Skip navigation

The referential world of commodity needs, use value and labor was only historical passageway of radical semiurgy which aims at the liquidation of society and the real, their displacement through structural codes and signs. All the repressive, and reductive strategies of power systems are already present in the internal logic of the sign (baudrillard, 1981: 70)
…..
“Ada orang bisa berfikir cepat.
Biasanya para jenius.
Ada orang berpikir seumur
Hidup dan hasilnya tak ada.
Orang gila malah tidak pernah
berpikir, karena dia sudah
tahu itu tidak ada gunanya.”
(Cerpen “Kaya” karya Putu Wijaya. Jakarta 29 Juli 1991)Amenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
aBoya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada
(Raden Ngabehi Ranggawarsita: Kalatidha)

Setidaknya terdapat dua fenomena penting peubah gerak kebudayaan masyarakat dunia sejak tahun 1920-an: fenomena kemajuan kapitalisme lanjut; dan kelahiran televisi. Kemajuan kapitalisme global yang mulai menemukan bentuk pada tahun 1920-an adalah titik terpenting perubahan konfigurasi kebudayaan manusia. Ide produksi sebagai faktor dominan pembentuk pasar kompetitif pada Kapitalisme awal, dalam era kapitalisme lanjut tergantikan oleh modus konsumsi. Konsumsi adalah determinan penting dalam modus operasional kapitalisme lanjut. Tidak sebatas itu, menurut Kellner, konsumsi adalah sebuah mesin penggerak penting yang mengarahkan realitas sosial, budaya dan politik (Kellner, 1994;3). Enersi kapitalisme lanjut tidak terletak pada kemampuan produksi lagi, melainkan kekuatan untuk terus meningkatkan kekuatan dan hasrat konsumsi. Titik. Disinilah postmodernitas dimulai.
Istilah posmodernisme —atau paska modernisme— bersifat ambigu. Di dalamnya terdapat berbagai praktik dan konsep yang tidak kesemuanya sinkron, bahkan terkadang saling bertubrukan, tumpang tindih dan berkelindan. Postmodernisme adalah istilah yang kontreversial, begitu Bambang Sugiharto menyimpulkan (Sugiharto, 1996: 15). Namun, sebelum melangkah lebih jauh membicarakan posmodernitas, perlu kiranya membedakan istilah postmodernisme dan postmodernitas.
Istilah pertama, postmodernisme, menunjuk kririk-kritik filosofis atas gambaran dunia (weltanschauung), epistimologi dan idiologi-idiologi modern. Istilah ini memang digunakan dengan secara beragam, karena itu pula menjadi sulit untuk memahami istilah ini secara parsial. Istilah “post” di awal kata modernisme sendiri menimbulkan pelbagai perdebatan. Pertanyaannya, apakah istilah “post” merupakan sebuah pemutusan radikal atas prinsip-prinsip modernisme seperti diungkap Lyotard dan Gellner; sekedar koreksi atas prinsip-prinsip landasan dunia modern; proyek modernitas yang belum usai (Habermas); dunia modern yang telah sadar diri (Anthony Giddens); ataukah modernitas yang akhirnya bunuh diri (Baudrillard, Derrida, Foucault) ? (Sugiharto, 1996:24).
Kelahiran modernisme —tidak sesederhana yang dipahami secara umum sebagai dunia yang dipenuhi oleh kemajuan teknologi— tidak dapat dilepaskan dari perkembangan gerakan humanisme di Italia pada abad ke-14. Gerakan diteruskan oleh semangat Renaisans abad ke-16 dan dimantapkan oleh gerakan pencerahan (enlightment―aufkärung pada abad ke 18. Era pencerahanlah yang kemudian dipercaya sebagai titik tolak kemajuan penemuan manusia. Gema pencerahan berupaya mendobrak otoritas agama yang dogmatis —dalam konteks ini adalah kekuasaan gereja katholik; mengangkat harkat dan martabat manusia; dan meyakinkan adanya otoritas manusia yang mampu menemukan kebenaran sendiri bersandar pada rasio sebagai potensi utama manusia.
Rene Descartes adalah tokoh yang disebut-sebut sebagai peletak utama pondasi kekuatan modernisme. Adagium cogito ergo sum yang masyhur dinilai sebagai nubuwwat Cartesian yang telah menggiring manusia keluar dari labirin kegelapan abad pertengahan. Diktum “aku berpikir maka aku ada” merupakan kata perpisahan manusia modern dari kekuatan metafisis dan transendental, sekaligus pengukuhan kemandirian otoritas kemanusiaan. Adagium Cartesian telah mentahbiskan manusia sebagai otoritas sadar yang berjarak dan kritis terhadap pelbagai kekuatan dan dominasi ilusi dan mitos. Dalam ranah filsafat modernisme Cartesian dikukuhkan oleh dua tokoh penting, yakni Emanuel Kant dan G.W.F. Hegel. Ide-ide Descartes tersebut dimantapkan dengan kebudayaan sains dan kapitalisme. Maka terciptalah dunia modern yang berdiri di atas pondasi-pondasi ego, rasio, obyektivitas, totalitas, ide-ide absolut, oposisi biner dan otoritas.
Postmodernisme secara sederhana dapat berarti pembelotan atau perpisahan dari unsur-unsur fondasional modernisme. Penggunaan istilah postmodernisme bukanlah sesuatu yang baru. Dalam catatan Ihhab Hasan, seorang tokoh yang memproklamirkan diri sebagai pembicara terkemuka postmodernisme, Istilah postmodernisme digunakan pertama kali oleh Frederico de Onis pada tahun 1930 dalam karya Antologia De La Poesia A Hispanoamericana untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari dalam modernisme (Sugiharto, 1996:24).
Istilah posmodernisme akhirnya digunakan di pelbagai ruang yang berbeda. Di ruang arsitektur Charles Jenks menjadi penggiat pengguna istilah ini dengan meluncurkan The Language Of Postmodern Architecture. Dalam dunia seni muncullah nama Andy Warhol dengan chicken soup can painting dan ready made art dengan pispot sebagai ikon oleh Marcel Duchamp. Dalam kritik sastra mucullah Susan Sontag dan Julia Kristeva dengan intertekstualitas. Pierre Bordieu dengan konsep habitus dalam dunia sosiologi-antropologi. Dan yang paling santer terdengar dari dunia filsafat, Jean Francois Lyotard, dengan reportase penggunaan komputer di Queebec yang masyhur dengan judul A Postmodern Condition: A Report Of Knowledge. Selain itu masih ada pula Derrida dengan kritik gramatologi dan dekonstruksi yang menghantui filsafat masa kini, serta Michel Foucault dengan arkeologi pengetahuan (archeology of knowledge).
Beberapa alasan menjadi penting untuk diketahui guna menelusuri genealogi kelahiran postmodernisme. Diakui atau tidak, di tengah pelbagai kemajuan, modernisme telah gagal mewujudkan beberapa cita-cita penting pencerahan. Kehebatan ilmu pengetahuan yang berbalik arah meruntuhkan kemanusiaan dan menciptakan pelbagai patologi adalah sumber utamanya. Modernisme oleh kelompok postmodernis dituduh telah gagal mewujudkan cita-cita perbaikan kehidupan manusia. Gagalnya cita-cita saintifisme modernisme yang bertujuan memecahkan persoalan manusia, dan sebaliknya justeru membawa implikasi negatif berupa beragam patologi adalah sebab lainnya. Gugatan lainnya berkaitan visi aksiologis dimana pengetahuan modern dinilai telah ditunggangi oleh pelbagai kepentingan kekuasaan dan ekonomi dan politik. Artinya, pengetahuan modern tidak dapat melepaskan diri dari penyalahgunaan demi kekuasaan dan penaklukan. Dan yang terpenting adalah kontradiksi antara pelbagai fakta dan teori-teori pondasi modernisme.
Menurut Bambang Sugiharto, setidaknya ada tiga kategori besar corak para pemikir postmodern (Sugiharto, 1996:30). Pertama, adalah kelompok yang berkecenderungan mengembalikan susana dan visi kemodernan ke arah pra-modern. Penggiat kelompok ini umumnya muncul dari kelompok fisika yang bersemboyan “holisme” serta kelompok fisikawan yang mengaitkan fenomena fisika dengan fenomena mistiko-mistis.
Kedua, adalah para penggiat yang terkait erat dengan kesusasteraan dan banyak berhubungan dengan linguistika. Gagasan kelompok ini adalah menghantam sisi pandangan dunia (weltanschauung―worldview) dunia modern dengan melemparkannya pada nihilisme. Memang kelompok ini awalnya tidak mengarahkan kritik terhadap pandangan dunia menuju kenihilan atau nihilisme, namun tujuan tersebut berbelok dari upaya pencegahan kemunculan totaliterisme menuju nihilisme. Kelompok ini diwakili oleh Jaques Derrida, Vatimo dan Michel Foucault).
Ketiga, adalah kelompok revivalis yang berkeinginan untuk memperbaiki pelbagai asumsi-asumsi kemodernan yang dinilai tidak lagi sesuai dan harus mengalami perbaikan. Upaya kelompok ini lebih dapat dikategorikan sebagai upaya untuk memberikan kritik imanen terhadap modernisme untuk mengatasi pelbagaiimplikasi negatifnya.
Di lain sisi, istilah yang memang sangat mirip ―postmodernitas― memiliki makna yang jauh berbeda dengan postmodernisme di ruang diskursus keilmuan. Postmodernitas menunjuk kondisi sosio-kultural masyarakat sebagai efek perkembangan kapitalisme dan saintifisme modern. Postmodernitas lebih menunjuk ke arah persoalan antropologis manusia sebagai efek dari perkembangan pelbagai teknologi, mekanisasi dan kapitalisasi konsumsi. Namun, bagaiamaanapun terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antar kedua istilah tersebut.
