Skip navigation

Malam agak pekat. Jarum jam menunjuk angka 12. Tepat tengah malam. Entah lapar atau sekedar nafsu jajan yang menuntun saya mendekati gerobak roti bakar yang hampir tutup. Pedagangnya mulai berkemas pulang. Ketika menlihat saya berhenti, sejenak ia menunda keinginan berkemas, tampaknya. “Masih kok mas” selorohnya.
Saya memesan sepotong roti isi coklat kacang kegemaran saya. Sambil menunggu, sebatang saya duduk di belakang penjual roti yang kira-kira berusia 31 tahun itu. Saat membesarkan nyala api kompor, satu hal menarik perhatian saya. Kompor minyak tanah. Ya, kompor yang hampir musnah dilikuidasi oleh kebijkan konvesri minyak ke gas yang diterapkan pemerintah. Dari pada diam saya mencoba mengajak bicara pedagang yang mulai asyik memoles roti.

Saat ditanya soal minyak, dengan sangat emosional pedagang itu menjawab. Seakan tersentil sesuatu yang paling sensitif dalam batinnya. Ia berseloroh panjang lebar tentang sulitnya minyak di pasaran. Dan sekali lagi, sebagai orang kecil, ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti menumpahkan kekecewaan ia bercerita tentang ketidakpuasan pada keputusan kontroversial pemerintah ini. Ia tumpahkan dengan nada datar, tapi saya yakin penuh emosi. Saya dan pedagang orti tersebut, kita, sama-sama bingung, mengapa di negeri yang dipenuhi tambang minyak ini bisa terjadi kelangkaan dan mahalnya harga minyak. Kenapa di negara kaya ini lebih banyak orang miskin. Mengapa SBY-JK tidak peduli pada korban Lapindo? “Dasar budeg” kata si pedagang.
Ia juga berbicara panjang lebar tentang negara. Tentang pemerintahan, Parpol, DPR, para presiden dan lupa tentang nasibnya sendiri. Ia tak tampak marah, tapi intonasi tak bisa sembunyikan sentimen yang begitu kuat. Ia mengaku kecewa dengan nasionalisme para pejabat yang retoris. Nasionalisme podium yang diikuti dengan penjualan aset-aset rakyat. Ia menyebutkan kapal tanker, Indosat, Freeport, dan contoh-contoh lain dari kehebatan watak bisnis para penguasa. Ia menyatakan betapa sayangnya tindakan tidak nasionalis tersebut. Meski common sense, saya tetap percaya orang ini. Entah akibat hallo effect atau hal entah yang menyebabkan saya yakin iniadalah suara rakyat kecil.
“Nasionalisme itu kayak apa tho, mas?” ia bertanya, tapi kemudian ia memberi jawaban sendir.
Ia menegaskan nasionalisme itu bukan slogan, bukan janji kampanye, bukan alat kebohongan publik di arena politik, tapi kepedulian bahwa kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan ekonomi internasional yang semakin mencengkeram. Baginya nasionalisme itu juga mendamaikan agama-agama, meneguhkan persaudaraan antar suku, antar pulau dan mengalahkan kepentingan-kepentingan. Sambil bersendawa pedagang ini berselorh: “rakyat kecil yang lapar bisa menjadi nasionalis, masa yang punggawa negara yang kadung kaya makan uang negara ndak juga bisa?” Ia bercerita tentang warga korban lapindo yang tetap bisa rayakan 17 agustusan, tentang tukang becak yang mau menghias becak dengan merah putih yang harus dibeli dengan uang makan yang pas-pasan. Ini nasionalisme ala orang miskin.
Roti selesai dibungkus. Rp. 7000 kuserahkan. Perbincangan selesai. Aku masih bertanya, “ dimana kuping dan mata penggede negara?” Kenapa pedagang roti bakar lebih paham dar seorang presiden?
Banyak kemungkinannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: