Skip navigation

Tradisi kedua yang kerap menghilangkan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia adalah penggunaan singkatan secara tidak tepat. Penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan orang tidak mengetahui asal kata atau kata-kata yang menyusun pelbagai singkatan. Apalagi jika kebiasaan untuk menggunakan singkatan tidak diikuti dengan kebiasaan untuk memberikan penjelasan atas singkatan.

Saat makan siang bersama dua orang kawan, kami menemukan sebuah singkatan yang ditulis secara sembrono di sebuah koran lokal di Yogyakarta. Minyak tanah dengan sangat sembrono ditulis dengan singkatan “minah.” Yang lebih merisaukan kami, singkatan tersebut diletakkan sebagai judul yang dicetak dalam ukuran huruf yang besar. semestinya penggunaan singakatan pada tulisan, harus dibarengi dengan penulisan asal kalimat pembentuknya.Sebut saja kata pemilihan umum (pemilu).

Saat berkeinginan untuk menulis sebuah artikel, tulisan atau berita yang banyak menggunakan kata pemilu (berupa singkatan), penulis perlu untuk menuliskan kata-kata asal saat pertama kali kata pemilu digunakan dalam tulisan tersebut. Ketika menggunakan kata pemilu selanjutnya barulah si penulis diperbolehkan menggunakan kata pemilu secara langsung tanpa menuliskan kepanjangan kata tersebut.

Persoalan terbesar dari tradisi menyingkat kata tanpa penjelasan adalah distorsi pengetahuan. Kata Sinetron contohnya. Sinetron adalah singkatan dari sinema elektronik. Karena tersusun dari dua buah kata, maka pengertian sinetron sebagai sebuah perpaduan kata tentu mewakili makna kedua kata penyusunnya. Sinema memilki arti tersendiri, begitu pula elektronik. Perpaduan keduanya menjadi kata sinetron tentu menimbulkan makna berbeda yang tidak secara langsung menghilangkan arti kedua kata asalnya. Penggunaan kata sinetron secara langsung tanpa mengetahui kata asalnya tentu telah mereduksi arti kata sinetron.

Ketika seorang penulis memutuskan untuk menggunakan singkatan dengan terlebih dahulu menjelaskan kata-kata asalnya, sang penulis tersebut telah ikut serta dalam upaya menjaga detil-detil pengetahuan. Semakin detil seseorang memahami suatu pengetahuan, semakin besar kemungkinan pengetahuan tersebut dikembangkan. Sebaliknya, apakah kesalahan dalam perumusan sumber pengetahuan dapat menghasilkan pengetahuan yang tepat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: