Skip navigation

Seringkali kali saya merasa ngeri dan takut sendiri menyaksikan berbagai aksi kekerasan atas nama agama yang kian meningkat akhir-akhir ini. Sesering itu pula saya merasa takut mendengar begitu mudah kata sesat, salah dan kafir ditudingkan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain yang berbeda.

Soal kebenaran memang terbukti merupakan persoalan paling sensitif dalam ruang hidup manusia. Sejarah panjang manusia telah membuktikan itu. Sejarah mencatat kisah Galileo, Mihnah, G 30 S, dan masih banyak lagi pergulatan kebenaran yang memakan korban. Apakah sebenarnya yang disebut sebagai kebenaran?

Mari mendudukkannya dalam sebuah model refleksi sederhana.

Pada masa kekuasaan Khalifah al-Makmun, dalam sejarah Islam, Mu’tazilah merupakan aliran yang diakuisisi oleh negara sebagai aliran resmi keagamaan negara. Negara hanya mengakui bahwa itulah bentuk kebenaran. Hasilnya, darah para penganut alirn lain tumpah atas nama kebenaran tersebut. Pertanyaan kita seharusnya sederhana, kebenaran mu’tazilah, dalam konteks ini, benarkah sepenuhnya merupakan kebenaran teologis, ataukah sekedar kebenaran politis?

Adalah Nuruddin ar-Raniry seorang ulama Aceh yang sangat getol memperjuangkan perlawanan terhadap kelompok wujudiyyah dalam sejarah Aceh. Ketika memperoleh kesempatan menduduki posisi sebagai penasihat keagamaan kerajaan, Nuruddin membuat kebijakan yang sangat mengejutkan. Kelompok wujudiyyah tidak hanya ditemptkan sebagai kelompok yang murtad, lebih jauh ditempatkan sebagai kelompok yang darahnya menjadi halal dan boleh untuk ditumpahkan. Benarkah Tuhan menganjurkan pertumpahan darah?

Pada konteks Indonesia, mitos kesalahan Marxisme dan kesalihan selainnya tidak hanya membentuk sebuah konstruksi berpikir yang salah untuk melihat secara tepat aliran pemikiran ini, tapi juga telah sekian lama memelihara ketidakadilan. Banyak orang yang tidak terlibat menjadi korban, nyawa ditumbangkan, anak-anak dan para keturunan kehilangan hak-hak, orangorang tertuduh endapat hukuman tanpa pernah diberi kesempatan membela diri. Jika ini soal kebenaran, mengapa tidak dapat menunujukkan keadilan?

Saya hanya ingin menunjukkan bahwasanya kekuasaan adalah satu bentuk mekanisme mempertahankan kebenaran. Atau, kebenaran sering kali bertumpu pada kekuasaan yang bersifat politis. Lantas, benarkah politik itu benar-benar bersih dari kepentingan? Saya, dan mungkin, siapapun tidak ada yang menjamin. Kebenaran adalah sesuatu yang diperebutkan dan ditempatkan sebagai mekanisme pertahanan kekuasaan.

Bagaimana jika kebenaran ilahiyyah ditarik pada ruang yang politis? Disinilah penting untuk menemukan “metafisika kehendak” untuk berkuasa dalam makna kebenaran tersebut. Saya tidak yakin bahwa sepenuhnya orang yang berjuang mengatasnamakan kebenaran agama atau aliran tertentu itu benar-benar berjuang atas nama kebenaran hakiki. Saya cenderung mencurigai bahwa mereka punya kehendak kekuasaan. Contohnya sederhana, sebuah kelompok dengan cara kekerasan menutup Bar, café, menyerang kelompok lain dengan alasan kesesatan. Mereka berharap orang-orang dan kelompok lain menjadi sadar dan ikut dalam konstruksi kebenaran mereka. Apakah ini bukan motif kekuasaan yang menunggangi kebenaran?

Kebenaran itu tidak bersifat destruktif pada dasarnya. Kebenaran adalah kebenaran sebagaimana dirinya. Campur tangan manusialah yang menimbulkan perdebatan dan perseteruan dalam penyikapan kebanaran. Hal ini tentu sangat bersifat aksiologis, untuk apa kebenaran itu diketahui? Untuk apa seseorang menjadi mengerti agama? Dan pertanyaan paling mendasar, untuk apa agama diberikan dan diwahyukan kepada manusia?

Sering saya mendengar ceramah dan ulasan-ulasan keagamaan yang menyatakan tujuan agama adalah memperbaiki akhlaq manusia, membangun kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Tapi dalam prakteknya, agama kerap menjadi motif dan alat pelanggeng kekuasaan. Lihat asaja konflik antar aliran dan organisasi keagamaan di Indonesia contohnya, mereka sama-sama menggenggam kalimat dan pernyataan bahwa mereka tengah menenggam dan menjaga kebenaran.

Tuhan itu maha tahu, sementara manusia itu maha bodoh, itu perlu disadari. Manusia tidak memiliki otoritas untuk membentuk dan mengklaim kebenaran, hak manusia hanyalah mengutarakan. Dalam pengutaraannya, wajarlah kiranya terdapat kelompok atau individu yang memilih berbeda.

Berarti, setelah kebenaran, yang terpenting adalah sikap untuk memperlakukan kebenaran. Kebenaran perlu juga ditempatkan secara benar. Secara tepat. Kebenaran dengan penempatan yang tidak atau kurang tepat akan mengganggu esensi kebenaran itu sendiri.

Astaghfirullah. Atubu ilaik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: