Skip navigation

Category Archives: Catatan perjalanan

Papua, yang sebelumnya dikenal dengan nama Irian Jaya, adalah propinsi paling timur di Indonesia. Tanah Cendrawasih itulah gelar yang lekat dengan propinsi tertimur ini. Papua tidak hanya kaya akan sumberdaya alam, tetapi juga kaya akan keragaman budaya, agama dan sumberdaya manusia. Tak kurang dari 250 suku asli Papua mendiami pulau yang kaya akan emas ini. Pemeluk agama di Propinsi tertimur ini cuku beragamam. Katolik, Kristen, Islam ketiganya adalah agama mayoritas di pulau ini. Selain itu beberapa suku juga masih memeluk agama asli, seperti Suku Marind yang masih juga melaksanakan ritual agama adat Marind. Read More »

Iklan

Dengan lebar geografis yang tidak terlalu luas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit, desa di beberapa propinsi sangat mungkin menjadi titik mula proses demokratisasi. Sebagai bagian terkecil dari adminitrasi pemerintahan formal desa sangat mungkin menjadi pendorong proses demokratisasi akar rumput. Ide ini bermula dari yang sederhana yaitu partisipasi penduduk desa dalam rencana pembangunan desa.

Setiap desa, seperti layaknya perangkat pemerintahan lainnya, tentu memiliki kebijakan yang terkait dengan publik atau masyarakat desa sebagai penerima layanan. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat secara luas mendapat kesempatan mengetahuai pola pelaksanaan kebijakan? Sejauh manakah kebijakan desa yang terkait hajat hidup orang banyak dapat diakses secara terbuka oleh publik?

Desa saat ini tentu berbeda dengan desa pada era orde baru. Di zaman Soeharto desa merupakan salah satu perangkat pengawasan negara atas masyarakat. Jadi wajar kalau ada orang yang mengisi pengajian juga harus diketahuai oleh aparat desa. Di era yang konon reformasi ini seharusnya pengelolaan desa sudah berganti corak dan cara berpikir (paradigma). Desa bukan lagi dikerjakan oleh negara untuk masyarakat, tetapi bermula dari masyarakat untuk masyarakat dan negara. Dengan cara berpikir ini, desa akan dikembalikan sebagai kekuasaan masyarakat yang dikontrol secar kuat oleh masyarakkat.

Beberapa waktu ini sering terdengar di beberap daerah peristiwa kecurangan penentuan peneriama BIaya Langsung Tunai (BLT) yang dibuat oleh perangkat desa, mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya singkat, hal  ini hanya akan terjadi disebuah desa yang masyarakat memiliki kontrol yang lemah atas kinerja aparat desa. Sebaliknya, aparat desa pun adalah orang yang ikut bersalah membiarkan masyarakat kehilangan kntrol atas kinerja mereka.

Dengan konsep demokratisasi desa, penduduk pedesaan akan lebih berpeluang untuk berperan mengawasi atau ikut secara aktif terlibat kegiatan-kegiatan desa yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sudah saatnya masyarakat desa yang sering diidentikkan sebagai orang tidak terdidik memberikan diri memperjuangkan hajat hidup dan kepentingan mereka. Hal ini dapat dilakukan pada beberapa aspek, seperi: (1), aturan pengelolaan pelayanan publik di desa, (2) aturan dan model pengelolaan kas dan keuangan desa, dan (3) sistem pembangunan dan rencana pembangunan desa.

Dengan keterlibatan aktif penduduk desa soal ketiga elemen tadi, maka pembangunan desa akan senantiasa memiliki orientasi lokal. lebih tepatnya pembangunan akan lebih didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang dirasa benar-benar diutuhkan oleh masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif dalam ketiga hal tersebut, desa akan hanya menjadi sebuah model pemerintahan yaang tidak jauh berbeda dengan berbagai struktur pemerintahan lainnya. Desa harus memberanikan diri untuk tampil beda, bahkan di hadapan organisasi pemerintahan lainnya yang kerap mempraktekkan demorasi semu.

Selamat berjuang dari pedesaan.

Mantera pengobat dukaDiriku
Tolong, beri aku satu kalimat, agar hidup kembali. Kematian sejenak ini sungguh menyakitkan. Agar duka tak menjadi dewa, berilah aku mantera.

Jawaban kawan-kawan:

Udin
Hidup itu terkadang
mengulang masa lalu
meski kadang enggan
tapi jalan samar

Kang Udi
Siapapun Anda, karena –maaf- nmr anda belum ksimpan di phone bookku, katakanlah: Bismillah mawar, bismillah luka, bismillah duri, bismillah sunyi, luka mawar durisunyi. Bismillahi majreha wa mursaha.. –nmr siapa neh-

Gusdur
Aku bukanlah aku tanpa mereka

Hilya Auliya (lia)
><)))));> q kirim ikan untukmu ut teman ngobrol, tapi hp harus dimaskkan dalam ember yang ada airnya biar ikannya nda mati ya.. ngobrol yang akrab ya.. hahaha

Apakah dukamu sudah mendewa? Ngobrol sama ikane sampe mana?eit, dilarang murka, klo’ yang bernama duka tdk mndewa dlm dirimu.

Lho,kok skrng di pohon, udah malam Gus, mbok turun tho..

Romo Eko
Inilah seninya hidup yang penuh perjuangan dan kebahagiaan. Hidup itu bangkit dari kematian. Bersyukurlah  telah mengalami kematian karena awal kehidupan.

Zahrudin
Jangan tanya saya, bang
Tanya saja sama yang buat kematian

Kumalasari
Ada apa gerangan mas ibad? Pa yang bs kubantu tuk nambahi energi hidupmu?

Farid
Keliatannya sampean berkali2 mati tp ko’ msh ttp bs hidup, kemrin dah prnh mati, skarng mati lg. wah smpyan brrti termsk orang yg gak umum..

Adrozen
Hidup segan mati tak mau? Pengecut!

Mustain
Jangan sedih terus

Siwa
Skt dan kmatian lbh dkt dngn keabadian. Tngoklah sbntar keabadian tuk mrajut cermin retak khdupan. Alluhummajma’na jam’an marhuman. Amin

Fahsin M Faal

Ibad, mestinya kau tahu, segenap kekalahan dan kelemahanku, sehingga yang kulantunkan adalah nada keperihan. Maka tak pantas ku nasihatkan pada labirin gelapmu. Kuyakin engkau punya suluh yang kan mengantarkan pada terang dan warna-warna.  Bukankah alam mengajarkan kita tentang harmoni?..

Kang Zaenul Azvar

Kemarilah. Kan kutampar kau seratus kali, agar kau tahu  bahwa hidupmu bisa bermanfaat seratus kali lipat dari sekarang!

Yogyakarta, empat Mei 2008

 

Malam agak pekat. Jarum jam menunjuk angka 12. Tepat tengah malam. Entah lapar atau sekedar nafsu jajan yang menuntun saya mendekati gerobak roti bakar yang hampir tutup. Pedagangnya mulai berkemas pulang. Ketika menlihat saya berhenti, sejenak ia menunda keinginan berkemas, tampaknya. “Masih kok mas” selorohnya.
Saya memesan sepotong roti isi coklat kacang kegemaran saya. Sambil menunggu, sebatang saya duduk di belakang penjual roti yang kira-kira berusia 31 tahun itu. Saat membesarkan nyala api kompor, satu hal menarik perhatian saya. Kompor minyak tanah. Ya, kompor yang hampir musnah dilikuidasi oleh kebijkan konvesri minyak ke gas yang diterapkan pemerintah. Dari pada diam saya mencoba mengajak bicara pedagang yang mulai asyik memoles roti.
Read More »

Orang bicara cinta

Atas nama Tuhannya

Sambil menyiksa

Membunuh berdasarkan keyakinan mereka[1]

(Iwan Fals, Cinta dinyanyikan dalam album Kentata Revolvere)

Beberapa waktu setelah dikejutkan rentetan aksi terorisme yang menelan ribuan korban, kita dibuat begitu merasa keheranan dengan sikap para pelaku yang tidak mengisyaratkan sedikitpun bentuk penyesalan. Katanya, mereka telah melakukan sebuah tuntunan agama untuk membela kepentingannya. Sesuatu yang harus dijawab kemudian, benarkah agama memberi jalan untuk kebenaran yang menelan korban? Benarkah kebenaran harus selalu menelan korban? Read More »

Genap satu tahun Kang Zaenal Afin Thoha menemui sang Khalik. Genap satu tahun pula sekian banyak orang dari berbagai latar belakang berbeda kehilangan satu tokoh penting yang cukup menjadi panutan. Kalangan pesantren, santri, penulis dan penyair mungkin adalah beberapa kelompok yang paling merasakan kehilangan atas keberangkatan Kang Zaenal menemui sang Khalik. Tapi saya yakin masih masih lebih banyak yang merasakan kehilangan beliau tinimbang jumlah yang diperkirakan dengan kategori sederhana tersebut. Read More »