Skip navigation

Orang bicara cinta

Atas nama Tuhannya

Sambil menyiksa

Membunuh berdasarkan keyakinan mereka[1]

(Iwan Fals, Cinta dinyanyikan dalam album Kentata Revolvere)

Beberapa waktu setelah dikejutkan rentetan aksi terorisme yang menelan ribuan korban, kita dibuat begitu merasa keheranan dengan sikap para pelaku yang tidak mengisyaratkan sedikitpun bentuk penyesalan. Katanya, mereka telah melakukan sebuah tuntunan agama untuk membela kepentingannya. Sesuatu yang harus dijawab kemudian, benarkah agama memberi jalan untuk kebenaran yang menelan korban? Benarkah kebenaran harus selalu menelan korban?

Mungkin bagi beberapa orang, aksi terorisme merupakan sebuah jalan untuk berjihad. Di lain sisi, lain bagi segenap kelurga korban tak berdosa, entah bagaimana harus memberi penilaian terhadap sesuatu yang disebut sebagai perjuangan agama tersebut. Di antara para korban beberapa di antaranya hanyalah pengais rizki yang tidak terkait apapun dengan sasaran aksi teror. Entah siapa yang berada dalam posisi syahid, mereka yang menjadi korban atau yang rela mengorbankan diri membunuh mereka.

Mencoba mengurai benang kusut, istilah syahid dan jihad yang digunakan sebagai alasan aksi terorisme merupakan sebuah penafsiran. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan pelbagai penafsiran lain yang beragam tentang aspek-aspek hidup kita. Satu penafisran lebih sering menampakkan wajah berbeda dengan yang lain, manakah di antara sekian banyak penafsiran yang dapat diterima sebagai kebenaran?

Pada Zaman khalifah Abu Bakar, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah, seorang sahabat yang disebut-sebut oleh Nabi sebagai salah seorang penghuni surga. Setelah membunuhnya, Khalid bin Walid menikahi Istri Nuwairah yang terkenal sangat cantk. Saat itu, Umar bin Khattab r.a meminta khalifah untuk menjatuhkan rajam kepada Khalid karena dinilai telah melakukan perzinahan, mengingat dia menikahi istri Nuwairah pada masa iddahnya. Bagi Abu Bakar, Khalid bin Walid tidak perlu mendapatkan hukuman. Kesalahan Khalid hanyalah dalam menta’wil ayat al-Qur’an sehingga baginya ayat yang menjelaskan perihal iddah tidak berlaku pada saat peperangan terjadi. Bagi Abu Bakar Khalid telah berupaya mentakwil dan salah. Ta’walla wa akhta’a. Selain itu, Abu Bakar juga menilai pembunuhan Malik bin Nuwairah juga merupakan upaya ta’wil yang dilakukan oleh Khalid bin Walid. Ia beranggapan bahwa orang-orang yang menolak untuk membayar zakat kepada Abu Bakar adalah kafir, sementara salahkah jika Malik ternyata membagikan zakatnya kepada orang-orang di sekitarnya, tidak kepada Abu Bakar?[2].

Pada persoalan lain, Syaikh Nuh Al-Hanafi pernah mengeluarkan fatwa tentang kafirnya kaum Syi’ah, adanya kewajiban untuk memerangi golongan ini, penghalalan pembunuhan terhadap mereka dan menawan anak-anak serta wanita-wanita dari golongan Syi’ah. Bahkan fatwa ini berlaku bagi kaum Syi’ah yang telah atau sudah bertaubat. Persoalan kafir atau tidaknya seseorang adalah persoalan yang seharusnya disikapi dengan sangat hati-hati, dan lebih baik menundanya (arja’a) sampai pada mahkamah penghakiman akbar.

Pada kasus pertama, persoalan ta’wil seperti menjadi sangat remeh, kesalahan ta’wil yang menelan korban begitu saja dapat dilepaskan dari jerat hukum ketika menganggap sang pelaku memiliki hak untuk melakukannya (ta’wil). Pada yang kedua, ta’wil terhadap ayat dan hadist menjadi satu-satunya penentu yang berhak untuk menentukan bolah tidaknya ta’wil-ta’wil lain untuk hidup. Benarkah setiap orang telah kehilangan hak menta’wil, atau dapatkah dibenarkan jika satu ta’wil akhirnya menjadi sebuah alasan untuk mematikan ta’wil lainnya? Dalam konteks keduanya, terlebih pada segala yang bersifat furu’iyyah, penafsiran bersifat relatif dan beragam sehingga satu penafsiran tidak boleh menyebutkan diri sebagai yang paling benar.

Dua hal penting harusnya dipisahkan dalam konteks penafsiran kitab suci, pertama, teks suci al-Qur’an yang bersifat pasti dan kedua penafsiran yang bersifat relatif dan terbuka (bi ar-ra’yi). Keduanya bisa saja disandingkan, tapi tafsir tidak mungkin dinisbatkan sebagai ayat itu sendiri. Sebagai konsekuensi, tafsir tidak dapat dimutlakkan sebagai sebuah kebenaran yang setara dengan nash itu sendiri. Sesuatu yang tidak mutlak tidak mungkin digunakan sebagai acuan penghakiman tafsir-tarsir lainnya. Ingatlah kita pada sejarah Imam Malik yang mendapatkan otoritas fiqh dari penguasa dan meminta kepada penguasa untuk tidak menjadikan fiqh madzhabnya sebagi satu-satunya fiqih yang mendapat legalitas negara, karena di berbagai tempat masih terdapat perbedaan pendapat seputar persoalan-persoalan fiqhiyyah. Imam Malik menyadari bahwa segala model fiqh lain yang berbeda dengannya memiliki hak yang sama untuk diakui sebagi sebuah kebenaran dan memilki hak yang sama untuk dianut.

Penunggalan kebenaran atas tafsir tertentu, dalam sejarah ummat Islam, telah banyak menelan korban. Persinggungan Mu’tazilah dan kelompok teologis lain contohnya. Dalam konteks Indonesia, pembantaian kelompok wujudiah yang terjadi pada masa pemerintahana Shofiyatuddin yang disetujui oleh amir spiritual Nuruddin ar-Raniry adalah contoh lainnya. Pertumpahan darah demi mempertahankan tafsir adalah ironi sejarah Ummat Islam yang pasti akan selalu diingat dan dicatat dalam sejarah.

Pertanyaannya, haruskah korban jatuh lagi untuk mempertahankan kebenaran tafsir tertentu pada zaman ini? Jawabannya, tentu tidak perlu. Tapi secara empirik, upaya pembenaran tafsir kelompok tertentu atas kelompok lainnya terus menggelinding bagai bola salju.

Pengkafiran dan kebebasan untuk berbeda

Perbedaan penafsiran di kalangan ummat islam terkadang mencapai titik yang sangat memalukan, yakni tindakan pengkafiran. Sejak sejarah awal perkembangan Islam paska Rasulullah SAW, gejala ini terus menjadi fenomena yang tidak pernah berhenti. Sebut saja fenomena kelompok Khawarij, wabisme, dan kemunculan lembaga-lembaga yang secara sporadis mengatasnamakan kebenaran Islam di Indonesia. Benarkah perbedaan menimbulkan efek kekafiran? Belum tentu. Dalam sudut pandang manusia sebagai produsen tafsir itu dapat saja terjadi. Tapi, siapakah di antara manusia yang mengerti secara absolut apa yang dimaksud dan dikehendaki Allah SWT tentang pengertian sesuatu? Ummat Islam sangat terpengaruh pada sebuah hadist masyhur yang menyatakan keterbelahan ummat Islam menjadi 73 kelompok, dengan hanya 1 yang selamat, yakni ahlus sunnah wal jamaah. Akhirnya semua kelompok berupaya untuk menjadi yang satu tersebut, apapun caranya. Menegasi, mengkafirkan dan menyerang terkadang cukup untuk meyakinkan bahwa kelompok tertentu adalah satu kelompok yang selamat seperti diterangkan dalam hadist tersebut. Benarkah?

Mungkin sebagian besar ummat Islam perlu untuk mengikuti salah satu ajaran kelompok murji’ah, yakni menunda segala justifikasi kebenaran agama sampai waktu segalanya dihadapkan pada Allah. Penundaan sampai waktu Allah akan menjadi hakim satu-satunya untuk menyelesaikan segala persoalan manusia.

Selain itu perlu rasanya diingat bahwa misi pengutusan Rasulullah SAW teragkum dalam kalimat “liutammima makārim al-ahklāq” atau misi penyempurnaan ahklaq dan karakter manusia. Artinya, segala perbedaan seyogyanya dikembalikan pada akhlaq. Segala perbedaan, baik fiqih, teologi, tasawwuf, filsafat keagamaan, dan ritual, kesemuanya harus disikapi menggunakan koridor dan kerangka etika. Akhlaq haruslah menjadi yang dikedepankan. Demikian.


[1] Teks lagu ini merupakan puisi WS Rendra dinyanyikan oleh Iwan Fals bersama Kantata

[2] Lihat Jalaluddin Rahmat, Ijtihad dalam sorotan. Bandung: Mizan, 1988, halm 173-174. Lihat Pula A. Syarifuddin Al-Musawi, Isu-Isu Penting Ihktilaf Sunnah Syi’ah. Bandung: Mizan, 1991. hal 69-70.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: