Skip navigation

Category Archives: Sajak

Jakarta

senja

selalu duka.

Jakarta, 10 Januari 2008

Solitude

sepotong es kuletakkan di atas mimpi

menggumpalkan tidurku. Sebelum ada yang datang

mengetuk pintu kamarku. Sekedar berkata

teruskan tidurmu!

Ekstase Rindu

kau seperti menjelma udara, menghilang dari peta, menelisip dalam keghaiban yang mengelilingi

ingatanku pada sebuah pagi; bergelayut di sulur waktu; menanggalkan gerimis;

membiarkan doa-doa basi sebelum sampai di pintu langit yang tertutup

bisakah kau berhenti sejenak memberiku misteri, mencipta tekateki:

pada malamku yang selalu kau datangi, membawa mimpi dan api; serupa yang kini menjadi puisi

hanya kau dalam terkaan yang kujaga dalam sepi berantakan

tersapu angin cahaya matamu, matahari kepalaku.

karena kau tak pernah lepas dari kepalaku

biarkan kukenang dirimu dengan cara yang selalu baru: menyulap batu

menatah tiruanmu, untuk menjaga rindu;

agar dalam sendiri

aku dapat kembali mengira-ngira warna matamu

di manakah muara tiupan angin yang membawa wangimu?

serupa Yunus dalam perut nuun:

aku menebak daratan

mengandai bibir-bibir pantai

meminta segala sesuatu untuk mendengar: menjawab doa doa

dari kegelapan

amis kesunyian

 

img_5042.jpgDi Pasar Senen

 

Rayu pengemis cilik anclap menusuk jantung

matanya setajam tombak

menembus mataku

 

Pada sepasang tahi lalat di tengah bola mata, ada seekor elang

seperti berkelebat mengintip dari balik awan gelap

cakarnya mengerikan

menghunus ketajaman yang siap memangsa:

menunjuk mukaku

meninggalakan sayatan di pipi sebelah kanan

 

 

di mata itu pula ada pekuburan yang dipenuhi kupu-kupu

ada jerapah di sana

ada kelinci

ada seekor marmut berwarna hitam manis

sebuah dunia mini:

seorang anak

yang tak pernah menjadi kanak-kanak

 

Ia masih di sandingku

merayu untuk beberepa keping receh

menatap dalam mataku

melempar aku ke dalam neraka

: keterasingan sebagai manusia

 

Pasar Senen, 2 Januari 2008

PERJALANAN KERETA

 

Di lorong kereta ekonomi yang sepi

keramaian adalah kemelaratan

pedagang asongan dan pengemis yang hilir mudik

 

Kesepian kian pekat

kala masa lalu

bertamu membawa lanskap lawas

dulu yang mengendap

di dasar secangkir kopi

seharga 2000 perak

 

Kopi adalah penjaga kenangan

dari kejadian yang sangat mudah dilupakan

: rasa pahitnya

yang mengundang ketagihan

 

di sepanjang rel perjalanan ini wajahmu tertatah

duduk manis di samping pengemis yang terjangkit kusta

para pedagang dan tiupan peluit

memanggil-manggil aku untuk kembali

mengulang setiap detik awan yang memerah

membaca dirimu

mengulang perjalanan dalam kereta

seperti menghirup kopi pahit

 

 

                                    img_5057.jpgimg_5057.jpgJogja-Jakarta, 28 Januari 2008

Epilogue

 

Kukumpulkan rindu yang mengeram

seperti gurat akar pohon menunjam

bumi basah mimpi-mimpi yang limbung

 

sehelai rambutmu menempel di pakaian malamku

azimat masa lalu yang buncah

karena gairah pada tubuh tak bersentuh

 

lalu tubuhmu gerimis

setelah erang bersahutan

dan hujan

di luar jendela

 

kau rapikan tubuhmu yang rusuh

ingatkanku memakai baju

 

bisikmu menempel telinga

Bangunlah, kita cuma mimpi!”

Rindu #1

Sepanjang Jogja menuju Tempel aku tersesat

roda bus menuntunku pada suatu tempat

kau tidak di sana, memecah waktu sendiri

mungkin menggulung ujung baju

mengumpulkan geram yang ketika aku datang

pecah. Ini petanda rindu yang masih kau genggam

dalam saku celana, atau lipatan baju

yang setiap kali menemuiku akan kau gunakan

menarik kenangan dari mataku

untuk disimpan kembali

untuk esok

untuk suatu saat,

kau dan aku telah bersiap mengatakan

selain merindu, cinta tak bisa bersitatap.

 

Yogya, 15 Mei 2005