Seperti disampaikan di muka, sejak era tahun 1920an, perkembangan kapitalisme lanjut telah mampu menjadi salah satu penentu perubahan kebudayaan manusia. Kedua, perkembangan teknologi informasi, khususnya televisi telah berhasil memberikan efek bilyard yang cukup kuat dan mengakar dalam pemembentukan pola dan kesan kebudayaan yang berkembang massif di tengah masyarakat. Perubahan enersi kapitalisme dari modus produksi menjadi keinginan untuk memaksimalkan konsumsi telah memberi efek tidak sederhana pada ruang kultural manusia. Sejauh ini, kekuatan kapitalisme lanjut tersebut dinilai telah berhasil dengan cukup baik, buktinya adalah terbentuknya masyarakat yang kerap disebut sebagai masyarakat konsumer. Sangat memungkinkan untuk memberikan penjelasan atas perubahan sporadis secara genealogis.
Kekuatan kapitalisme yang didukung oleh teknologi massal setidaknya telah meruntuhkan pelbagai asumsi dan pondasi pandangan-pandangan tradisional di ruang antropologi dan sosiologi. Masyarakat yang dipercaya berkembang secara linier, akhirnya secara terbuka mengalami ledakan kebudayaan dengan menanggalkan segala linieritas yang dulunya dipercaya sebagai modus perkembangan kebudayaan manusia. Konsumsi yang pada era sebelumnya merupakan relasi kebutuhan dan pemenuhan, akhirnya direduksi menjadi sebuah mode, bukan pemenuhan kebutuhan semata. Dalam sirkulasi mayarakat konsumer, konsumsi adalah aktifitas inti kehidupan sosiologis.
Menurut Baudrillard, salah seorang pewarta postmodernisme, Marxisme dengan konsep linieritas perubahan masyarakat telah kehilangan kebenarannya. Kebutuhan dan pemenuhan, nilai guna dan nilai tukar sudah bukan lagi determinan arus persentuhan ekonomi sebagaimana dipercaya oleh Karl Marx. Sangat dipengaruhi oleh semiotika Rolland Barthes dalam The System Of Fashion (1967) ―lebih tepatnya terpengaruh oleh pesona semiotika, Baudrillard mempercayai adanya perubahan mode of production menjadi mode of consumption. Semangat kapitalisme berubah menjadi semangat untuk meledakkan konsumsi. Modus konsumsi inilah yang akhirnya merubah seluruh aspek kehidupan menjadi obyek konsumsi yang berupa komoditi. Bahkan, Tak ada batas antara yang sakral dan profan, karena keduanya ikut menjadi objek konsumsi.
Perkembangan pola konsumsi pada masyarakat postmodern tidak lepas dari peran serta media yang begitu massif memperdengarkan dan mewartakan produk. Secara ekstrem bahkan, meminjam istilah Guy Debord, Baudrillard menyatakan bahwa masyarakat konsumsi juga merupakan masyarakat tontonan (society of spactacle). Tontonan adalah bentuk doktrinasi konsumsi yang menyeruak ke tengah jantung masyarakat. Dalam konsep masyarakat tontonan, nilai-guna dan nilai-tukar, sebagaimana ditegaskan oleh Marx, telah kehilangn kesakralan dan kebenarannya. Nilai-tukar (exchange value) dan nilai guna (used value) telah berubah menjadi nilai tanda (sign value) dan nilai simbolik (simbolic value).
Menurut Baudrillard, fungsi komoditas tidak lagi ditentukan dengan adanya nilai guna atau nilai tukar semata, melainkan juga ditentukan oleh nilai-nilai simbol dan tanda yang dilekatkan pada komoditas-komoditas tersebut. Tema-tema gaya hidup, kelas, kemewahan, adalah bentuk idiologi tanda dan simbol konsumsi yang dimasukkan ke dalam komoditas. Walhasil, komoditas atau obyek-obyek konsumsi menjelma menjadi sebuah sistem klasifikasi masyarakat, status, prestise dan pola tingkah laku masyarakat.
Pernyataan Baudrillard sekilas memang bersifat dan tampak hiperbolis. Pernyataan bahwa inti dari konsumsi adalah bentuk penandaan dan pencitraan tidak bermaksud mengenyampingkan adanya fungsi kebutuhan dalam diri manusia. Baudrillard hanya ingin menyatakan bahwa pemilihan obyek konsumsi, kebutuhan dan kenikmatan biologis sudah bukan lagi satu-satunya penentu yang menggerakkan, melainkan terpengaruh oleh sebuah sistem yang memberikan citra dan tanda yang merangsang terjadinya pola konsumsi yang sporadik. Konsumsi juga berarti peraihan prestise, status dan identitas.
Dalam pandangan Guy Debord, jika Karl Marx menyatakan prinsip ada (being) telah direduksi menjadi kepemilikan (having) ―atau perilaku yang mengarah untuk memiliki objek-objek atau komoditas-komoditas― maka konsep kepemilikan kini telah tergantikan oleh konsep penampakan (appearing). Dengan demikian objek-objek konsumsi tidak semata lagi ingin dimiliki karena tuntutan kebutuhan biologis, melainkan lebih didorong oleh keinginan-keinginan meraih citra. Bagi Baudrillard ini berarti kelahiran nilai simbolis (sybolic value) dan nilai tanda (sign value).
Salah satu yang paling menarik dari pemikirtan Baudrillard adalah pandangan tentang topologi perkembangan masyarakat. Karl Marx meyakini bahwa masyarakat akan berkembang melalui tiga lintasan, yakni masyarakat primitif―feodal, masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. Masyarakat primitif merupakan konstruksi masyarakat yang berlangsung dari zaman Yunani sampai dengan terjadinya Renaissans. Dalam konstruksi masyarakat ini belum terdapat pembagian kelas kerja, atau pembagian kelas berdasarkan mekanisme ekonomi-produksi. Masyarakat Kapitalis terbentuk seiring dengan lahirnya konsep tentang kepemilikan atau hak milik. Masyarakat kapitalis terbagi menjadi kelas pekerja (buruh) dan kelas pemilik modal. Sedangkan masyarakat komunis, bagi Marx, merupakan konstruksi masyarakat yang paling ideal. Dalam fase ini tidak lagi terdapat pembagian kelas, yang ada hanyalah kesetaraan. Namun, dalam pandangan Baudrillard periodisasi masyarakat tidaklah speeti yang diyakini oleh Marx. Bagi Baudrillard, periodisasi perkebangan masyarakat adalah lintasan (trajectory) masyarakat primitif, masyarakat hierarkis dan masyarakat massa. Pada titik inilah Baudrillard berpisah dari pemikiran Marx.
Masyarakat pritimitif, dalam pandangan Baudrillard, merupakan konstruksi masyarakat yang tidak mengenal penandaan atau tanda. Objek dikelola secara murni berdasarkan fungsi-fungsi alamiahnya. Pada masyarakat Masyarakat hierarkis lahirlah tanda-tanda yang beroperasi dengan lingkup dan cakupan yang sempit. Tanda mulai menggantikan fungsi guna atau fungsi murni dari objek-objek. Tanda yang pertama kali berkembang adalah nilai tukar. Sementara pada masyarakat massa, tanda usdah tidak dapat dikendalikan oleh otoritas masyarakat. Tanda menjadi sangat dominan sehingga obyek tidak dapat lagi menjadi sesuatu yang murni. Di sinilah letak kebudayaan massa atau kebudayaan populer.
Kebudayaan massa adalah sebuah jawaban bagi sebuah masyarakat yang hidup dalam pelbagai simbol dan tanda-tanda yang saling bertubrukan. Kebudayaan massa hadir dengan membawa etos dan format baru kehidupan. Dalam kebudayaan massa, sesuatu yang bersifat dalam menjadi tidak penting, dikalahkan dengan penampilan dan penampakan yangmuncul dipermukaan. Era kebudayaan massa adalah era pemujaan atas nilai-nilai penampakan, perayaan kebebasan (emansipasi-liberal), kenikmatan tanpa kekhusyukan, permainan, kedangkalan, kemeriahan dan kesenangan yang penuh bujuk rayu (seduction). Dengan demikian, sangatlah pantas jika masyarakat konsumer disandingkan dengan keberadaan kebudayaan massa sebagai sebuah prototipe legitimasi kultural atas perilaku konsumsi.
Budaya massa secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kebudayaan yang cair dan tak memiliki sekat pembatas klasikal bagi penikmat. Ia ―meminjam istilah Richard Rorty― bersifat something goes, atau seba boleh atau boleh-boleh saja. Istilah massa bersifat berlawanan atau bersifat oposisi biner dengan istilah budaya aristokrasi atu budaya kelas tinggi seperti model kebudayaan musik barok pada khazanah musik klasik Eropa.
Jejak kebudayaan massa sebanrnya telah ada sejak masih bercokol kuatnya budaya aristokrat. Dalam sejarah Yunani, kita mengenal perhelatan Olimpiade yang merupakan sebuah pesta rakyat yang juga dinikmati dan dihadiri oleh para penguasa aristokrat zaman itu. Padapandangan lain, merujuk Leo Lowhental yang dikutip Dominic Strinati, kebudayaan massa dapat dilacak keberadannya sejak era sirkus pada masa Romawi kuno. Sirkus merupakan sebuah bentuk kebudayaan plural yang terdiri dari permainan, pesta rakyat dan olahraga yang secara bebas dapat dinikmati oleh siapapun (Dominic, 1995. bandingkan dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia berjudul popular culture. Jejak. 2007).
Namun pada perkembangannya, politik ekonomi kapitalisme telah mengadopsi sistem pembiakan budaya massa sebagai upaya guna memasifkan kampanye penerimaan komoditas ekonomi tertentu. Dengan menciptakan modus standarisasi dan dan penyeragaman selera atau rasa, mekanisme pembuatan produk akhirnya terarah langsung menuju sebuah model kemassalan kebudayaan dalam kerangka konsumsi.
Mungkin kita dulu tidak mengenal merk atau ikon-ikon perdagangan seperti Nike, Kentucky Fried Chicken, McDonald, Pizza Hut, dan sebagainya. Dengan penyeragaman rasa akhirnya kita mengenal dan secara bebas menerima merek-merek tersebut sebagian bagian yang ―seakan-akan― alamiah ada dalam kebudayaan kita. Pernahkah kita mengamati sebuah fenomena jilbab? Selepas peluncuran film Ayat-ayat Cinta masyarakat berjilbab dihebohkan dengan trend jilbab ala zaskia Adya Mecca.
Budaya massa awalnya adalah budaya rendahan ―tepatnya budaya rakyat atau folkculture― yang berposisi lawan sebagai lawan kata budaya tinggi para aristokrat. Namun, menurut catatan McDonald, kebudayaan tersebut akhirnya dipolitisir sebagai media penyeragaman atau meledakkan kebudayaan tinggi sehingga tak lagi ada sekat dan batas yang dapat membedakan. Contohnya, pada kasus cara berpakaian, dalam budaya massa tidak ada perbedaan klasikal bagi pengguna Jeans, baik orang miskin atau kaya, selama mampu memiliki tetap akan boleh menggunakan.
Demokrasi merupakan instrument penting merebaknya budaya massa. Demokrasi setidaknya menjadi perangkat yang menghancurkan tembok pemisah antara kebudayaan kelas tinggi dengan kebudayaan kelas bawah. Hancurnya hierarki tradisional melalui kekuatan demokrasi telah menegakkan dan mengukuhkan kekuatan budaya massa secara lebih kuat. Hal ini juga sangat terkait dengan epistimologi universal dari dunia Barat.
Dalam ukuran politisasi kebudayaan kapitalistik, dunia boleh saja berubah demi tercapainya target-target ekonomi tertentu. Dengan modal tersebut, diciptakanlah upaya-upaya untuk membangun sebuah keseragaman kebudayaan ―meski sedikit gegabah tetap harus saya sebut sebagai globalisasi― yang memungkinkan diterimanya keseragaman produk di belahan dunia yang berbeda. Sebagai upaya mempermudah masuknya produk, maka diciptakan pelbagai etos kebudayaan yang bersandarkan pada asas-asas perayaan atas hal-hal yang dangkal, sepele, sentimental dan penuh kemeriahan. Hedonisme adalah prinsip utamanya. Kehadiran budaya massa juga menimbulkan penolakan pada sakralitas dan keluhuran yang memang sulit untuk dipikirkan. Ciri lain dari budaya massa adalah miskinnya makna dalam setiap ruang interaksi yang dibangun, seperti fenomena cafe, diskotik, dan mall.
Untuk membangun keseragaman kebudayaan demi massifnya idiologi ekonomi, maka pelbagai upaya dilakukan oleh kelompok kapitalis. Sebut saja dengan memasifkan demokrasi, menciptakan pendidikan bernuansa global, stereotipikasi regional, dan penanaman citra-citra pada produk.
Pembentukan citra dankesan atas situasi dan produk tertentu tidak terlepas dari kekuatan teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat. Televisi dan internet adalah yang paling utama. The satanic box (TV) merupakan alat liturgy terpenting dalam perayaan doa-doa kemeriahan budaya massa. Dengannya, pelbagai pencitraan dan kampanye idiologis ditampailkan secara massif agar perlahan dapat diterima sebagai sesuatu yang natural. Dunia televisi bagi Baudrillard merupakan sebuah dunia dimana segala yang real dan yang palsu melebur menjadi sebuah keyakinan dan keniscayaan. Televisi merupakan ruang bertumpuknya pelbagai simbol, tanda, impian dan citra yang secara gradual dilesakkan ke dalam pikiran para penontonnya. Istilah masyarakat tontonan (spectacle of society) merupakan istilah yang menunjuk mayoritas diam para penikmat televisi yang dengan tanpa daya kritis apapun menerima pelbagai suguhan di dalamnya.
Dengan dukungan teknologi tersebut kampanye pembumian citra berlangsung. Mari kita telaah dari contoh yang sederhana. Iklan.
Iklan merupakan perangkat penting agitasi pembentukan budaya massa. Semangat iklan bukan hanya semangat memperkenalkan produk tetapi lebih merupakan semangat untuk memasukkan idiologi mengkonsumsi baghi para pemirsanya. Iklan Lux tampil dengan model Dian Sastro Wardoyo; Iklan rokok tampil dengan segala macam kegagahan laki-laki; dan iklan mobil menampakkan bentuk dan kesan sebagai sesuatu yang berbau Eropa. Mari berpikir sedikit kritis, benarkah semua citra yang terbangun tersebut?
Keberadaan Dian Sastreo sebagai bintang iklan bukanlah sebuah ketidaksengajaan, namun lebih merupakan propaganda semiotis. Ia merupakan penanda dari petanda yang berupa nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh produsen produk sabun tersebut. Dengan memunculkan Dian sastro sebagi aktor penanda, akan terbangun mindset bahwa cantik adalah seperti Dian Sastro dan dia menggunakan sabun LUX. Masih adakah yang dapat dipercayai dari iklan?
Iklan merupakan sebuah retorika citra dalam istilah Barthes. Merujuk Barthes segala prinsip-prinsip penandaan dalam iklan yang berupa kecantikan, kehalusan, kehormatan merupakan sebuah glamorisasi. Galamorisasi adalah pelepasan suatu objek dari konteksnya. Glamorisasi membuat ―masih menggunakan contoh iklan Dian Sastro― kesan cantik akan terlekat di luar konteks yang sebenarnya dan bersifat dependen pada produk-produk tertentu. Seakan-akan setiap orang membeli lux agar menjadi seperti dian Sastro Wadoyo. Pada contoh lain, pembelian Mercedes Benz cenderung bukan lagi merupakan persoalan kebutuhan kedaraan tapi penikmatan atas nilai dan tanda prestise yang menempel pada kendaraan tersebut.
Kesamaan atau keseragaman model dan etos adalah corak terpenting dalam kebudayaan massa. Keseragaman tersebut dapat kita temui pada fashion, kendaraan, kuliner, gaya hidup, hobby dan berbagai bentuk keseragaman lain yang sangat ditunjang oleh konstruksi kebudayaan massal. Peniruan pada dasarnya merupakan sifat alamiah manusia. Manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan imitasi atas nilai dan bentu-bentuk yang dipercaya atau dirasakan mempunyai kecocokan. Namun, pada konteks budaya massa, peniruan yang mengarah pada keseragaman yang dibentuk secara terperinci dan sistematis oleh sebuah otoritas politik ekonomi. Inilah yang mengkhawatirkan.
Simulasi, adalah istilah yang digunakan oleh Baudrillard untuk menunjuk proses kreasi imitasi atas realitas yang hampir menyerupai realitas sebenarnya. Simulasi beroperasi dengan meniadakan referensi, kebenaran, dan realitas, serta mengedepankan penampakan sebagai prinsip ontologis. Dengan simulasi, orang akan terjebak masuk ke dalam suatu ruang yang dirasa seakan nyata meskipun sesungguhnya merupakan kesemuan. Pelbagai perbedaan antara yang asli (real―benar-benar ada) dan yang fantasi menjadi sangat tipis melalui prinsip-prinsip simulasi tersebut. Dalam televisi, sinetron contohnya, realitas dicipta menggunakan teknologi. Efek tidak langsung dari pencitraan tersebut bersifat psikologis. secara psikologis, penonton akan terjerat dalam kurungan emosi dan kognisi yang menimbulkan kesadaran seakan-akan realitas dalam sinetron adalah yang sebenarnya.
Smack Down, contoh lainnya, adalah sebuah olahraga gulat yang dipenuhi oleh pencitraan dan simulasi. Smack Down bukanlah sebuah gulat yang sebenarnya, melainkan sebuah citra akan bentuk olahraga gulat. Tehnik pencitraan televisi atau teknologi memungkinkan munculnya penilaian bahwa para pegulat Smack Down sunguh-sungguh tengah saling bertarung dan mengalahkan. Walhasil, banyak diketemukan kasus peniruan yang bukan hanya dilakukan oleh anak-anak, bahkanoleh orang dewasa yang secara kognitif dipercaya telah lebih mapan.

Lacan Dan Hasrat Mengkonsumsi
Membaca fenomena kebudayaan massa menggunakan psikoanalisa sungguh mengasyikkan. Setidaknya kita menemukan sebuah prototipe otomatisasi perilaku dalam individu yang bergerak dari ruang bawah sadar. Namun pembacaan atas fenomena kebudayaan massa dalam tulisan ini akan mencoba menggunakan model psikoanalisa Lacanian yang mungkin kurang masyhur di kalangan akademisi psikologi di Indonesia. Hal ini mungkin juga tidak jauh berbeda dengan nasib pengembangan psikoanalisa ala zizek dan Fanon, keduanya justeru mendapat tempat terhormat pada diskursus filsafat dan ilmu-ilmu sosial.
Sebagai catatan awal, kepercayaan pertama yang dibangun oleh modernisme adalah kerpercayaan atas mandirinya manusia yang memiliki kesadaran. Cogito ergo sum adalah patokannya. Manusia dipercaya sebagai mahluk yang berkuasa terhadap segala bentuk fantasi, imajinasi, khayal yang terus membayangi kekuatan rasionalitasnya. Freud Muda telah menguji tesis tersebut. Freud dengan topologi kesadaran-ketidaksaran menghantam pemikiran tersebut. Ego-cogitan dicurigai oleh Freud dikendalikan oleh ketidaksadaran yang merupakan produk perkembangan perversitas polimorfosis bayi manusia. Namun serangan Freud tidak bertahan lama. Kemunculan konsep ego menampakkan watak paradoks dari pemikiran Freud. Ego akhirnya dipercaya mampu selalu menundukkan id ―sebagai kekuatan ketidaksadaran. Disinilah Freud dinilai ikut merayakan ego Cartesian.
Jaques Lacan justeru meragukan kemajuan pemikiran yang dicapai oleh Freud tersebut. Baginya tidak mungkin ego adalah yang sepenuhnya sadar. Ego adalah pseudo kesadaran yang lahir dari proses kesalahan membangun konsep diri pada fase cerminal. Bagi Lacan, adalah sesuatu yang bernama hasrat (desire) yang tidak tertundukkan dalam perjalanan hidup manusia. Hasrat adalah salah satu bentuk lain dari ketidaksadaran dalam konsepsi Freud muda meskipun tidak seutuhnya sama.
Penting untuk mengingat bahwa fase cerminal telah mencipta konsep diri atau ego pada manusia. Tetapi ego tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Karena ke-aku-an dinilai akan terus berjalan dengan ke-lian-nan. Kesadaran akan aku adalah kesadaran akan yang liyan. Aku sebagai hasil fase cerminal tetaplah bukan sesuatu yang sempurna sebagai “aku’, pseudo-aku atau ego ideal, tepatnya. Aku yang muncul melalui proses pengenalan melalui cermin tetaplah kesalahan persepsi atas makna diri. Sebagai catatan lainnya, manusia berproses sepenuhnya untuk kembali pada fase Yang Real. Sebuah fase yang tanpa kekurangan. Keinginan kembali pada fase tersebut merupakan salah satu asal-usul hasrat.
Pada konsep perilaku selanjutnya, manusia selalu menggunakan konsep diri yang salah tersebut sebagai piranti berperilaku dan berhubungan dengan dunia liyan ―selain aku. Artinya, ego yang dipercaya sadar sebenarnya masih menyimpan hasrat ketidaksadaran. Intinya, Manusia senantiasa berperilaku guna mencapai kesempurnaan yang hilang seiring lepasnya fase Yang Real.
Untuk menemukan konsep diri, sebenarnya manusia kerap mengulangi fase cerminal yang terdapat dalam fase Yang Imajiner. Manusia sering melakukan konfrontasi atau pengecekan konsep diri dengan keberadaan liyan dalam Liyan-liyan aktual. Cermin yang bermakna metaforis dapat memiliki arti segala sesuatu yang digunakan seseorang untuk meyakinkan keberadaan dirinya, atau keberadaan konsep tentang dirinya. Cermin itu dapat berupa orang lain, tayangan bergambar, ketokohan, ibu, atau pelbagai hal lainnya. Keberadaan cermin memang sangat penting agar seseorang menyadari bahwa dirinya eksis.
Fungsi cermin adalah media penyetaraan konsep diri. Artinya, seseorang melihat dirinya melalui liyan. Proses konsfrontasi atau pengecekan tersebut setidaknya memberikan efek terbentuknya konsep diri yang dipengaruhi oleh bentuk dan skema liyan yang menjadi cermin.
Pada budaya massa, iklan, televisi, bintang, mall, dan berbagai perangkat politik ekonomi lainnya merupakan cermin yang ―dirasa maupun tidak― digunakan untuk mengkonfrontir atau memastikan konsep tentang diri. Ketika seorang perempuan melihat Dian Sastro yang cantik, ia akan mencoba melakukan konfrontasi konseptual dirinya dan Dian Sastro. Jika dirasa terdapat kekurangan dalam dirinya, maka hasrat akan mendorong terbentuknya perilaku guna pencapaian kepenuhan konsep diri tersebut, dalam konteks ini adalah dengan konsumsi. Konsumsi artinya buukan semata untuk memenuhi diri dengan kebutuhanakan sabun, tapi juga sebagai upaya pemenuhan konsep diri yang dirasa kurang, yakni keinginan menjadi seperti Dian sastro sebagai hasil dari mekanisme cerminal.
Lalu mengapa kebudayaan masa berkembang sebegitu cepat?
Kembali pada dasar konsep bahwa seseorang merupakan cermin atau liyan bagi ego-ego yang lain. Interaksi secara otomatis telah menciptakan sirkulasi cerminal: orang-orang saling menjadikan yang lain sebagai cermin untuk mengutakan konsep egonya. Jadi, ketika ketidakmiripan terhadap bayangan cermin dirasakan, seseorang akan berupaya melakukan pemenuhan secara otomatis. Model pemenuhan ini tidak membutuhkan bahasa, karena hasrat tidak dapat ditunggangi oleh bahasa ―setidaknya menurut konsepsi Lacan. Ketika Mall menjadi sebuah cermin, maka ketidaksesuaian dengan konsep mall tersebut akan segera diupayakan untuk terpenuhi oleh ego seseorang.
Kebudayaan massa dalam konteks ini, merupakan sebuah cermin yang menuntut seseorang untuk terus melakukan evaluasi dan konfrontasi ego-idealnya terhadap model-model dan bentuk yang sesuai. Dengan pencermatan yang sedemikian rupa, keyakinan Lacan bahwa manusia yang sesungguhnya benar-benar tidak sadar dapat diperluas pengertiannya, menjadi kemungkinan adanya ketidaksadaran massal yang disebabkan oleh sistem penandaan yang berseliweran dengan tanpa titik pemberhentian.
Catatan penting untuk psikoanalisa Lacan adalah sifatnya yang telah lepas dari konsep biologis; hasrat telah melampaui sesuatu yang biologis. Meskipun secara biologis kebutuhan telah terpenuhi, namun hasrat untuk menyempurnakan konsep diri tetap tidak terhenti. Hasrat peniruan adalah hasrat agar sesuai dengan suatu kelompok atau orang lain sehingga dirinya dapat memperoleh penghargaan atau pengakuan atas eksistensi.
Dalam pembacaan Lacanian, yang liyan adalah adalah penanda bagi liyan-liyan yang lain, inilah yang menyebabkan terbentuknya sirkulasi penandaan. Menjadi sadar, setidaknya, berarti mengurangi atau sedikit menghentikan sirkulasi penandaan antar liyan-liyan. Dengan demikian, menjadi sadar pada era konsumerisme berarti berupaya menghentikan efek penandaan yang mempengaruhi konsep aku-ego pada diri masing-masing individu. Menjadi sadar berarti mengupayakan terhentinya efek penandan oleh liyan-liyan yang diciptakan secara sistematis dalam ruang kebudayaan massal agar tidak menjadi faktor pemengaruh pada ego. Namun menurut Lacan, uapaya tersebut tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Perhentian satu sistem penandaan akan menimbulkan efek timbulnya sirkulasi penandaan lainnya. Kesulitan lainnya ―menurut Lacan― adalah bahwa hasrat tidak dapat dibincangkan dalam mekanisme kebahasaan, sehingga kemunculannya selalu bersifat tiba-tiba dan tidak dinyana.
Manusia, sungguh-sungguh tidak sadar. Titik. Menurut Lacan.

Glosarium
Nihilisme : sikap atau pandangan yang menolak nilai-nilai kebenaran moral, dan melihatnya dalam posisi yang berada di titik nol, artinya pada titik yang tidak memiliki polarisasi nilai
Semiotika : ilmu tentang tanda-tanda serta penggunaannya dalam masyarakat
Tanda : unsur dasar semiotika dan komunikasi, yaitu segala yang mengandung makna, yang memiliki dua unsur, penanda (bentuk) dan petanda (makna).
Budaya massa : kategori kebudayan yang diciptakan untuk massa yang luas, Adorno memandangnya sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera massal atau rendah
Citra : sesuatu yang tampak oleh mata namun tidak memiliki eksistensi substansial
Fase cermin : fase penting perkembangan bayi dalam psikoanalisa Lacanian, saat bayi pertama kali mengenal dirinya melalui cermin. Namun yang dilihatnya tidak lebih dari sekedar citraan, representasi semu atau ego palsu dari dirinya yang sesungguhnya
Idiologi : sebuah sitem kepercayaan dan sistem nilai serta representasinya dalam berbagai media dan tindakan sosial
Konsumerisme: manipulasi tingkah laku para konsumen melalui berbagai aspek komunikasi pemasaran
Masyarakat tontonan: masyarakat yang pelbagai aspek hidupnya dipenuhi dengan tontonan yang kemudian dijadikan referensi dan patokan dalam hidupnya
Oposisi biner : prinsip pertentangan antara istilah yang berseberangan dalam istilah strukturalisme, yang satu memiliki makna yang lebih superior tinimbang yang lain, seperti baik-buruk, lemah-kuat, dll.
Habitus : struktur kognitif yang menghubungkan individu dengan realitas sosial. Istilah ini muncul dalam sosiologi Pierre Bordieu
Penampakan (Appearing) : kualitas objek yang secara langsung dapat ditangkap oleh instuisi, untuk membedakan yang berada dalam jangkauan intuisi dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan intuisi
Hasrat/desire : istilah dalam psikoanalisa lacanian sebuah mekanisme psikis berupa gejolak rangsangan terhadap objek atau pengalaman yang menjajnjikan kepuasan, yang selalu berupa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang telah hilang ketika manusia menjadi dewasa, yaknikepuasan bersatu dengan ibu.
Intertekstualitas : kesaling terhubungannya satu teks dengan teks yang lain atau teks-teks sebelumnya, dalam bentuk persilangan kutipan dan ungkapan-ungkapannnya. Satu teks dengan yang lain bersifat saling mengisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: