang kesenian. Sebagai notulen tentu saya berkewajiban mencatat keseluruhan proses dan pembicaraan Kang Zaenal dalam diskusi tersebut. Saat itulah pertama saya mengenal Kang Zaenal. Catatan terpenting saya atas pembicaraan Kang Zaenal adalah arti penting penghayatan dalam proses berkesenian. Penghayatan dalam kosa kata Kang Zaenal memunculkan kemungkinan adanya spiritualitas dalam permenungan seni. Di sisi inilah saya menangkap keinginan untuk menyatakan seni sebagai sebuah proses spiritual dan menuju yang spiritual. Ini justeru bertolak belakang dengan banyak pendapat ulama umumnya tentang kesenian. Bagi sebagaian ulama kesenian sering bermakna negatif sebagai sebuah malahy atau persoalan yang cederung menimbulkan kelalaian. Berbeda dengan mereka, Kang Zaenal menegaskan seni memiliki misi suci untuk menemukan diri dan yang spiritual dalam kontempelasinya. Kedua, saya merasa banyak harus belajar dari prinsip-prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Kang Zaenal. Bagi para santri mungkin sudah tidak asing bahwa Kang Zaenal menganjurkan mereka untuk terlepas dari pembiayaan orang tua. Kang Zaenal di sini sedang menerapkan sebuah pendidikan yang utuh saya kira. Pendidikan tentang hidup. Hidup yang harus dinyatakan dan diperjuangkan, tidak sekedar dijadikan permbicaraan. Kang Zaenal mengajarkan arti penting kemandirian dalam sebuah arena pendidikan. Di tengah kecenderungan berbeda pada dunia pendidikan kita yang membuat para mahasiswa sangat tergantung pada dosen-dosen mereka dan murid-murid kepada guru-guru, Kang Zaenal mengajarkan kemandirian sebagai sesuatu yang harus dipelajari. Kang Zaenal seperti tengah mengajarkan para pencari ilmu untuk dapat melepaskan diri dari ketergantungan-ketergantungan yang sering membuat orang lupa akan tanggung jawab yang sebenarnya dimiliki oleh individu masing-masing. Ketiga, saya menangkap adanya spirit untuk mengajarkan arti tanggung jawab melalui sebuah pendekatan yang sehari-hari. Pendekatan reflektif dalam bahasa mudah untuk dikunyah dan dipahami. Bagi Kang Zaenal tanggung jawab harus ditegakkan bahkan dari batasan yang paling kecil yakni diri masing-masing.

Kang Zaenal dapat diibaratkan sebuah buku. Mungkin kini kita tidak sedang memegang buku itu lagi. Tapi kita masih memiliki beberapa catatan kecil tentang keteladanan beliau. Catatan itulah yang masih sering harus dibuka-buka kembali. Kita butuh semangat untuk mempelajarai catatan-catatan terserak tersebut untuk menemukan mutiara-mutiara hidup yang mungkin belum sempat ditemukan dalam penyelaman kedalaman buku yang berjudul Zaenal Arifin Thoha. Selamat Jalan. Istirahlah. Tuhan Mengasihi. Amin.

Ditulis sebagai permintaan maaf atas ketidakhadiran dalam ruwatan satu tahu mendiang almarhum Zaenal Arifin Thoha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: