Skip navigation

Category Archives: 1

Keberadaan internet sebagai salah satu teknologi terkemuka memperluas kemungkinan keteraksesan informasi di tengah masyarakat. Meningkatnya akses internet di tengah masyarakat Indonesia merupakan salah satu peluang bagi organisasi masyarakat sipil untuk mendukung upaya demokratisasi dan pembangunan. Perkembangan sistem pengelolaan isi (content management system/CMS) kini memungkinkan interaksi melalui portal (web) menjadi lebih beragam. Dunia internet yang dulunya sebatas teks, kini mampu menampilkan vidio dan audio. Sangat disayangkan jika perkembangan teknologi tersebut tidak digunakan secara maksimal. Read More »

Iklan

Ada yang lain dari Kang Jan hari ini. Tidak seperti kebiasaannya tidur selepas subuh, pagi ini ia langsung mandi lalu berpakaian rapi. Wewangian pun ia pakai. Sungguh tak biasa. wewangian itu seperti barang kramat bagi Kang Jan, ia hanya menggunakannya pada hari-hari tertentu saja, seperti saat shalat Jum’at atau shalat idul fitri. Istrinya yang tikdak mendapat pemberitahuan soal rencana Kang Jan hari ini pun dibuat keherananan. Bagaimana tidak, tadi Malam Kang Jan tetap memabuka angkringan sampai Jam 2 dan pagi ini dia tidak tidur lagi. Biasanya selepas subuh Kang Jan langsung molor menikmati kasur. Ia tidur sampai jam 8 pagi lalu berangkat ke pasar membeli kebutuhan angkringan.

Tapi pagi ini sungguh berbeda. Tak hanya menggunakan minyak wangi, Kang Jan juga menggunakan batik pamungkasnya. Setelan batik buatan Istri ini bukan batik sembarangan. Dalam setahun belumlah pasti satu kali ia gunakan. Pemberian istri merupakan salah satu barang keramat. Bukan soal bagusnya atau buruknya batik itu, tapi soal penghargaan kepada istrinya. Biasanya Kang Jan hanya menggunakan batik itu saat bepergian bersama istri tercinta. Maklum, meskipun Kang Jan sedikit galak ia terkenal sangat sayang pada istrinya. Di kampung itu nyaris tak ada laki-laki yang mau bekerja di dapur membantu istri selain Kang Jan. Bahkan Pak Kaji soleh yang terkenal paling soleh di kampung karena kedermawanannya saja tidak pernah mau masuk dapur. “itu tugas perempuan, ” tegas Pak Soleh ketika suatu waktu ditanyai tetangga.

“Mau kemana tho, Kang? Kok ndak kayak biasanya pagi-pagi sudah rapi, pakai wewangian dan batik lagi?”, karena sangat bingung Istri Kang Jan akhirnya memberanikan bertanya pada suaminya.

“Ini lho, Bune, aku janjian sama Siwa dan Guntur untuk lihat grebeg syuro. Ini kan satu syura,” Kang Jan menjelaskan.

“Boleh tho, Bune aku pakai batik ini?” lanjutnya.

“Yo ndak opo to Kang. La wong batik itu saya jahitkan yo buat sampean pakai. Bukan pajangan. Kulo langkung remen yen diagem kaleh Panjenengan,” balas si istri dengan senyum yang dalam. Kang Jan tersenyum simpul penuh kebahagiaan menyaksikan ekspresi instrinya. “Bune, aku tolong dibuatkan kopi yo!” pinta Kang Jan.

******

“Bune, aku berangkat,” suara Kang Jan menyeloroh ke dalam rumah setelah menghabiskan secangkir kopi pahit kesukaannya.

Berkendara sepeda unta tahun 70-an yang dibeli di pasar loak Kang Jan menuju rumah Siwa. Mereka bertiga telah membuat janji pertemuan di rumah Siwa sebelum berangkat ke Grebeg Syuro. Rumah Siwa memang letaknya paling strategis tinimbang milik Kang Jan atau Guntur. Rumah Siwa berada di pinggir jalan beraspal, jadi mudah bagi mereka untuk mencari angkutan menuju lokasi perhelatan.

Sesampai di sana Guntur ternyata sudah terlebih dahulu sampai. Ia sudah duduk-duduk dengan Siwa menghadap sepasang cangkir kopi yang sudah habis lebih dari setengah.

“Hayo, langsung berangkat!” pinta Kang Jan sambil memarkir sepeda di pekarangan Siwa.

“Lho, langsungan tho, Kang?” timpal Guntur.

“Lebih baik kepagian dari pada kelewatan acaranya” balasa Kang Jan.

“Sampean ndak pengen ngopi dulu, Kang? Tambah Siwa.

“Ora, Aku Wis ngopi Mau”, timpal Kang Jansambil berlalu. Siwa dan Guntur beranjak dari kursi bambu menghampiri Kang Jan yang sudah berjalan menuju jalan raya.

******

Pagi ini suasana terasa berbeda. Angkutan Jalur X yang biasanya sepi ternyata berulang kali lewat dalam keadaan penuh.

“walah, ini baru Jam setengah 7 kok sudah penuh semua” Siwa mengeluh.

“Sudahlah, sebentar lagi ada yang kosong. kalau nanti tak ada yang kosong kita naik jurusan lain terus oper bus kota sampai alun-alun” balas Kang Jan. Siwa dan Guntur hanya diam seperti setuju.

Tidak terlalu lama, sebuah angkot jalur X muncul dan masih belum terisi semuanya.Mereka bertiga saling melempar senyum lega. Di dalam angkot ternyata ada beberapa orang yang juga berpakaian rapi. Ada yang memakai batik dan kopiah, ada juga yang berkemeja biasa, tapi semuanya rapi. Kang Jan melempar senyum ke beberapa orang yang telah terlebih dahulu berada di angkot.

Tak lupa kang Jan membaca basmalah saat mau duduk di jok angkot. Bacaan itu menarik perhatian seorang laki-laki yang kira-kira berusia 25 tahun. lelaki itu berjenggot agak panjang. Pakaiannya rapi. Kopiah putih bersih menutup kepalanya yang berambut pendek.

“Mau ke mana, Pak?” tanya pemuda berpakaian rapi itu kepada Kang Jan.

“ini, mau ke grebeg syuro, la adik sendiri mau ke mana?” Kang Jan membalas pertanyaan snag apemuda sambil berbasa-basi.

“Mau ke kampus Pak”, balas pemuda itu. “Memang di grebeg itu ada apa saja, Pak? Kok banyak orang yang berbondong-bondong datang ke acara itu?” tambah si pemuda.

“Ya ada macam-macam, dik. Ada doa bersama. Ada pembagian gunungan. heem, masih banyak lagi. Adik ke sana saja biar tahu kegiatan itu,” kang jan menjawab sedikit diplomatis.

“Saya merasa aneh, Pak. Acara itu diisi dengan doa ala agama Islam, sedangkan dalam agama Islam acara itukan tidak ada sama sekali. Rasul tidak pernah memberikan ajaran tentang itu. Bukankah itu bid’ah, Pak?” tanya si pemuda. Tampaknya pemuda itu berani berbicara soal agama setelah mendengar bacaan bismillah dari lisan Kang Jan saat hendak duduk di angkot.

“Lalu apa yang salah, dik?” Pancing Kang Jan.

“Ya itu, Pak. Sesuatu yang dikerjakan tanpa ada rujukan dari agama itu sendiri, itu yang salah. Setahu saya itu bertentangan dengan syari’at agama. Tapi kenapa orang-orang yang beragama Islam justeru menjadi penyelenggaranya”. Eskpresi pemuda itu sangat serius. Ia seperti sedang berhadapan dengan mangsa yang memang harus ditobatkan.

“Itu gejala menurunnya keislaman kita. Sebuah gejala bahwa banyak muslim tidak mengimani Islam secara Kaffah,” tandas pemuda itu penuh tenaga.

Siwa dan Guntur tak banyak berkutik kalau berhadapan dengan situasi seperti ini. bukan karena mereka bodoh, bukan sama sekali. Siwa dan Guntur keduanya lebih sering mengalah dalam situasi seperti ini. Berbeda dengan Kang Jan yang pasti akan berupaya menyelesaikan obrolan sampai tuntas.

“Islam yang benar itu bagaimana, dik?” tanya kang Jan.

“Ya sederhana, Pak. Islam yang asli dikerjakan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Itu saja kuncinya”. Pemuda itu menjawab dengan sangat mantap.

“Dik,” suara Kang Jan meninggi meski tetap dengan eskpresi wajah yang datar. “Saya ini orang Kafir, jadi jangan terlalu menceramahi saya tentang Islam,” jawab Kang Jan.

Sekonyong-konyong raut wajah pemuda itu berubah. Ia tidak menyangka berbicara terlalu banyak dengan orang yang berlainan keyakinan. Muncul dugaan dalam diri pemuda itu bahwa orang yang diajak bicara bukanlah seseorang yang beragama Islam. Tapi Jawaban Kang Jan belum tuntas ternyata.

“Tapi saya ini bukan musyrik, tambah Kang Jan.

Pemuda itu tampak kebingungan. Ia merasa dihadapkan pada pernyataan yang kontradiktif.

“Bagaimana mungkin Anda merasa sebagi kafir tetapi juga merasa bukan musyrik?” tanya pemuda itu dengan nada bingung.

Siwa dan Guntur keduanya hanya tersenyum menahan tawa. Mereka tahu persis watak Kang Jan dan caranya masuk ke dalam sebuah obrolan serius.

“Saya merasa sebagai kafir karena kerendahan hati saya selalu aja mengajarkan saya menyadari bahwa iman saya belum sempurna, dik. Karena itu saya berusaha selalu menyempurnakannya. Saya punya iman yang tidak sesempurna iman adik yang sudah sempurna. Karena itu saya belum bisa mengaku sebagai Muslim yang baik. Saya takut jika ternyata saya secara tidak disadari adalah orang yang tidak beriman.” balas Kang Jan agak Panjang.

“Bukankah kafir itu berarti ingkar Tuhan?” balas pemuda agak gugup. Ia mulai menyadari bobot ilmu orang yang diajak bicara.

“Tidak semudah itu menjadi kafir dan tidak mudah pula menjadi mukmin kaffah, dik. Kata kafara, asal kata kafir itu diulang-ulang dalam bentuk yang beragam dalam al-Qur’an. Jadi maknanya juga beragam. Kafir itu artinya orang yang ingkar. Ada yang menolak yakin adanya Tuhan dan keesaannya, itu hanya salah satu arti. Tapi arti yang lain bisa saja ada. Sebut saja surah Ibrahim yang menggunakan kata kafara bagi orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Artinya belum tentu ia tidak percaya Tuhan, melainkan hanya tidak memiliki sensitivitas untuk berterima kasih kepada Tuhan soal pemberian yang berlimpah.”

Ekspresi pemuda itu serta-merta berubah. Ia baru sadar berhadapan dengan orang yang cukup memahami agama.

“Terus Pak? tanya si pemuda dengan gugup.

“Kekafiran yang paling saya takuti itu ada satu, dik. balas Kang Jan.

“Apa itu, Pak?”

“Kekafiran karena saya mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran soal siapa yang salah dan benar. Apalagi hal tersebut hanya seputar soal furu’iyyah atau sesuatu yang spesifik. Mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran sama halnya menyamakan diri dengan Tuhan yang berkuasa atas kebenaran. Saya takut jika itu terjadi pada saya, maka saya tidak hanya menjadi kafir tapi juga sekaliguis menjadi seorang musyrik yang menjadikan diri sendiri sebagai berhalanya.”

Kang Jan sangat serius menjawab hal tersebut, tampak matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis. Memang ini hal berat untuk diungkapkan kepada khalayak, tapi kali ini Kang Jan merasa perlu.

“Soal grebeg itu furu’iyyah, dik. Itu tak perlu dipermasalahkan dengan kekentalan akidah yang sampai pada menyalahkan. ini cara orang jawa mensyukuri nikmat Tuhan. Gunungan itu hanya simbol keberlimpahan pangan yang harus disebarluaskan dan diratakan. Bukan hura-hura. Karena itu ada do’a supaya orang-orang menyadari bahwa semua itu datangny dari Tuhan. Apakah salah jika orang memilih sebuah cara bersyukur yang paling sesuai dengan kebudayaannya?”

Pemuda itu tercengang seperti sulit untuk menjawab. Tiba-tiba suara Siwa memecah suasana.

“Kang, Ayo. Sudah sampai ini,” Siwa memberitahukan Kang Jan yang tampak masih asyiok memperhatikan raut muka sanga pemuda. Ditepuknya lengan pemuda itu dengan senyum, sambil berpamitan untuk turun duluan. Tak lupa, Kang Jan melafalkan Bismillah saat beranjak dari jok angkutan kumuh itu.

Sang pemuda tetap terdiam.

Yogyakarta, 2 Januari 2008.

Saya tidak begitu mengerti batasan antara sesuatu yang publik dan pribadi sekarang. Banyak hal yang bersifat pribadi akhirnya menjadi publik, sebut saja kegiatan seksualitas yang menjadi konsumsi publik dalam bentuk pornografi. Sebaliknya, banyak ruang atau persoalan publik menjadi pribadi atau setidaknya dikuasi oleh kelompok-kelompok tertutup tertentu. Dalam konteks penguasaan sesuatu yang bersifat publik menjadi milik kelompok, saya lebih ingin menyebutnya sebagai upaya privatisasi atau menjadikannya dimiliki secara pribadi –kelompok.

Belum lama ini saya memiliki pengalaman yang sungguh tidak mengenakkan berkenaan dengan hubungan antara makna publik dan pribadi. Pada tanggal 29 Desember, di bawah terik matahari, saya bersama beberapa orang kawan dari Jlepret Art/Sanggar Nuun melakukan pengambilan gambar adegan yang rencananya akan dijadikan sebuah film. Untuk salah satu fragmen dalam film, sesuai dengan keputusan sutradara, pengambilan gambar harus dilakukan di depan Mall Ambarukmo Plaza.

Pengambilan gambar ini mulanya berjalan lancar. Beberapa kebutuhan cadangan gambar sudah kami penuhi. Tapi pada saat memulai mangambil adegan aktor yang sedang duduk di pinggir trotoar, sekonyong-konyong seorang petugas Satuan Pengaman (Satpam) mendekati kami. Satpam satu ini cukup ramah, jadi tidak terlampau mengganggu. Ia menanyakan apa yang kami lakukan di trotoar Mall itu. Kami menjelaskan lugas bahwa kami sedang melakukan pengambilan gambar untuk pembuatan film. Satpam ini kami beritahu bahwa gambar mall tidak akan kami masukkan dalam bagian sinema. Satpam itu beralih dan kami dapat melanjutkan.

Tidak lama setelah itu, seorang satpam tiba-tiba dari arah timur menghampiri kami. Satpam ini berbeda dengan rekannya yang tadi. Nadanya agak tinggi. Ia tidak menunggu pengambnilan gambar satu adegan 3 aktor yang sedang duduk dan berbincang selesai, tapi langsung mendekati dan menegur salah satu kameramen. saya terus terang agak terganggu dengan lagak dan gaya satpam ini. Ia menanyakan surat izin dan menyatakan bahwa tidak boleh melakukan pengambilan gambar di depan Mall. Saya tidak bisa berdiam diri karena ini menyangkut hak penggunaan trotoar sebagai fasilitas umum yang kebetulan berada di depan Ambarukmo Plaza. Saya sempat meneriaki satpam itu: “apa sudah dibeli trotoar umum ini sama Mall?”. Nada saya tinggi, menyengaja menunjukkan ketidaksukaan atas pernyataan satpam itu. Saya bersikeras menyatakan bahwa lahan yang dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar adalah trotoar yang boleh dipakai oleh siapapun, selama tidak melanggar etika dan hukum.

Saya terinspirasi oleh salah satu sekuel dalam novel Anak Semua Bangsa Karya Pramodya di bagian awalnya –kalau tidak salah halaman 3. Ibu Anelis mengajarkan bahwa sebongkah batu, jika itu memang hak, harus dipertahankan. Bukan karena harga batu itu, tapi karena asas kebenaran. Membiarkan orang mengambil batu yang tidak berharga, sama halnya dengan membiarkan orang berbuat jahat. Membiarkan orang berbuat jahat sama saja membiarkan kejahatan terus berkembang dari bentuk yang kecil. Itu bertentangan dengan asas kebenaran.

Satpam itu agak terkejut mendengar teriakan saya. Dia agak tercengang dengan pertanyaan saya yang –saya rasa– cukup fundamen ini. Lalu dia menganulir pernyataannya dengan menyatakan bahwa ia tidak tahu soal boleh atau tidaknya pengambilan gambar di depan Mall. Saya sempat mendekatinya. Tapi segera ia beranjak.

Kejadian tadi sungguh membuat saya perihatin. Untuk soal torotar saja, ada upaya untuk mengkonversinya menjadi lahan tertutup yang digunakan sesuai dengan kehendak pengendali ekonomi bernama Mall. Ini bukan satu-satunya, coba saja kita mengamati kota Yogya, berapa banyak trotoar yang dikonversi menjadi lahan parkir karena para pengusaha tidak dibebani kewajiban menyediakan lahan parkir. Predestrian adalah korbannya. Ini sungguh tidak adil. Terlebih sikap pemerintah terhadap pemilik toko besar dan pedagang kaki lima yang berdagang di trotoar pun berbeda. soal ini saya punya pengalaman lainnya.

Selepas mengikuti aksi Penolakan UU Pornografi, bersama seorang kawan, saya duduk sejenak di dekat pasar Beringharjo. Di sekitar kami banya pedagang Kai lima yang mengais hidup. Ada tukang minuman, ibu-ibu bakul sate madura, penjual mainan, dll. Saya duduk menikmati suasana sore dan jajanan tradisonal. Tiba-tiba, para pedagang menjadi panik. Beberapa bakul sate madura yang sedang membakar sate pesanan bergegas beranjak. Saya bertanya-tanya dalam hati soal sebab yang membuat mereka seperti tidak tenang secara tiba-tiba dan serentak. sebabnya terlacak, tak jauh dari tempat itu tampak beberapa orang Satpol PP turun dari kendaraan. Kejadian itu sungguh menggelisahkan saya.

Banyak pertanyaan muncul di kepala. Apakah alasan para pedagang kecil ini harus dilarang berjualan di tempat umum seperti ini? Saya berpikir bukankah di di sepanjang jalan malioboro terdapat ribuan motor yang di parkir di trotoar jalan dan itu jelas mengganggu pemandangan, ketertiban, dan hak pejalan kaki. Tapi mengapa mereka tidak ditertibkan? Mengapa Mall dan toko-toko dengan omset jutaan perhari itu tidak diminta bantingan membuat parkir terpadu agar keindahan, ketertiban dan hak pengguna jalan tidak terganggu? Apakah karena para bakul sate, pedagang minuman dan mainan adalah pedagang kecil dengan omset rendah yang tidak potensial secara ekonomi, lantas boleh digusur secara bebas?

Ini bukan soal keindahan lagi, juga bukan soal ketertiban saja. Tapi ini menyangkut keadilan. Apakah keadilan boleh tunduk pada ekonomi, kekuatan modal, atau peraturan yang tidak adil? Tidak, keadilan tidak boleh tunduk pada semua itu.

Para pedagang besar dengan kekuatan modal dan perlindungan payung hukum tertentu, secara tidak langsung sering melakukan privatisasi perangkat-perangkat publik. Hal ini jarang dipersoalkan karena logika ekonomi yang bertengger di kepala birokrat. Sementara para pedagang kecil, dengan segala kelemahan mereka, harus mengalah dianggap sebagi sampah dan harus disingkirkan dari ruang publik. sungguh ironis.

Kejadian-kejadian yang menimpa saya dan saya ketemukan ini baru soal yang kecil. Masih ada soal Migas, Pendidikan, Air, dll yang terus menerus dipaksa masuk dalam penjara privitisasi. Bagaimana mungkin sebuah negara yang terus mengekploitasi minyak, memiliki tambang mineral lain yang beragam, hutan yang cukup luas dan tanah yang subur untuk pertanian, didiami jutaan masyarakat miskin dengan segala sesuatu tidak pernah terjamin? Wajarkah jika masyarakat Papua yang di tanah mereka telah diangkat jutaan ton emas tetap menjadi miskin dan terbelakang? Wajarkah masyarakat di tanah Bangka dan Belitung sulit mengenyam pendidikan sementara dari tanah mereka terus diambil pelbagai mineral berharga mahal?

Ironi-ironi ini akan terus kita temukan selama privatisasi terus berkembang dan dilegalkan oleh penguasa. Ironi ini akan terus berkembang selama para aktor politik yang selalu berbohong kepada masyarakat tidak mau jujur soal hasil pengolahan bumi nusantara yang kaya ini. Ironi ini akan terus bercokol selama masyarakat tidak pernah mau bersama-sama menyadari dan bergerak. Ironi ini akan terus bertahan selama kita tidak mengerti arti keadilan.

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini ada di tangan kita bersama. Tuhan tidak ikut campur untuk soal ini.

Arthur Bersama translator