Skip navigation

Di usia yang masih kanak-kanak, tepatnya usia saya masih bersekolah dasar, saya mempunyai satu hobi yang sulit dibatasi oleh orang tua. Tidur di mushalla. Saya tinggal di sebuah kampung kecil, miskin, tapi penuh dengan segala kemeriahan warganya. Kampung ini sangat sepi. Sangat terpencil. Berada di sebuah provinsi di Sumatra yang akhir-akhir ini sering saya sebut sebagai provinsi timur di wilayah Indonesia Barat: Bengkulu. Saya besar dan menyelesaikan sekolah dasar di provinsi itu.

Sawah Lebar, itulah nama kampung itu. Masyarakat kampung ini memiliki satu masjid dan satu mushalla. Masjid ini pada akhirnya kalah dengan mushalla yang jauh sangat tertinggal dari ukuran bangunan. Mushalla kecil ini ternyata memiliki kekuatan menginspirasi yang cukup kuat bagi masyarakat sekitar. Sebut saja dalam dua tahun, mushalla ini sanggup mengorganisir pemuda untuk memiliki kegiatan yang dulu benar-benar tidak ada. Barzanji yang tidak ada menjadi ada, misalnya. Atau yasinan keliling pada malam jum’at yang sangat massif diikuti oleh para bapak. Ada juga pengajian kitab Tafsir Jalalain yang berlangsung seminggu sekali. Anak-anak pun tak kalah, sehari ada tiga giliran waktu untuk belajar al-Qur’an di sana. Saya tidak menganggap ini sebuah gerakan personal seseorang yang memobilisir atau berupaya membangun bentuk baru kebudayaan masyarakat melalui mushalla, saya lebih suka menyebutnya sebagai keinginan masyarakat sendiri untuk memiliki etos kebudayaan baru.

Kembali ke hobi, saya suka tidur di mushalla. Mulanya, hamper setiap malam minggu. Tapi berikutnya hamper setiap malam saya lewatkan di mushalla. Kawan-kawan saya pun tidak sebaya, rata-rata berusia jauh lebih tua dari saya.

Mushalla ini sangat berharga bagi masyarakat di sana. Tidak hanya sebagai bangunan, tapi sebagai pusat kekuatan kebudayaan. Saya masih sangat bias merasakan bagaimana hangatnya masyarakat secara bersama-sama mengisi secara rutin kegiatan di sana. Tidak ada yang senior, yang ada hanya orang-orang yang dipercaya secara kolektif berdasarkan keputusan yang kolektif pula. Tidak ada idiologi politik, tidak ada idiologi aliran dan tidak pula proses salling gunjing menyesatkan. Di mushalla itu, nahdliyyin, muhammadiyyin, pertiyyin, atau pengikut lembaga-lembaga keagamaan dapat tumpah ruah merayakan kepmilikan atas musholla.

Mengapa saya berani dan hobi tidur di mushalla? Beberapa alasan saya miliki dengan ukuran sebagai anak-anak saat itu. Pertama, saya suka bergaul dengan orang-orang yang usianya jauh di atas saya. Kedua, saya benar-benar menikmati rasa kekeluargaan jamaah mushalla. Terakhir, saya merasa aman untuk berada di mushalla. Di mushalla, saya tidak hanya berjamaah, mengaji, atau beribadah formal seperti yang biasa dilakukan di tempat ibadah. Saya juga bermain, tapi tentu tidak di waktu-waktu orang-orang beribadah. Saya merasa aman. Orang-orang tua juga mampu mejaga rasa aman tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, sekembali dari dunia pesantren, saya sering merasa menemukan kejanggalan pada masjid-masjid dan mushalla-mushalla. Termasuk yang saya dulu tempati sebagai ruang beribadah dan bermain. Selama di pesantren saya hanya berhubungan intens dengan satu masjid, hanya masjid di lingkungan pondok.

Apa perbedaan yang saya rasakan pada masjid-masjid?

Saya menganggap masjid bukan semata ruang dan atau tempat ibadah. Lebih spesifik, saya menganggapnya sebagai ruang kemasyarakatan. Artinya ada sisi lain pada masjid selain sisi sakralnya. Masjid bisa saja bersisi profan. Namun, ruang profan seperti apakah yang sebenarnya lekat pada masjid? Kembali saya mencoba merefleksikan sembari mengingat-ingat pengalaman masa kecil. Tak ada kesimpulan final memang, karena saya tidak berani. Tapi saya berani mengingat, dan harus berani untuk mengingat. Seingat saya, masjid mampu mewadahi berbagai aktifitas sosial di luar urusan yang melulu ibadah. Itu saya kira tetap ada pada masjid. Yang hilang adalah netralitasnya. Masjid tetap menjadi ruang yang memfasilitasi masyarakat dalam aktfitasnya, tapi masjid sudah semakin sulit menerima keragaman penggunanya. Sebut saja secara berani, masjid sering menjadi milik kelompok. Karena milik kelompok, maka ruang menjadi terbatas bagi kelompok lainnya. Keterbatasan ini terbukti dengan ketertutupan pada jamaat yang berasal dari aliran lain. Kegiatan yang mengedepankan semangat membangun kelompok sempit saja. Kegiatan yang membuat tidak nyaman kelompok muslim lainnya.

Saya menangkap isyarat bahwa masjid mulai menjadi seperti partai politik (parpol). “Sebagai” parpol masjid kehilangan netralitas. “sebagai” parpol masjid sudah mulai memihak kelompok tertentu. “sebagai” Parpol masjid kehilangan jati diri. “Sebagai” parpol masjid sudah, ah sulit diceritakan.

Seringkali saya menyinggahi sebuah masjid yang para jamaahnya menatap tajam jamaah yang tidak dikenal. Juga tatapan tajam pada bentuk sembahyang yang berbeda. Apakah ini berarti masjid sudah menjadi milik sementara orang. Semoga tidak.

Apakah masjid harus dikelola dengan manajemen yang garang seperti ini?

Semoga semua asumsi saya ini salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: