Skip navigation

Category Archives: cerpen

Kutahu namanya sebelum gempa merusak hampir setengah kotaku. Tapi setelah kejadian itu ia menjadi semakin terkenal. Seperti goncangan gempa yang sekejap menghapus rumah-rumah dari peta satelit, seperti itu ia menjadi sangat terkenal. Para penduduk kampung tempat ia tinggal dan kampung sekitarnya sangat mengidolakan lelaki berusia 40 tahunan itu.


Pertama kali aku bertemu dengannya ketika ia menjadi penceramah di malam penutupan pelatihan organisasiku di kampus. Saat itu ratusan mata perserta pelatihan dan penduduk tempat kegiatan tertuju padanya. Tak terkecuali aku. Ia tampil sangat atraktif sambil membawakan pesan-pesan agama. Bagiku, mungkin juga bagi sebagian penduduk ini adalah gaya baru pengajian. Penceramah tidak hanya duduk menghadap buku “contekan” materi pengajian, lebih dari itu, ia mampu berakting cukup baik. Read More »