Skip navigation

Belum lama ini ummat Islam kembali dikejutkan dengan kemuculan film Fitna yang dikeluarkan oleh salah satu partai sayap kanan di Belanda. Film karya Wilders ini memang sangat kontroversial. Sejak rencana publikasinya, berbagai penolakan telah terjadi di Belanda. Pemerintah Belanda pun sejak awal telah mengingatkan implikasi negatif peluncuran film tersebut terhadap hubungan ummat Islam dan kelompok beragama lain.


Sekilas film ini memang menyederhanakan persoalan dan fenomena ummat Islam. Film ini adalah salah satu bentuk kegagalan dunia Barat untuk membaca Islam dari perspektif yang beragam. Tapi pada berbagai sisi lain, sebaiknya ummat Islam mencoba berkaca dan merefleksikan diri tentang isi dalam film tersebut.
Misi utama film Fitna adalah menghentikan upaya Islamisasi yang sangat deras terjadi di Eropa. Mungkin istilah islamisasi sendiri tetap kurang tepat untuk digunakan, lebih tepatnya adalah dakwah.

Diakui atau tidak, tragedi 11 September telah mengarahkan berbagai mata untuk melihat langsung dalam dunia Islam. Meskipun kejadian 11 September diformulasi dengan tidak seimbang oleh dunia Barat, namun upaya tersebut tentu bukan tanpa efek samping. Efek samping yang paling kentara adalah semakin besarnya keingintahuan masyarakat dunia Barat tentang pelbagai hal yang menyangkut Islam. Stereotip Islam adalah teroris yang berkembang justeru —meminjam istilah ilmu komunikasi— menjadi semacam iklan gratis bagi ummat Islam untuk memancing ketertarikan untuk mengetahui Islam. Berdasarkan toeri peluang pemasaran, semakin besar kesempatan produk dikenal semakin besar pula kemungkinan konsumsi. Itulah yang terjadi pada dakwah ummat Islam. Stereotip yang menyudutkan tidak serta merta membuat posisi ummat Islam tersudut. Sebaliknya memperbesar peluang ummat Islam untuk dikenal luas oleh berbagai kelompok yang berbeda. Itulah efek bilyardnya.

Film fitna mereprentasikan ketakutan dunia Barat atas fenomena perkembangan Islam yang sangat cepat, terutama di Belanda. Setidaknya, saat ini hampir 10% masyarakat Belanda memeluk agama Islam. Angka yang fantastis tentu di tengah terjangan isu terorisme yang dialamatkan kepada dunia Islam.

Secara isi, tentu film Fitna memiliki beberapa kekeliruan, terlebih pada persoalan generalisasi ummat Islam. Upaya menyatakan bahwa seluruh ummat Islam adalah teroris tentu tidak tepat. Tapi Ummat Islam tidak perlu marah jika dikatakan terdapat potensi terorisme di dunia Islam itu sendiri. Fenomena pembantaian yang terdapat beberapa tayangan Fitna memang terjadi di belahan dunia Islam, jadi haruskah kita mengingkarinya?

Tidak mudah memang menjelaskan persoalan hubungan Islam dan dunia Barat. Artinya, dalam sudut pandang Barat Islam masih berada pada posisi yang dilematis; ditempatkan dalam posisi yang subordinat. Tentu tidak mengenakkan. Setidaknya, film Fitna adalah sebuah cermin bagi dunia Islam untuk bercermin tentang pelabagai kenyataan dalam dunia Islam itu sendiri. Ummat Islam boleh marah, tapi harus mawas diri untuk bertanya pada diri sendiri perihal kebenaran yang ditayangkan dalam Film Fitna. Bukankah kebenaran harus diungkap meski pahit akibatnya. Kemarahan ummat Islam pun haruslah konstruktif, dengan berbenah agar segera segala stereotip dan penisbatan yang salah tersebut benar-benar hilang dari dunia Islam. Satu-satunya cara adalah dengan merevitalisasi konsep etika terapan dalam Islam. Secara universal, etika Islam sudah mampu memperagakan bentuk kesalihan yang dapat dijadikan pelajaran bagi kelompok manapun. Tapi secara praksis, kerap terjadi pembelotan atau penyelewengan dari konsep universal tersebut.

Pada konteks Indonesia, kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah adalah bentuk pembelotan dari konsep etika universal Islam itu sendiri. Dalam sebuah tabligh akbar organisasi yang getol menamakan diri sebagai penegak syariat Islam, sungguh disayangkan jika terjadi penghasutan massal. Dalam tabligh akbar tersebut, sang sekjend menyatakan kehalalan darah penganut Ahmadiyah dan mengajak untuk melakukan pembunuhan —lebih tepatnya pembasmian— penganut Ahmadiyah. Sang orator pun menyatakan kesanggupan untuk menanggung resiko dunia dan akhirat. Sungguh disayangkan. Tidak terhenti di situ, terjadi pembakaran Masjid jamaat Ahmadiyah di Tasikmalaya. Di beberapa daerah jamaat Ahmadiyah pun hidup dalam teror yang tidak mudah untuk dilewati.
Hal yang paling ironi dari rentetan fitna dan tragedi Ahmadiyah adalah kesamaan pelaku. Artinya, terdapat kelompok yang begitu kuat menyatakan penolakan terhadap film Fitna justeru mempergakan isi film tersebut. Kelompok yang mati-matian menyatakan kemarahan atas kemunculan film Fitna justeru terlibat aktif dalam memberikan poin kebenaran terhadap isi film tersebut.

Secara sederhana, mari kita berpikir. Jika kita ummat Islam menolak isi film Fitna yang menyatakan bahwa ummat Islam memiliki kitab suci yang berisi anjuran kekerasan, kenapa sebaliknya terjadi praktik kekerasan yang diperagakan oleh ummat Islam? Kita yang meyakini bahwa Qur’an adalah sumber kasih sayang semestinya berjuang mati-matian menegakkan prinsip-prinsip kasih sayang yang terdapat dalam ajaran al-Qur’an. Tidak sebaliknya, dengan melanggar pelbagai konsep etis dalam Al-Qur’an.

Jika memang secara teologis Ahmadiyah adalah kelompok yang salah, tentu sudah terdapat dalam al-Qur’an cara untuk mengajak mereka kembali dalam kebenaran, yakni cara yang terbebas dari kekerasan. Bukankah al-Qur’an mengajarkan panduan dakwah yang damai, dengan bijaksana (hikmah), anjuran yang baik (mauidhah hasanah) dan jika memang harus berdebat, kita dituntun untuk berdebat dengan cara yang terbaik. Tentu cara terbaik tersebut bukanlah kekerasan.
Kekerasan bukanlah bentuk atau salah satu bagian dari ajaran Islam. Tapi mungkin saja ummat Islam menjadi bagian dari pelaku kekerasan.

Astaghfirullah. Allahu A’lamu bi as-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: